
"Risa, tante."
Jane menganggukkan kepalanya. Jane meletakkan secangkir teh untuk Risa, dan mempersilahkannya untuk minum.
Mata Risa mencari keberadaan Dev yang tidak dia lihat sejak dia masuk ke dalam vila.
"Kamu tinggal di sini?" Jane menatap Risa sekilas.
"Gak tante. Kantor tempatku bekerja bikin acara keakraban selama dua malam di sini. Kami menginap di gedung tidak jauh dari sini."
Jane sedikit aneh mendengar perkataan Risa. Kalau dia bukan penduduk asli sini, untuk apa dia repot-repot sampai mengantar kue, batin Jane.
Namun Jane tidak ingin bertanya langsung kepada Risa mengenai hal itu.
"Pintar ya bikin bolu gulungnya. Tante malah gak tahu sama sekali cara membikinnya. Tante cuma tahu makannya aja," kekeh Jane.
Risa ikut tertawa mendengar perkataan Jane. Awal yang baik, batin Risa.
"Risa gak bikin tante. Tadi kebetulan Risa jalan ada yang jual ini. Jadi Risa beli terus antar kesini," ujar Risa jujur.
"Kok tahu kalo ada yang tinggal di sini? Atau mungkin kamu kenal salah satu orang yang tinggal di sini?" Jane mulai curiga dengan tujuan Risa datang ke vilanya.
"Eum, itu tante..kemarin Risa gak sengaja lihat tante sekeluarga datang. Jadi menurut Risa gak salah kalo saling mengenal. Apalagi kita sama berasal dari Jakarta."
Jane mengerutkan dahinya. Dari mana dia tahu kami dari Jakarta, batin Jane.
Seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Jane tentangnya, dengan cepat Risa membenarkan ucapannya.
"Maksud Risa, Risa hanya menebak saja kalo tante sekeluarga berasal dari Jakarta."
Dengan rasa gugup Risa berharap Jane tidak mencurigai dirinya. Risa ingin lebih dekat dulu dengan mommynya Dev. Baru setelahnya dia memikirkan langkah selanjutnya.
Tidak tahu saja Risa, kalau apa yang dipikirkannya itu akan membawa petaka bagi dirinya. Risa tidak tahu betapa sayangnya Jane kepada menantunya itu.
Layaknya barang berharga dan bernilai tinggi, begitulah Sera di ibaratkan Mommy mertuanya. Berani mengusik menantunya, sama saja mengusik dirinya.
"Oh begitu," Jane menganggukkan kepalanya.
"Kami memang berasal dari Jakarta. Putraku yang mengajak kami liburan kesini sebelum kembali ke Manila," Jane sengaja memberitahukan sedikit tentang putranya.
"Manila?" Risa terkejut mengetahui kalau Dev tidak tinggal lama di Jakarta.
Jane melihat keterkejutan Risa tadi.
"Iya. Putraku dan anak istrinya tinggal di sana. Hanya karena ada pekerjaan saja dia kesini."
Jane dengan tegas menjelaskan status putranya yang sudah berkeluarga. Karena Jane curiga kalau gadis di depannya ini ada tujuan lain.
Apalagi tadi dia berkata kalau melihat kedatangan Jane sekeluarga. Tidak menutup kemungkinan dia melihat Dev putranya. Nekat juga, batin Jane sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa tante gak kesepian ditinggal sendiri?" Risa sengaja memancing pembicaraan ini. Siapa tahu dia bisa memprovokasi Jane agar membujuk Dev tetap tinggal di Jakarta, pikirnya.
"Kesepian sih iya. Tapi rasa kesepian itu bisa diatasi dengan saling berkunjung. Kebetulan Papa mertua putraku adalah sahabat dari suamiku."
"Eum kalo begitu, Risa pamit dulu tante. Makasih untuk tehnya," Risa memilih cepat pergi. Dia tidak ingin Dev melihatnya.
__ADS_1
"Sama-sama Risa."
Jane mengantar tamunya itu sampai ke depan. Setelah menutup pintunya, Jane kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
"Beli di mana?" David mengambil satu iris bolu pemberian Risa tadi.
"Tadi ada yang ngantar kesini. Orangnya baru saja pulang," sahut Jane setelah memberikan secangkir kopi untuk suaminya.
"Enak," kata David.
"Oh ya," ujar Jane memastikan. Karena dia belum mencicipinya sama sekali.
"Coba aja," David kembali mengambil seiris bolu itu.
"Katanya tadi beli. Aku lupa juga tadi dia beli di mana," Jane ikut mengambil seiris bolu dan menggigitnya.
Jane menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan suaminya kalo bolu tadi benar-benar enak.
***
Dev dan Sera turun ke lantai bawah bersama Ken. Sementara Alex sudah lebih dulu berada di sana.
Sera langsung ke dapur membuat sarapan untuk Ken. Sera juga membuatkan kopi untuk suaminya.
