
Dev mengusap wajahnya kasar lalu berkacak pinggang setelah kepergian Risa. Di satu sisi dia tidak tega sudah memecat Risa. Karena dia tahu bagaimana kondisi keluarga Risa.
Namun di sisi lain, Dev tidak bisa membiarkan begitu saja istrinya dihargai oleh pegawainya sendiri. Apapun alasannya, Dev pasti akan membela istrinya.
Dev keluar dari ruangannya dan menyusul istrinya. Dev takut jika Risa berbuat sesuatu lagi pada istrinya.
Risa mengambil tasnya dari loker setelah mengganti seragam kerjanya dengan pakaian miliknya. Risa keluar dari sana tanpa pamit pada semua teman seprofesinya.
Pegawai yang lain hanya berani melihat saja tanpa ada keinginan untuk bertanya. Karena teriakan Risa dari ruangan Dev tadi, sudah cukup menjelaskan bagi mereka.
Risa keluar Cafe dengan wajah datar menahan amarah di dadanya, karena perlakuan Dev padanya. Risa melihat Sera berdiri di samping mobil bersama Ken.
Saat Risa berjalan ingin melewati Sera, Dev juga berada di belakang Risa. Jaga-jaga takut Risa melakukan penyerangan terhadap anak dan istrinya. Tapi nyatanya tidak.
Risa hanya melewatinya tanpa suara. Tapi tatapan kebenciannya kepada Sera begitu jelas. Sera merasa dirinya tidak bersalah justru menatap Risa tak kalah tajamnya.
Bagi Sera, suaminya adalah miliknya. Tidak akan pernah Sera membiarkan ada wanita lain bisa merebut Dev darinya.
Dev bernafas lega setelah melihat kepergian Risa meninggalkan Cafe. Dev berjalan menghampiri anak dan istrinya.
"Kamu gak pa-pa?" Dev mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya.
"Gak pa-pa. Makasih Yang," ucap Sera.
Dev memeluk istrinya dan kembali mengecup puncak kepala Sera.
"Maaf Yang," ujar Dev karena merasa bersalah.
Banyak pasang mata yang melihat kemesraan mereka berdua di sana. Sampai beberapa pengunjung dan pegawainya pun membicarakan mereka.
"Beruntung banget ya dia punya suami kayak gitu."
"Gue jadi pengen punya suami kek gitu."
Beberapa pengunjung mengagumi perhatian Dev kepada istrinya.
"Astaga! Otak mbak Risa benar-benar sudah geser. Beraninya dia cari masalah sama bini bos."
"Ho'oh aneh itu si Risa. Harusnya sadar diri aja. Gue sampe gemetaran takut dia di apain sama bos. Secara itu bini bos sampe nangis dia gituin,"
"Beneran Risa dipecat?"
"Lo gak dengar apa tadi Risa teriak-teriak gitu kayak orang gila karena dipecat bos?"
"Moga sadar itu mbaknya setelah gak kerja di sini lagi."
Beberapa pegawai Dev juga melakukan hal yang sama, sambil tangan merek melakukan tugas masing-masing.
"Istrinya bos cantik ya.."
"Iya. Anaknya bos juga ganteng banget. Wajah bulenya nurun dari si bos."
__ADS_1
***
"Loh, mukanya menantu Mommy kenapa? Kalian ada masalah?"
Jane terkejut ketik Dev dan Sera pulang, wajah Sera masam. Mata Sera juga merah seperti habis menangis.
"Gak Mom. Tadi ada masalah di Cafe," jawab Dev. Sementara Jane merangkul menantunya untuk duduk bersamanya.
"Masalah apa?" Jane bertanya kepada putranya sembari mengusap bahu Sera.
Dev menghembuskan nafasnya kasar karena istrinya kembali menangis. Dan kini Sera menangis dalam pelukan mommynya.
Hati Sera masih panas mengingat tuduhan demi tuduhan yang dilayangkan Risa untuknya.
Jane ikut sedih karena tangisan menantunya, meskipun dia tidak tahu apa yang sudah terjadi.
Jane bicara dengan putranya melalui tatapan matanya. Dev yang memahami tatapan minta penjelasan darinya pun, menganggukkan kepalanya.
"Dev antar Sera ke kamar dulu Mom. Nanti Dev akan ceritakan," Dev menggendong Ken sambil mengulurkan tangannya agar Sera mengikutinya ke kamar.
Sera mengangguk dan pamit kepada mertuanya, lalu mengikuti langkah suaminya.
"Kenapa melamun?"
David melonggarkan dasinya kemudian mengambil tempat duduk di samping istrinya.
"Kapan pulang? Kok aku gak dengar kamu pulang?" Jane terkejut karena merasakan tepukan di bahunya.
"Mana bisa dengar suami pulang, kalo pikiran kamu gak ke satu arah. Tapi kemana-mana," David menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku.
