
Setelah selesai dengan makanannya, Dev mengajak anak dan istrinya masuk ke dalam ruang kerjanya. Baju Ken sudah kotor terkena makanan. Dev keluar ruangan lagi untuk mengambil tas yang berisi keperluan Ken dari dalam mobil.
"Eum Dev, mau kemana?" Risa, wanita yang diam-diam menyukai Dev tiba-tiba saja menghentikan langkah Dev.
Risa adalah teman satu sekolah Dev, yang juga bekerja di Cafe Dev. Risa adalah wanita yang tidak ikut bicara tentang istri Dev tadi bersama karyawan lain.
Menyadari akan status sosialnya yang jauh berbeda dari Dev, membuat Risa tidak berani mengungkapkan isi hatinya pada Dev. Dia menyukai Dev sejak kelas 10.
Dev menerima Risa bekerja, karena Dev tahu bagaimana kondisi keluarga Risa. Di samping itu Risa juga termasuk cerdas seperti dirinya.
Dev bukannya tidak mengerti dengan tatapan dan juga perhatian Risa padanya selama ini. Tapi Dev hanya menganggapnya teman, tidak lebih.
"Aku ingin mengambil keperluan anakku dari dalam mobil. Kenapa?" tanya Dev tanpa minat ingin berlama-lama bicara dengan Risa.
"Selamat atas pernikahanmu. Istri kamu cantik. Jujur saja aku terkejut mengetahui kalau kamu sudah punya anak dan istri," ujar Risa dengan canggung.
"Terima kasih," tukas Dev dan ingin segera pergi dari sana.
"Apa dia orang sini? Aku tidak pernah melihatnya," Risa penasaran tentang siapa dan dari mana Dev mengenal istrinya.
"Dia berasal dari Filipina. Sejak kecil dia tinggal di sana bersama keluarganya. Maaf aku harus ke mobil." Dev pergi meninggalkannya.
Risa ingin bertanya lagi, tapi Dev sudah pergi meninggalkannya. Hati Risa mencelos karena merasa Dev mengabaikannya. Walaupun sebenarnya dia sudah biasa diperlakukan Dev seperti itu.
Tapi kali ini rasanya beda. Karena Dev mengejutkan semua orang dengan kehadiran anak dan istrinya. Risa sama sekali tidak pernah bermimpi jika Dev menikah secepat itu. Apalagi tidak ada satupun yang mengetahuinya.
Risa menoleh ke arah pintu ruang kerja Dev. Risa berpikir hal yang rasanya masuk akal kenapa Dev cepat menikah.
Apa dia hamil duluan? Oh astaga! Benar-benar aku gak nyangka wanita itu rela menyerahkan tubuhnya hanya untuk mendapatkan Dev, batin Risa.
"Risa!" Tolong antarkan beberapa buah apel dan anggur ke ruanganku. Terima kasih," Dev tiba-tiba muncul di hadapannya.
Suara Dev membuat Risa tersadar dari pikirannya yang negatif tentang Sera. Dengan cepat dia mengiyakan perintah Dev padanya.
Dev masuk ke dalam ruang kerjanya, dan melihat Ken begitu nyaman berada dia pangkuan Sera. Mata Ken serius melihat televisi, seperti mengerti apa yang sedang dia tonton di sana.
"Anak Daddy sedang nonton apa?" Dev mencium gemas pipi Ken.
Ken menutup wajah Dev dengan telapak mungilnya karena sudah mengganggunya sedang menonton.
Dev terkekeh dan kembali mencium putranya. Tapi sesaat kemudian Dev juga mencium pipi Sera. Membuat istrinya terperanjat karena ulah Dev.
"Bikin kaget aja kamu, Yang. Mana tasnya?" Sera meminta tas yang berada di belakang Dev.
__ADS_1
Dev tersenyum lebar dan memberikan tas yang berisi pakaian Ken untuk istrinya.
Suara ketukan di pintu membuat Dev dan Sera menoleh bersamaan.
Tampak Risa membuka pintu dan masuk sambil membawa buah-buahan di piring.
"Dev, ini buahnya."
Risa meletakkannya meja dan tersenyum pada Dev. Tapi sayang Dev menghiraukannya karena dia sedang melepaskan pakaian Ken.
"Dev?" Sera mengulangnya dan memandang aneh Risa karena memanggil suaminya dengan sebutan nama langsung, tanpa Embel-embel Pak atau bos mungkin.
Karena Risa adalah karyawan Cafe. Jadi menurut Sera itu sangat tidak sopan sekali.
Risa yang menyadari kesalahannya segera meminta maaf atas ucapannya.
"Ma–maaf. Maksud saya Pak Dev," Risa menundukkan kepalanya dengan rasa jengkel di hatinya.
