
"Dad..Ken au num," celoteh Ken dengan menunjuk gelas berisi air di depan Dev.
"Oh..Ken mau minum?" tanya Dev memastikannya.
Ken menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Come here," ujar Dev dengan memberi isyarat tangannya agar Ken mendekat padanya.
Dengan riang Ken datang menghampiri Dev dan duduk di pangkuannya. Dengan hati-hati Dev membantu Ken untuk minum dari gelas. Agar tidak membasahi pakaian Ken.
Setelah rasa hausnya hilang, Ken mengecup pipi Dev dan berkata, "Ten yu, Dad."
"You're welcome my boy," balas Dev setelah menerima ucapan terima kasih dari putranya dan mengecup puncak kepala Ken.
Meski belum lancar bicara, tetapi tumbuh kembang Ken sangat luar biasa. Usianya baru 1,5 tahun, tetapi tinggi badannya seperti anak yang berusia 2 tahun lebih. Ken mewarisi tinggi badan dari Dev.
"Mommy.." ucap Ken dengan menggoyangkan kakinya di pangkuan Dev, saat melihat Sera datang.
"Hai jagoan Mommy," Sera memeluk dan mencium pipi Ken.
"Haapp!" Sera menggendong tubuh gembul Ken dengan sekuat tenaganya.
"Ken tambah berat ya," goda Sera sambil memainkan hidung mancungnya di leher Ken.
Rasa geli yang Ken rasakan menimbulkan gelak tawanya. Ken memiringkan kepalanya agar Sera tidak lagi mencium lehernya. Namun Sera tetap melakukannya di tempat yang lain.
Ken terus tertawa karena geli.
Sera menghentikan aksinya setelah mendengar Ken kelelahan tertawa. Sambil mengusap keringat Ken, Sera mengambil duduk di samping Dev.
"Gimana tadi?" tanya Dev dan mengambil alih Ken dari Sera.
"Puji Tuhan semua berjalan dengan lancar. Miss Gina menyukai rancanganku," jawab Sera dengan tersenyum.
"Syukurlah. Jadi berapa rancangan yang dia minta?"
"Dia minta dua. Aku diberi waktu satu bulan untuk mengerjakannya."
"Kamu sanggup?"
"Aku sanggup. Lagipula ada Mama yang akan membantuku," jawab Sera.
"Aku gak mau kamu sampai sakit karena kelelahan. Kamu harus mencari seseorang untuk membantu," ujar Dev.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku masih mampu melakukannya sendiri."
"Ya, tapi aku gak mau kamu kelelahan. Karena nanti jatahku berkurang," ucap Dev tanpa merasa salah dengan ucapannya.
"Dev!" seru Sera dengan membulatkan matanya.
Sera ingin sekali memukul kepala suaminya ini. Sejak menikah, pembicaraan serius selalu saja bisa Dev alihkan ke perihal urusan ranjang. Sera tidak pernah tahu jika Dev semesum ini.
"Kenapa?" tanya Dev dengan menaikkan alisnya.
"Kamu nanya kenapa? Harusnya aku yang nanya kamu itu kenapa? Jatah mulu yang diurus," Sera mencebikkan bibirnya.
Dev terbahak mendengar ucapan istrinya. Salah satu yang Dev suka dari Sera adalah membuatnya kesal. Percayalah, itu sangat menggemaskan di mata Dev.
Sementara Ken yang tidak mengerti perdebatan apa di antara kedua orangtuanya, hanya bisa diam sambil mengerjapkan matanya berkali-kali.
***
Wajah Dev sumringah setelah menerima panggilan video dari orangtuanya. Terutama Mommy-nya yang begitu rindu pada Ken.
Ken juga begitu senang ketika melihat wajah sang Granma cantiknya. Tawa riang Ken lebih mendominasi saat panggilan video tadi. Bahkan Dev tidak terlalu banyak bicara. Membiarkan Ken yang menguasai ponselnya.
"Minggu depan Mom dan Dad akan ke Manila," kata Dev ketika Sera tengah sibuk dengan pekerjaannya.
"Benarkah? Ken pasti senang," balas Sera setelah sesaat menghentikan pekerjaannya.
Sera terbahak mendengar aduan Dev padanya. Karena jika Ken sudah melihat ponsel milik Dev, maka Ken yang akan menguasainya.
"Dia bicara seperti pada temannya saja dengan Mom," Dev menggelengkan kepalanya mengingat bagaimana Ken bicara sambil menganggukkan kepalanya.
"Dia mencontohnya darimu," ujar Sera sambil terkekeh.
"Mencontoh? Dariku?" tanya Dev bingung.