"Hey cucu tampan Granma!" seru Jane dengan berbinar melihat Ken tersenyum khas bayi.
Jangan lupakan jari telunjuknya yang sudah bertengger di dalam mulutnya.
"Det..det..det.." ujar Ken ketika Dev menyerahkan dirinya kepada granmanya.
Bibir Ken sudah melengkung ke bawah. Matanya seketika berkaca-kaca melihat kepergian daddynya.
Dan tangis itupun akhirnya pecah.
Jane berdiri dan mengajak Ken untuk berjalan di area depan vila. Namun tangis Ken masih belum reda.
"Sayang, jangan digigit cucu kita!" teriak David sengaja menggoda istrinya.
"Apaan sih," Jane berdecak dengan perkataan suaminya.
"Kita jalan-jalannya sayang."
Jane menunjuk beberapa ekor burung yang sempat bertengger di pohon depan vila. Ken berhenti menangis meskipun masih terdengar isakan kecil.
Jane terus mengajak bicara cucunya agar perhatiannya teralihkan, dan berhenti menangis. Ken memang sering menangis jika dia dipaksa pisah dari Dev.
Ken begitu lengket dengan daddynya. Dari sejak lahir, Ken sudah terbiasa diurus daddynya. Bangun tidur tanpa melihat wajah daddynya, maka Ken akan menangis.
Tapi bukan berarti Ken tidak dekat dengan Sera. Hanya saja Ken merasa lebih nyaman berada dekat Dev. Namun Ken juga akan mencari keberadaan Sera, jika lama tak berada dekatnya.
"Ken kenapa?" tanya Sera.
"Biasa, gak mau lepas dariku."
"Bolunya enak," ujar Dev lagi setelah gigitan pertama masuk kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Mommy kali yang bikin," kata Sera sembari mengaduk bubur Ken yang masih panas.
"Tapi setahuku Mommy gak pintar bikin kue. Kalo masak Mommy jago," Dev mengerutkan keningnya tidak percaya.
Karena dia tahu, mommynya paling tidak suka berurusan dengan tepung beserta teman-temannya.
"Ya kali aja sekarang Mommy udah jago bikin kue," ujar Sera lagi menyakinkan suaminya.
Dev mengunyah bolunya sambil mengangguk pelan. Lalu menyesap kopi buatan istrinya. Mungkin saja, batin Dev.
"Mau jalan-jalan gak nanti?" tawar Dev kepada istrinya.
"Kemana?" Sera duduk di samping suaminya sambil mengolesi roti dengan selai coklat.
"Ada tempat bagus pokoknya. Kita pake sepeda aja. Nanti Ajak Alex juga. Biar Ken sama Mommy," jawab Dev dengan semangat.
Dev akan mengajak istrinya ke sebuah air terjun. Tempat itu dulu sering Dev datangi bersama Daddy dan mommynya, sewaktu dia masih kecil hingga SMP.
Saat SMA pun kadang Dev datang mengajak teman-temannya. Terutama sahabatnya Ron dan Eko.
"Bagusnya kita datang kesana sebelum siang," ujar Dev lagi.
"Baiklah. Sebaiknya sarapan dulu, biar habis ini Ken lagi yang sarapan."
***
Gelak tawa Ken menarik perhatian seseorang yang memang dengan sengaja berada di sana.
Risa berada tidak jauh di mana Jane berada.
Jane memang sengaja mengajak cucunya berjalan-jalan ,sembari menyapa warga sekitar dengan ramah. Beberapa warga mengenal baik Jane dan keluarganya.
Mereka juga tahu, kalau keluarga Jane pemilik salah satu vila di sana.
"Halo tante. Kita ketemu lagi," Risa menyapa ramah Jane dari belakang.
"Oh halo. Kok bisa ada di sini juga?" Jane terperanjat dan menoleh ke belakang.
"Kebetulan lagi istirahat tante. Jadi acara dilanjutkan satu jam lagi," ujar Risa dan berjalan bersisian dengan Jane.
"Ini siapa tante? Lucu banget," Risa berpura-pura tidak mengetahui siapa Ken.
"Ini Ken cucuku," jawab Jane dengan bangga.
"Wajahnya mirip dengan ayahnya ya," ucap Risa spontan.
"Kamu kenal putraku?" Jane mengerutkan keningnya dan menghentikan langkahnya.
Tatapan Jane kini sepenuhnya mengarah kepada Risa, dengan tatapan penuh kecurigaan. Tidak salah lagi, dia memang ingin mendekati putraku, batin Jane.
Seketika Risa terdiam tidak tahu harus berkata apalagi. Risa merutuki kecerobohan mulutnya tadi. Sementara Jane semakin curiga dengan tingkah aneh Risa.
"Sepertinya dugaanku benar," ujar Jane dalam hatinya.
"Mommy!"
__ADS_1