"Belum apa-apa wanita ini sudah membuatku jengkel," rutuk Risa dalam hatinya sembari melirik Sera dengan lirikan meremehkan.
"Hamil duluan saja bangga," batin Risa lagi.
Dev mengangkat kepalanya dan menatap Risa yang masih berdiri di dekat pintu.
"Ti–tidak ada. Saya permisi," ucap Risa dengan salah tingkah.
"Terima kasih," kata Dev yang sudah mengalihkan perhatiannya pada Ken.
***
Seharusnya mereka pulang cepat dari Cafe. Tapi karena Ken tertidur pula, Dev tidak membangunkan putranya. Jadi Dev sengaja membiarkan Ken beristirahat dengan nyaman.
Sambil menunggu Ken bangun, Dev melakukan pekerjaannya. Sementara Sera sedang melakukan chatting dengan mamanya.
Baru sehari ditinggal, mamanya sudah merindukan mereka. Tepatnya merindukan Ken, cucunya. Sera ingin melakukan panggilan Video, tapi karena Ken tidur, Sera mengurungkan niatnya.
"Yang, nanti malam kita jadi ke rumah kakek?" tanya Sera sembari membalas chat mamanya.
"Iya. Sekalian ngantar Alex," jawab Dev.
Edo ingin menjemput keponakannya itu, namun Dev tidak ingin merepotkan omnya. Jadi Dev berjanji akan mengantar Alex kesana. Sekalian Ken bertemu kakeknya.
"Kamu gak ngantuk?" Dev menghentikan pekerjaannya sebentar dan menatap istrinya.
__ADS_1
"Gak," Sera menggelengkan kepalanya.
"Cewek tadi siapa?" Sera Mengalihkan perhatiannya kepada suaminya.
"Yang mana?" alis Dev naik sebelah bingung dengan pertanyaan Sera.
"Tadi yang ngantar buah kesini," jawab Sera.
"Oh namanya Risa. Kenapa? Cemburu?" Dev sengaja menggoda istrinya.
"Ngapain cemburu. Aneh aja kok manggil kamu cuma nama aja. Gak sopan banget sama atasan," Sera mengerucutkan bibirnya karena mengingat kejadian tadi.
"Dia teman satu sekolah dulu. Karena terbiasa manggil nama, jadi lupa kalo sedang di tempat kerja."
"Dia aneh deh Yang ngeliat aku tadi. Emang aku aneh ya?" tanya Sera ingin tahu.
Dev terkekeh lalu memandangi wajah istrinya sejenak. Dev berdiri dan menghampiri istrinya.
"Itu karena kamu cantik dan juga istriku," Dev menggenggam kedua tangan Sera dan mengecupnya.
"Maksudnya?" Sera menatap bingung suaminya.
"Dia menyukaiku sejak lama. Tapi aku gak pernah memiliki perasaan apapun sama dia. Dia hanya sebatas teman," kata Dev jujur pada istrinya.
Karena Dev sudah berjanji apabila dia tidak akan menutupi apapun pada istrinya. Dev akan selalu berkata jujur pada istrinya. Karena Dev tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka, dan membuat rumah tangganya bermasalah nantinya.
"Pantes dia natap aku kayak gitu," Sera baru mengerti kenapa sikap Risa tadi tidak menyukainya.
Sementara di dapur, Risa menampilkan wajah cemberutnya. Membuat temannya di sana menatap bingung dengan sikap Risa.
"Lo gak pa-pa Sa?" tanya temannya yang berbalik menghadap Risa.
"Gue gak pa-pa. Cuma lagi kesal aja," jawab Risa sambil menuangkan segelas air putih ke gelasnya.
"Kesal kenapa lo?" tanyanya lagi.
"Gak kenapa-kenapa," jawab Risa setelah meminum airnya.
Tidak mungkin Risa jujur kalau dia kesal karena istri Dev. Karena di Cafe ini tidak ada satupun yang tahu kalau dia menyukai Dev.
Jika yang lain terang-terangan, maka beda hal dengan Risa yang menyukai Dev secara diam-diam.
Dari segi fisik, dia sudah kalah jauh dari istri Dev. Begitu juga dengan penampilan. Sera berpenampilan modis dan yang dia pakai juga bermerk. Sementara dia hanya memakai pakaian dengan harga murah.
__ADS_1
Risa menyakini kalau apa yang di pakai Sera pasti semuanya berasal dari Dev. Risa menyakini kalau Sera bukan berasal dari keluarga kaya. Bisa dikatakan kalau Risa sudah berprasangka buruk, selain karena hamil duluan, Sera menikahi Dev karena harta.