DeRa LoVe

DeRa LoVe
Tamu Tak Terduga


__ADS_3

"Risa?"


Dev menoleh sekilas kepada adik iparnya. Begitu juga Alex yang bingung dengan kehadiran perempuan yang tidak dia kenali.


"Hai lama tak bertemu. Kamu apa kabar?" Risa menyapa Dev dengan tersenyum semanis mungkin.


"Baik. Kamu ngapain di sini?" tanya Dev tanpa menghilangkan rasa terkejutnya karena kemunculan Risa tiba-tiba.


"Kantor ngadain acara keakraban di sini. Oh iya, aku mau ngucapin makasih karena sudah kasih rekomendasi kerja. Aku senang bisa kerja di sana. Walaupun sebenarnya aku lebih senang kerja di–"


"Risa, maaf aku harus pergi. Anak dan istriku sudah menunggu. Lex, ayo!" Dev mengajak Alex untuk pergi secepatnya dari sana.


Dev tahu kemana arah pembicaraan Risa tadi. Dev tidak ingin ada salah paham lagi. Apalagi ada Alex di dekatnya.


Sepanjang perjalanan pulang pikiran Dev jadi kacau. Dev tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Sera atau mommynya tahu.


Alex yang mengikuti Dev di belakang merasa ada yang tidak beres dengan kakak iparnya itu. Namun Alex tidak berani menanyakannya langsung.


Sementara itu Risa menatap kepergian Dev dengan kesal. Dia tidak menyangka jika Dev begitu cepat berubah.


"Semua ini gara-gara wanita itu!" rutuk Risa dalam hatinya.


Risa sudah mengetahui siapa Sera sebenarnya. Awalnya dia masih tidak percaya jika Sera adalah putri sulung seorang desainer terkenal.


Namun setelah mencari tahu secara detail siapa kedua orangtua Sera, membuat Risa sadar siapa dirinya di mata Dev. Namun kesadaran itu hanya sesaat, kala dia mengingat kembali rasa cintanya kepada Dev.


Risa kembali melupakan siapa dirinya, dari mana asalnya. Keinginannya untuk mendekati Dev kembali menjadi bertambah, ketika mengetahui Dev berada di tempat yang sama.


"Aku harus bisa kembali dekat dengan Dev," tekad Risa tanpa memikirkan resiko apa yang akan dia hadapi ke depannya nanti.


***


Dev memarkirkan sepedanya dengan rapi. Begitu juga dengan Alex. Dev membawa satu plastik penuh buah strawberry untuk istrinya.


"Kak!"


Langkah Dev terhenti saat Alex memanggil namanya. Dev menoleh ke belakang dan berbalik kembali. Hingga kini dia saling berhadapan dengan adik iparnya itu.


"Siapa perempuan tadi?" tanya Alex penuh selidik.


Dev diam. Dia ragu apa harus menjawab jujur atau bohong pada Alex.


"Kenapa kakak diam? Alex gak mau kak Sera sakit hati."


Alex menyadari ada yang salah dengan Dev. Saat berangkat dan pulang tadi, sikap Dev sangat berbeda. Tentunya, Alex tidak akan membiarkan kakaknya tersakiti.


"Itu gak akan terjadi. Kakak sangat mencintai Sera. Kakak lebih memilih keluarga kakak dibanding yang lain,"


"Alex harap kakak tidak berbohong. Alex gak akan tinggal diam jika sesuatu terjadi sama kak Sera."


"Jadi, bisa Alex tahu siapa perempuan itu?" tanya Alex kembali.


Dev menghela nafasnya. Sepertinya dia memang harus jujur pada Alex. Setidaknya itu akan mengurangi beban pikirannya. Siapa tahu Alex bisa membantunya untuk menjauhkan Risa dari keluarganya.


"Perempuan itu namanya Risa. Dia pernah menjadi karyawan kakak di Cafe. Sesuatu terjadi antar dia dan Sera. Yang berakhir dengan kakak memecatnya," ujar Dev menjelaskan.


"Apa dia menyukai kakak?" tanya Alex tepat sasaran.

__ADS_1


"Hem," sahut Dev singkat.


"Oke. Alex paham. Jangan ragu untuk meminta bantuan Alex nanti. Alex duluan kak," ucap Alex kemudian meninggalkan Dev sendirian di sana.


Dev mengusap kasar wajahnya. Dev mengikuti langkah Alex memasuki Vila.


"Yeeee..Daddy pulang!" seru Sera sambil menggendong Ken.


Dev tersenyum melihat wajah Ken. Dev menggendong Ken ketika kedua tangan mungil itu minta bersama daddynya.


"Wanginya jagoan Daddy," Dev mencium harum wangi Ken.


"Oh iya, itu buah strawberry. Aku sama Alex tadi belinya," Dev menunjuk satu kantong plastik berisikan buah strawberry tadi.


"Wah, besar sekali!" mata Sera berbinar melihat ukuran buah Strawberry yang besar.


Warnanya juga sangat cantik. Sera mengecup pipi Dev sambil tersenyum.


"Makasih ya," ucap Sera senang.


"Cuci dulu buahnya, Yang.." ujar Dev saat istrinya ingin langsung memakannya.


