
Dev mengajak keluarganya untuk liburan ke Vila milik keluarga mereka. Alex juga ikut bersama mereka. Sebelum ke Manila, Dev ingin menghabiskan banyak waktu bersama keluarganya.
Sepanjang perjalanan menuju Vila, Ken sama sekali tidak bergerak dari pangkuan sang Mommy. Ken tidur nyenyak.
Jane sekali-kali melihat ke belakang. Dia tersenyum melihat cucu tampannya tidur dengan sangat pulas.
"Kalo capek biar aku yang gendong Ken," Dev melihat wajah istrinya yang terlihat mengantuk.
Karena memang lelah, Sera pun menyerahkan Ken kepada suaminya.
"Tidur aja. Aku tau kamu capek," Dev mengusap kepala istrinya pelan.
Alex yang duduk di bagian kursi penumpang paling belakang, tidak peduli dengan interaksi kakaknya dan juga kakak iparnya.
Alex lebih memusatkan perhatiannya pada ponselnya. Game lebih seru daripada mendengar kata-kata kemesraan kedua kakaknya itu.
Sera menyandarkan kepalanya di sisi kiri mobil. Dev menaruh satu bantal panjang dan bantal ukuran besar, agar istrinya bisa tidur dengan nyaman.
Dev siap terjaga sepanjang perjalanan agar memastikan anak dan istrinya nyaman.
"Dev, kapan kalian kembali ke Manila?" David melirik putranya dari spion di depannya.
"Rencana Dev, pulang liburan ini Dev selesain sedikit kerja Dev di Cafe. Lusanya baru balik," jawab Dev sambil menepuk-nepuk paha Ken.
"Jangan lupa mampir ke rumah nenek kakek Sera dulu, sekalian pamitan."
"Iya Dad," balas Dev.
Bagaimanapun David tidak ingin anak dan menantunya sampai melupakan ada keluarga lain yang juga merindukan mereka. Apalagi itu adalah keluarga dekat dari Papa dan Mama Sera.
David tidak ingin sampai dikatakan memonopoli anak, menantu, dan juga cucunya sendirian.
"Kalo Daddy longgar kerjaan, bulan depan Daddy sama Mommy ke Manila."
"Pasti Mama sama Papa senang ketemu Daddy sama Mommy," Dev juga senang mendengarnya.
"Oh itu sudah jelas. Apalagi Papa mertua kamu pasti sangat merindukan Daddy," ujar David sambil terkekeh.
"Yakin?" tanya Jane sambil mengejek suaminya.
"Yakin lah," jawab David dengan bangganya.
Jane menggelengkan kepalanya sembari mencibir kelakuan suaminya itu.
Akhirnya mereka tiba di tempat tujuan dengan selamat. Jane lebih dulu keluar mobil dan membuka pintu samping Dev.
Jane mengambil alih Ken dari putranya.
"Kamu bantu Daddy angkat barang," ujar Jane kepada putranya.
Dev keluar tanpa membangunkan istrinya. Alex keluar mobil juga dengan sangat hati-hati, agar kakaknya tidak terbangun.
Semua juga tahu jika Sera tertidur, akan sangat sulit untuk dibangunkan.
Setelah Dev memasukkan semua barang ke dalam Vila, Dev kembali ke mobil untuk menggendong Sera.
__ADS_1
Dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat apa yang Dev lakukan bersama kedua orangtuanya tadi.
"Ini kesempatanku untuk bisa mendekati Dev kembali. Apalagi ada orangtuanya juga. Aku harus bisa mengambil hati mereka," gumamnya sambil tersenyum licik.
Langkahnya terhenti kala melihat pemandangan menyakitkan di depan matanya.
Dev menggendong istrinya yang sedang tertidur masuk ke dalam Vila.
"Sial! Kenapa wanita itu juga ada di sini sih!" umpatnya kesal.
"Gimana aku bisa deketin orangtuanya Dev kalo ada dia!"
Orang itu adalah Risa. Ya, Risa. Situasi yang sangat kebetulan. Di hari yang sama, seluruh karyawan di tempatnya bekerja juga mengadakan acara kantor.
Vila milik keluarga Dev berada tidak jauh dari lokasi acara kantornya Risa.
Dengan rasa kesalnya, Risa kembali ke lokasi acara sekaligus juga tempat mereka menginap.
"Kenapa muka lo?" Kayak kertas dilipat," tiba-tiba salah satu teman kantor Risa sudah berdiri di sampingnya.
"Gue lagi kesel aja," ucap Risa kesal.
"Gara-gara cowok," tebaknya.
"Kok tahu," Risa menautkan alisnya heran.
