
Tangan Risa mengawang di udara karena tangan Jane yang lebih dulu menyambar wajahnya. Rasa panas dan perih Risa rasakan di pipi kirinya.
Niat hati ingin mengambil hati Jane, justru malah sebaliknya. Risa menatap Sera dengan penuh kebencian.
Sembari mengusap pipi mulusnya yang memerah akibat tamparan Jane, Risa mengalihkan tatapannya kepada Dev dengan tatapan sendu. Namun sayangnya, Dev tidak peduli.
Dev berdiri membelakangi Sera dan Ken. Dev tentu saja berjaga, takut-takut Risa ingin menyerang istrinya lagi.
David merangkul istrinya dan menariknya mundur. David sangat terkejut dengan apa yang istrinya perbuat tadi. Selama hidup bersama istrinya, untuk pertama kalinya David melihat Jane menampar seseorang.
Jika hanya kemarahan Jane, itu sudah biasa baginya. Tetapi menampar seseorang, itu sama sekali tidak pernah terjadi sebelumnya.
David bisa merasakan tubuh Jane yang bergetar karena kemarahannya. Karena itu David mengusap-usap lembut bahu istrinya agar bisa lebih tenang.
"Kenapa tante menampar Risa?" tanya Risa dengan air matanya yang jatuh.
"KENAPA? KAMU TANYA KENAPA?" Jane menatap tajam Risa tanpa ampun.
Risa terkejut dengan suara nyaring Jane di depannya. Jujur Risa merasa takut, berada di tengah keluarga Dev. Apalagi dirinya hanya sendirian saja.
Dia rela bangun pagi-pagi hanya untuk bisa bertemu Jane lagi. Sekaligus bertemu Dev juga. Namun sayang, kenyataannya jauh dari apa yang diharapkannya.
"Kamu perempuan kan? Kamu sadar bukan dengan apa yang kamu lakukan? DEV ITU SUDAH PUNYA ISTRI DAN ANAK!!" Jane menekankan setiap kata bahwa putranya sudah punya keluarga.
Bibir Risa kelu tak mampu berkata-kata. Dirinya hanya bisa menunduk sambil menahan air matanya agar tidak kembali tumpah.
Alex yang sadar akan situasi yang tidak kondusif, beranjak dari sana dengan sengaja menabrak bahu Risa. Hampir saja Risa oleng, namun Risa masih mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
Geram tertahan. Itulah yang Risa rasakan saat Alex menabrak bahunya dengan sengaja. Alex tersenyum mengejek ke arah dirinya.
Alex membawa Ken masuk ke dalam bersamanya. Alex tidak ingin Ken menyaksikan kekacauan itu. Lebih baik dia bermain bersama Ken di dalam kamarnya.
"Sayang, sudahlah.."
David membujuk istrinya agar menyudahi keributan. Beruntung sedang hujan, jadi tidak ada warga yang harus singgah untuk menonton kejadian ini.
Itu karena warga malas untuk keluar rumah.
__ADS_1
"Apa sih?" Jane menepis tangan David dari bahunya.
"Kamu mau cucu kita menderita karena perempuan ini? Kamu mau rumah tangga Dev berantakan karena perempuan ini? Mau?" tanya Jane kepada suaminya dengan kilatan emosi di matanya, sambil telunjuknya menunjuk Risa.
David diam. Bukan tak berani menyahut, tetapi memilih diam adalah cara teraman. Dari pada mendapat ancaman tidak ada jatah dari istri. Itu akan sangat menyiksa bagi David. Sungguh dirinya tidak akan mau mengalami penderitaan itu.
Tidak ada jawaban dari suaminya, perhatian Jane kini kembali kepada Risa. Perempuan yang ingin merusak pernikahan putranya.
"Lebih baik kamu pergi sekarang. Selagi aku masih baik, sebaiknya kamu turuti kata-kataku," Jane mengibaskan tangannya mengusir Risa dari hadapannya.
"Tapi tante, Risa sayang sama Dev," ucap Risa sambil menangis.
Jane terperangah, begitu juga Dev. Bagaimana bisa dirinya tidak punya rasa malu sama sekali, pikir Jane.
Dev menarik tangan Risa dan sedikit mendorongnya agar pergi dari hadapan keluarganya.
"Dev, aku mau bicara. Aku mau bicara tentang kita. Aku mau kamu bisa lihat aku lebih. Alu cinta sama kamu," ujar Risa dengan berusaha menghentikan langkahnya.
Tetapi Dev terus mendorong Risa agar pergi menjauh tanpa peduli dengan ucapan Risa.