"Hehehe..habisnya menggoda banget," ucap Sera dengan malu-malu.


"Sama kayak kamu juga menggoda aku tiap malam," bisik Dev sambil terkekeh.


"Iisshh..kamu ini," Sera mencibir suaminya.


Jane mencepol asal rambutnya ketika menuruni tangga dan mendatangi cucu tampannya.


Rasanya Bella tidak sabar menunggu kepulangan Ken ke Manila. Sampai-sampai Bella ingin menyusul ke Indonesia. Namun urung, karena Eric melarangnya.


"Kalo kamu pergi, kamu mau aku pegang bola bisbol orang lain?" ujar Eric sengaja agar istrinya batal pergi.


"Awas aja kalo berani! Aku patahin tangan kamu," Bella mendengus kesal.


Eric tertawa bahagia mendengar ucapan istrinya. Setidaknya ancaman itu berhasil mengurungkan niat istrinya pergi jauh.


***


Sera berdiri menikmati pemandangan malam dari balkon kamarnya. Dingin itu sudah pasti.


Dev menyelimuti istrinya dengan dekapan hangatnya dari belakang.


"Kalo dingin kenapa masih di sini?" Dev berkata lembut lalu ikut melihat langit malam tanpa adanya cahaya bintang.


"Aku ingat rumah. Suasana di sini persis seperti di rumah. Aku kangen Mama sama Papa," ucap Sera pelan.


Dev menumpukkan Dagunya di bahu istrinya sambil mengecup pipi Sera berulang kali.


"Gak lama lagi kita balik Ke Manila. Aku juga kangen sama mereka," balas Dev sembari mengeratkan pelukannya.


Sera berbalik sehingga bisa menatap wajah tampan suaminya. Dev menyelipkan rambut Sera ke belakang telinga. Tangan Dev mengusap lembut wajah istrinya dan membenamkan kecupan lembut di kening Sera.


"Aku gak nyangka pertukaran pelajar kala itu malah membuatku jatuh cinta sama kamu," Dev menatap lekat wajah istrinya.


"Aku juga gak nyangka ternyata kita sudah punya anak di usia kita yang sekarang," lanjut Dev kembali.

__ADS_1


"Kamu nyesal?" tanya Sera membalas tatapan suaminya.


Dev menganggukkan kepalanya. Seketika Sera melepaskan pelukannya. Namun Dev kembali menarik Sera kedalam pelukannya. Dev terkekeh lalu mengeratkan kembali pelukannya.


"Aku nyesal kalo sampai gak nikahin kamu. Karena ternyata menikahi kamu adalah kebahagiaan buatku."


Sera mendengus mendengar gombalan suaminya itu.


"Gombal!"


"Aku serius, Yang.."


"Ya..ya..aku tahu. Aku tahu kalo suamiku ini jago banget ngegombalnya," Sera mencubit gemas pipi suaminya.


Dev membalas dengan menciumi seluruh wajah Sera. Suara cekikikan geli dari keduanya membuat Ken merengek dari dalam kamar.


"Ken bangun," ujar Sera setengah berbisik kepada suaminya.


Dev melepaskan pelukannya dan berjalan mendekati ranjang, di mana Ken berada. Dev mengusap-usap kepala Ken sembari memberikan susu botol untuk Ken.


Ken meminumnya dengan rakus meski matanya terpejam.


Dev menarik Sera agar duduk dipangkuannya dan memeluk dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya mengusap kepala Ken, hingga Ken tertidur kembali.


***


Suasana pagi begitu terasa sejuk. Bunyi kicau burung bersahutan terdengar merdu sampai ke kamar Dev. Pasangan suami istri itu enggan untuk bangun dari peraduannya.


Sera semakin merapatkan dirinya dalam pelukan sang suami. Dev juga tidak ingin melepaskan pelukannya.


Si bayi gembul Ken, seolah tidak ingin menganggu kemesraan kedua orangtuanya juga masih menikmati tidur nyenyak.


Sementara di bawah, Jane sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Suara bel pintu membuat Jane menghentikan kegiatannya. Suaminya masih berada di kamar. Mau tidak mau dia yang akan membuka pintu.


Sementara penjaga Vila juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Jane berjalan dengan sedikit tergesa lalu membuka pintu. Alis Jane bertautan karena kedatangan seorang gadis yang tidak dia kenali. Jane bisa menebak kalau gadis di depannya ini seusia dengan putranya.


"Ya, ada apa?" tanya Jane ingin tahu tujuan gadis ini datang pagi-pagi ke vilanya.


"Pagi tante. Aku hanya ingin memberikan ini saja."


Jane menerima satu wadah berukuran sedang bolu gulung, yang masih hangat.


"Terima kasih sampai repot-repot mengantarkannya," ujar Jane sambil tersenyum.


"Ayo masuk! Biar bisa sarapan bareng kami," ajak Jane dengan ramah.


"Terima kasih tante," ucapnya dan mengikuti langkah kaki Jane masuk ke dalam.


Senyum penuh arti tersemat di wajah kala Jane mengajaknya masuk dan sarapan bersama.


"Nama kamu siapa?" tanya Jane ketika mempersilahkannya duduk.


"Risa, tante."

__ADS_1


__ADS_2