"Ya tahu lah..ada tertulis dengan sangat jelas di jidat lo LAGI PATAH HATI. Gitu yang gue baca," teman Risa terbahak melihat ekspresi wajah Risa berubah cemberut.
"Ngaco lo!" Risa meninggalkan temannya itu begitu saja.
***
Dev mengambil selimut dan menyelimuti Sera dan Ken. Dengan perlahan Dev keluar dari kamar.
"Kamu gak mandi Dev?" Jane berdiri di depan kamar Dev.
"Nanti aja Mom. Dev masih pengen santai dulu," jawab Dev lalu merangkul pundak mommynya.
"Yang, suara gaduh dari mana sih ini? Kayaknya lagi acara gitu," ucap Jane setelah duduk di samping suaminya.
"Mungkin tetangga kita kali, sayang. Mending kamu ngurusin aku daripada ngurus tetangga," David dengan sengaja menggoda istrinya.
Dev sudah tidak heran lagi melihat kelakuan jahil daddynya itu. Malah akan membuat Dev heran jika sehari saja tidak melihat daddynya menggoda sang Mommy.
"Ck, dasar mesum. Gak malu sama anak," Jane mencubit lengan suaminya.
"Ngapain malu. Dev juga sama punya istri," ujar David tanpa peduli dengan adanya Dev di dekat mereka.
Jane menggelengkan kepalanya dan pergi meninggalkan suami mesumnya itu ke kamar. Lebih baik Jane tidur daripada membiarkan pikirannya ikut mesum seperti suaminya, batin Jane.
Sementara di kamar, Alex berdiri di balkon kamarnya. Pemandangannya sangat indah dan suasananya juga sangat nyaman.
Alex jadi teringat dengan kedua orangtuanya. Suasana vila ini mengingatkan Alex dengan suasana rumahnya.
Alex melihat jam di ponselnya. Sekarang di Manila sudah malam. Biasanya orangtuanya sedang duduk santai di depan televisi.
__ADS_1
Karena Alex tahu papanya tidak mengijinkan mamanya untuk bekerja malam hari.
Alex rindu pelukan Papa dan mamanya. Alex rindu masakan mamanya.
Meskipun dia juga dimanja oleh keluarga di sini, termasuk dari keluarga kakak iparnya. Namun tetap saja rasanya beda jika bukan dari orangtuanya sendiri.
Alex menoleh ke belakang ketika mendengar bunyi ketukan.
"Kamu sibuk?" Dev berdiri di ambang pintu kamar Alex.
"Gak kak. Cuma lagi lihat pemandangan alam," Alex berbalik dan berjalan menghampiri kakak iparnya.
"Mau temani kakak?" tawar Dev.
"Kemana kak?"
"Di bawah ada perkebunan buah strawbery. Sera suka. Jadi kakak mau membelinya," ujar Dev memberitahukan Alex.
"Baik kak. Alex ganti baju dulu."
"Oke. Kakak tunggu di bawah."
***
Dev dan Alex hanya menggunakan sepeda saja menuruni lereng bukit. Alex begitu senang karena bisa merasakan sensasi alam yang indah.
Tiba di lokasi perkebunan, Dev mengambil satu keranjang yang memang sudah disediakan bagi pengunjung yang datang.
"Kak, aku bawa keranjang sendiri ya?" tanya Alex dengan antusias.
"Iya. Ikutin kakak biar gak misah nanti," ujar Dev sembari berjalan lebih dulu dari Alex.
Alex memetiknya bukan hanya dimasukkan ke dalam keranjang miliknya. Tetapi juga masuk ke dalam mulutnya.
Dev terkekeh melihat kelakuan Alex.
"Manis banget kak. Mana buahnya gede gini," ujar Alex setelah memakan satu buah strawberry di tangannya.
"Jangan lupa berapa banyak yang kamu makan. Biar nanti sekalian dihitung," ujar Dev mengingatkan Alex.
"Siap kak!"
Hari sudah sangat sore. Namun Alex masih tetap semangat memetik buah strawberry. Keranjangnya sudah penuh.
"Lex, kita pulang! Ken nanti nyari," seru Dev dari kejauhan memanggil Alex.
"Iya kak sebentar lagi," tangan Alex tidak henti memetik buahnya.
"Lex, ayo!" seru Dev lagi.
Mendengar panggilan Dev, Alex berhenti untuk memetik lagi. Alex berjalan cepat menghampiri Dev yang sudah menunggunya.
Setelah menimbang dan membayar buahnya, Alex dan Dev menuju di mana sepeda mereka berdua berada.
"DEV!"
__ADS_1
Baru saja Dev akan mengayuh sepedanya. Dev menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Sontak saja membuat Dev sangat terkejut.
"Risa?"