"Masalah? Dev ada masalah sama Sera?" David menaikkan alisnya.
"Gak tahu, Yang. Dev belum cerita. Dev lagi di kamar," jawab Jane.
"Kamu gak mandi, Yang?" Jane menoleh pada suaminya.
"Ntar, aku masih capek. Kerjaan di kantor banyak banget hari ini," David menyandarkan tubuhnya.
***
Satu jam kemudian, Dev turun menemui kedua orang tuanya. Sera sedang menidurkan Ken di kamar.
"Gimana Sera, Dev?" Jane tidak sabar ingin tahu keadaan menantunya.
"Sera gak pa-pa. Dia tadi cuma syok aja. Tapi sekarang sudah tenang," jawab Dev.
"Cerita buat Mommy, ada apa? Mommy gak tenang kalo kamu gak cerita, ada apa sama menantu kesayangan Mommy."
Jane memburu Dev dengan pertanyaan demi pertanyaan tentang menantunya.
David menyesap kopi buatan istrinya tanpa ikut bicara. Cukup diwakilkan saja oleh istrinya.
__ADS_1
Dev duduk dan mulai menceritakan semua kejadian di Cafe tadi, dari awal sampai akhir.
Jane terkejut bukan main mendengar menantunya diperlakukan kasar, oleh orang yang tidak tahu terima kasih.
"Ngapain kamu kasih pesangon segala buat dia! Kurang ajar itu perempuan. Dia pikir Mommy mau punya menantu kayak dia. Menantu Mommy cuma Sera, bukan yang lain," Jane tersulut emosinya dengan apa yang Dev lakukan.
Bisa-bisanya putranya itu memberi pesangon untuk orang yang sudah menghina menantunya.
"Awas dia kalo ketemu Mommy! Akan Mommy hajar dia biar tahu diri," Jane berdiri dengan rasa amarahnya.
Jane tidak terima menantunya diperlakukan demikian. Jane ingin bertemu Risa dan memberinya pelajaran.
"Sayang, duduk. Suara kamu nanti bikin Ken bangun," David menarik istrinya untuk duduk kembali.
"Kamu gak prihatin apa menantu kita dituduh macam-macam gitu? Menantu kita gadis baik-baik, kok dikatain seenak perutnya sama perempuan gila itu!"
"Ya enggak lah, Yang. Lagian Dev sudah melakukan hal yang benar dengan memecatnya. Jadi gak perlu kita khawatirkan lagi," ujar David menenangkan istrinya.
"Tapi tetap aja, aku gak terima Yang. Rumahnya di mana Dev? Biar Mommy datang kesana kasih pelajaran," Jane menatap Dev agar memberitahukan alamat Risa.
"Bukannya masalah selesai, yang ada nambah masalah Mom."
Dev menggelengkan kepalanya, tidak setuju dengan permintaan mommynya. Bukan karena ingin melindungi Risa, tapi Dev tidak ingin menambah masalah baru.
Emosi mommynya pasti tidak terkendali jika sampai bertemu Risa. Dengan memecatnya, itu sudah cukup bagi Dev. Asalkan istrinya sudah berada dalam zona aman, Dev tidak akan mempermasalahkannya lagi.
"Kamu itu terlalu baik sama orang yang gak hargain kebaikan kamu. Ya gini akhirnya. Sudah ditolong, malah mau merongrong. Dasar gak tahu terima kasih!" Jane terus menggerutu karena kesalnya bercampur emosi.
"Kamu juga ngapain kasih rekomendasi kerja buat dia? Bikin kesal Mommy tau!"
Dev memijat pangkal hidungnya. Sang Mommy terus mengomel, membuat kepala Dev menjadi pusing.
"Yang, sudah. Kasihan Dev jadi tambah pusing karena kamu ngomel terus," David merangkul istrinya.
"Kamu bela Dev?"
"Aku gak bela Dev, Yang. Maksud aku jangan marah gini. Dev juga sudah memecatnya. Jadi sudah gak ada masalah. Kasihan cucu kita juga nanti bangun,"
"Kalian berdua ini memang gak ngerti perasaan seorang istri. Malam ini kamu gak dapat jatah. Kamu sama Dev tidur di luar. Aku akan tidur sama Sera!"
Jane menatap tajam anak dan suaminya, lalu pergi begitu saja.
Dev dan David terperangah dan saling tatap. Lalu menghembuskan nafas panjang bersamaan.
"Gara-gara kamu nih Dev, Daddy jadi gak dapat jatah 3 ronde malam ini."
David terduduk dengan lesunya.
"Gara-gara Daddy juga, Dev gak bisa main 5 ronde malam ini."
David tersedak minuman kopinya sendiri karena ucapan Dev.
__ADS_1
"Parah kamu Dev!"
"Daddy juga parah!"