"DEV! AKU CINTA SAMA KAMU!!" teriak Risa histeris. Tangisannya pecah disertai dengan rintik hujan membasahi dirinya dan Dev.
"AKU HARUS BILANG BERAPA KALI SAMA KAMU, KALO AKU GAK CINTA SAMA KAMU. AKU PUNYA ANAK, PUNYA ISTRI. DAN KAMU SENDIRI TAHU ITU!" ucap Dev dengan berteriak di depan wajah Risa.
"AKU GAK PEDULI SEMUA ITU. ASALKAN BISA BERSAMA KAMU ITU SUDAH CUKUP BUAT AKU. DEV, AKU CUMA MAU KAMU. AKU GAK BUTUH YANG LAINNYA. TINGGALKAN PEREMPUAN ITU DAN KITA HIDUP BERSAMA," Risa menunjuk Sera yang tengah tersenyum mengejek padanya.
"KAMU SAKIT. JIWA KAMU SAKIT RISA!!" Dev berbalik dan meninggalkan Risa.
Tetapi tanpa diduga, Risa mengejar Dev dan memeluk tubuh Dev dari belakang. Apa yang Risa lakukan membuat Jane ingin menamparnya lagi. Tetapi dengan cepat David menahan istrinya.
Sera memandangi adegan tersebut dari ambang pintu sambil bersedekap dada. Menantikan apa yang akan suaminya lakukan.
Karena perlakuan Dev terhadap Risa akan menentukan keputusan apa yang akan Sera ambil nanti. Sera tidak mengamuk atau berteriak dengan perbuatan Risa. Sera hanya tersenyum miring.
Dengan kasar Dev melepaskan pelukan Risa darinya. Sehingga Risa terjatuh ke tanah begitu saja. Dev berbalik dan kembali menatap Risa.
"Kamu mempermalukan dirimu sendiri. Aku pikir kamu adalah teman yang baik. Tapi ternyata penilaianku tentang dirimu salah selama ini. Mulai hari ini dan untuk seterusnya, aku tidak akan pernah ingin mengenal kamu lagi."
__ADS_1
Dev berbalik dan meninggalkan Risa yang terduduk sambil menangis di bawah rintik hujan. Dev sampai di depan istrinya. Senyum manis Sera menyambut Dev.
Tanpa ragu, Dev menggenggam tangan Sera dan membawanya masuk ke dalam.
"DEV! JANGAN TINGGALIN AKU! AKU CINTA SAMA KAMU. DEEEVVV!"
Samar-sama teriakan Risa terdengar di telinga Dev. Dev tidak peduli. Dev merangkul istrinya meski pakaiannya basah. Satu kecupan hangat Dev berikan untuk istrinya.
Sementara di teras, Jane menatap miris Risa yang masih menangis di halaman vila mereka. Jane sampai menggelengkan kepalanya dan saling bertukar pandang dengan suaminya.
Jane sampai tidak habis pikir ada perempuan seperti Risa. Karena cinta buta sampai rela menjatuhkan harga dirinya sebagai perempuan.
Jujur Jane kasihan dengan kemalangan Risa. Tetapi Jane tidak akan pernah membiarkan Risa merusak rumah tangga putranya. Apapun alasannya, Jane tidak akan pernah memberi toleransi dalam bentuk apapun.
"Huuuhhh," Jane menghembuskan nafasnya kasar.
"Kenapa, Yang?" tanya David.
"Anak kamu itu sumber masalahnya sampai membuat anak orang kayak gitu," mata Jane memandangi Risa yang masih betah berada di sana.
"Maksudnya?" tanya David bingung.
"Coba putra kamu itu gak tampan, pasti gak segininya," ujar Jane terkekeh.
"Itu sudah takdir mau gimana lagi. Kaya, tampan lagi," David membanggakan putranya.
"DEEEVV!! JANGAN TINGGALIN AKU!!"
Jane memutar bola matanya mendengar teriakan nelangsa Risa.
"Sakit jiwa," ucap Jane lalu melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam.
"Yang, ini gak dibawa?" David menunjuk kue bolu gulung di tangannya.
"Kalo kamu bawa itu kue haram masuk ke dalam, silahkan menikmati malam tanpa jatah selama tiga bulan."
Dengan cepat David meletakkan kue tersebut di atas meja dan segera menyusul istrinya. Tak lupa David menutup pintu dan menguncinya.
__ADS_1
Ah, istrinya itu tahu saja di mana letak titik kelemahannya.