Sera meletakkan pensil yang dia gunakan untuk menggambar tadi, lalu memandang wajah suaminya dengan senyum tercetak di wajahnya.
"Kelakuan Ken sama persis dengan kelakuan kamu saat masih kecil kata Mom. Jadi aku gak heran kalo Ken mengcopy semuanya darimu. Asal jangan–"
Sera tiba-tiba menggantung kalimatnya lalu menatap suaminya lagi dengan wajahnya sedikit cemberut.
"Asal jangan–?" alis Dev naik karena menunggu kalimat Sera selanjutnya.
"Asal jangan mesum kayak kamu," Sera mendengus.
__ADS_1
Spontan perkataan Sera membuat Dev terbahak. Dev sungguh tidak menyangka jika Sera selalu berpikiran demikian padanya.
"Kenapa jadi berpikir seperti itu?" tanya Dev masih dalam keadaan tertawa.
"Masih nanya. Gak sadar diri ya," Sera mencebik.
Dev mendekati istrinya lalu mengecup bibir Sera bertubi-tubi. Istrinya ini sangat menggemaskan ketika kesal, dan membuatnya tidak tahan jika tidak menikmati bibir istrinya itu.
"Dev, awas sana! Aku masih ada kerjaan Dev," Sera mendorong tubuh Dev agar melepaskan pelukannya. Namun Dev malah semakin memeluknya erat.
"Aku pengen peluk dulu," ujar Dev.
"Ya tapi gak usah kecap kecup juga," Sera merasa tubuhnya meremang karena ulah Dev.
Ditambah tangan Dev yang nakal masuk ke dalam kemeja yang Sera pakai. Mata Sera membulat sempurna saat tangan Dev menangkup salah satu bukit padat nan kenyal di dadanya.
Dev menyeringai nakal mendapat tatapan tajam Sera. Tidak ingin yang satunya menganggur, Dev juga memainkan satunya lagi. Alhasil Sera hanya bisa memejamkan matanya.
Dev mengganti posisi duduk dengan Sera yang kini duduk di pangkuannya, membelakangi dirinya. Dev terus memijat lembut bukit kembar istrinya dari belakang.
Beruntung di kamar hanya ada mereka berdua. Karena Ken sedang bersama Bella dan Alex di lantai bawah.
Mata Sera terbuka karena merasa sesuatu yang keras menonjol mengenai bagian bawahnya. Sera menoleh ke belakang dan mendapati Dev dengan senyum nakalnya.
Tangan Dev bergerak masuk ke rok bagian dalam Sera, dan menarik cepat penutup segitiga berwana hitam. Kini Sera tidak mengenakan apapun dibalik roknya akibat ulah Dev.
Nafas memburu Dev berhembus di tengkuk Sera. Membuat Sera tak mampu lagi menahan gairahnya. Dev mengangkat sedikit tubuh Sera, dan menurunkan celana pendeknya sebatas lutut.
Senjata tempur Dev berdiri tegak, dan dengan perlahan masuk untuk menggempur goa kenikmatan Sera. Keduanya memejamkan mata ketika penyatuan itu terjadi.
Sera bergerak turun naik di atas pangkuan Dev, sementara Dev tidak melepaskan pijatannya di dada Sera. Suara lenguhan keduanya bersahut-sahutan untuk segera mencapai puncaknya.
Tubuh Sera bergetar hebat, ketika pelepasannya tiba. Demikian juga Dev yang menggeram berat sambil memeluk tubuh Sera erat dari belakang, ketika dia merasakan miliknya dipijat nikmat oleh goa tempur istrinya.
Dev memejamkan matanya menikmati miliknya yang masih berkedut. Sedangkan Sera lemas dengan menelungkupkan wajahnya di atas meja.
Sera tidak mampu lagi bergerak. Tenaganya habis terkuras karena Dev. Kemudian Sera mengerucutkan bibirnya kesal karena Dev sudah mengganggunya bekerja.
"Gimana? Pasti semangat dong kerjanya habis ini?" ujar Dev sengaja menggoda Sera tanpa melepas pelukannya.
"Kamu nakal banget sih Dev. Kerjaan aku jadi terganggu kan.." Sera kembali mengerucutkan bibirnya.
"Aku gak ganggu sayang. Justru aku kasih vitamin biar kamu lebih semangat lagi kerjanya."
__ADS_1
"Vitamin apa? Vitamin mesum kamu yang ada."
Dev terbahak dan mengangkat tubuh Sera bersamanya ke kamar mandi. Kenakalan apalagi yang akan Dev lakukan di sana. Hanya mereka berdua yang tahu.