DeRa LoVe

DeRa LoVe
Masalah


__ADS_3

"Mommy!"


Jane dan Risa menoleh bersamaan. Risa begitu terkejut melihat siapa yang ada di belakangnya.


"Ma–maaf Tan..Risa permisi dulu. Mau balik ke gedung," dengan rasa gugupnya Risa


"Loh kok cepat sekali. Katanya satu jam lagi. Kamu belum kenalan sama menantu tante,"


"Risa permisi tante," dengan tergesa-gesa Risa pergi dari sana. Risa tidak ingin rencananya gagal gara-gara kedatangan Sera.


Jane menatap kepergian Risa dengan tatapan aneh. Namun perhatiannya kini beralih kepada Sera yang sudah berdiri di sampingnya.


"Siapa Mom? Kayaknya akrab sama Mommy?" tanya Sera dengan tatapan matanya memperhatikan kepergian perempuan yang sepertinya tidak asing baginya.


"Oh itu Risa. Katanya dia sedang ada acara kantor di sini. Dia juga yang ngantar bolu gulung tadi pagi," jawab Jane sambil tersenyum.


"Risa?" sekali lagi Sera melihat kemana arah Risa pergi. Namun Risa sudah tidak terlihat lagi.


"Kamu kenal?" tanya Jane, karena melihat kebingungan menantunya.


"Gak Mom," dengan cepat Sera menggelengkan kepalanya. Walau dalam hati nama itu tidak asing baginya.


"Halo anak Mommy..seneng ya sama Grandma," Sera mengalihkan pikirannya dari Risa dengan menyapa putra tampannya.


Ken tertawa senang melihat Sera datang. Sambil berteriak senang, Ken ingin meminta digendong mommy-nya.


"Ken sarapan dulu ya..biar nanti kuat lawan Daddy kalo nakal sama Mommy," ucap Sera sambil mengaduk bubur dan meniupnya.


"Mam..mam..mam.." ucap Ken dengan girang, sambil membuka mulut mungilnya.


"Iya sayang," kata Sera dan memberi satu suapan kecil ke dalam mulut Ken.


"Kita cari tempat yang teduh biar Ken bisa makan dengan nyaman," Jane membawa Ken duduk di bangku panjang, tepat di bawah pohon rindang.


Rupanya tempat itu biasa dijadikan warga sekitar untuk nongkrong. Karena begitu banyak puntung rokok dan juga bungkus snack yang berserakan di bawahnya.


Dari kejauhan Risa melihat interaksi Sera dan Mommy mertuanya. Risa bisa melihat bagaimana perhatiannya Jane kepada Sera.


"Harusnya aku yang berada di sana. Bukan wanita itu," ucap Risa dengan menatap Sera penuh kebencian.


"Liatin apa sih lo? Serius amat," Rina teman sekantor Risa tiba-tiba muncul di belakangnya.


"Bukan apa-apa," jawab Risa sedikit terkejut. Kemudian meninggalkan Rina begitu saja tanpa berkata-kata.


"Benar-benar nih anak," ucap Rina kesal dan menyusul Risa sambil menggerutu tidak jelas.


***


Sera akhirnya kembali ke vila bersama putranya Ken, dan juga Mommy mertuanya.


Ken tertawa melihat sang Daddy yang menunggunya di teras depan.

__ADS_1


"Det..det..det.." ucap Ken dengan girang sambil mengangkat kedua tangannya.


Dev terkekeh dan segera mengangkat Ken dari stroller.


"Jagoan Daddy dari mana? Seneng banget," Dev mencium gemas perut Ken, sehingga terdengar gelak tawa Ken.


"Dev, sudah. Nanti Ken muntah. Dia baru selesai makan," tegur Sera.


Sera meninggalkan anak dan suaminya di teras depan. Sera menuju dapur dan membersihkan alat makan Ken tadi. Pikiran Sera masih melayang tentang Risa yang diceritakan oleh Mommy mertuanya tadi.


Sera tidak terlalu jelas siapa perempuan yang bicara dengan Mommy mertuanya tadi. Hanya saja Sera curiga jika Risa yang diceritakan tadi adalah Risa yang bekerja di Cafe Dev dulu.


Perasaan gundah gulana kini menyerang dalam hati dan pikiran Sera. Sera mempertanyakan keberadaan Risa di daerah yang sama dengan mereka.


Apa ini sebuah kebetulan? Sera menggelengkan kepalanya tidak tahu. Apa Dev tahu tentang keberadaan Risa di sini? Sera juga menggelengkan kepalanya tidak tahu.


Setelah mencuci bersih alat makan Ken, Sera kembali ke teras untuk menemui anak dan suaminya.


Namun langkahnya terhenti sebelum mencapai pintu keluar.


Orang yang memiliki nama yang sempat menjadi pikirannya tadi, kini sedang berbicara dengan suaminya.


Apa suaminya sudah berkhianat padanya? Apa suaminya menutupi keberadaan Risa darinya? Apa suaminya sekarang mulai kembali akrab dengan perempuan itu?


Kedua tangan Sera mengepal di kedua sisi tubuhnya. Setetes air mata berhasil jatuh di pipinya.


Perlahan tapi pasti Sera melangkahkan kakinya menuju di mana suaminya dan Risa sedang berbicara.


Dev yang terkejut karena ada seseorang ingin mengambil putranya, sempat menyingkir. Tetapi saat menyadari itu adalah istrinya, Dev menjadi salah tingkah.


Dev seakan ketahuan sedang berselingkuh oleh istrinya sendiri. Bibir Dev seketika kelu tidak bisa bergerak. Dev melihat pancaran mata istrinya yang menyorotkan kemarahan.


Sera bukan orang yang meledak-ledak saat marah. Sera akan memilih diam dan mengambil tindakan tanpa berkata-kata.


Dev melirik Risa sejenak yang tersenyum manis kepada Dev, tanpa merasa bersalah sama sekali.


Tanpa berpikir dua kali, Dev mengejar anak dan istrinya ke dalam. Panggilan Risa sama sekali tidak Dev pedulikan.


Risa tersenyum licik melihat sebuah drama keluarga di depan matanya. Risa berbalik arah menuju di mana acara kantornya diadakan.


***


Setelah memandikan Ken dan juga memakaikan pakaian untuk putranya. Sera kemudian keluar kamar dan memberikan Ken pada Mommy mertuanya.


Sera melewati Dev begitu saja tanpa bicara sepatah katapun. Sera kembali ke kamar.


Dev yang sadar didiamkan oleh istrinya sejak tadi menjadi salah tingkah. Ingin menyapa tetapi takut sapaannya berakhir tidak dibalas.


Ingin ikut diam, tetapi justru akan semakin membuat hubungan mereka menjadi tambah rumit.


Jane melihat ada sesuatu yang salah antara putranya dan menantunya. Jane menatap Dev penuh tanya sambil membuai Ken dalam pelukannya.

__ADS_1


"Kalian ada masalah?" tanya Jane penuh selidik.


Dev mengalihkan perhatiannya dari kepergian istrinya kepada mommynya. Dev tidak menjawab.


"Selesaikan masalah kalian baik-baik. Mommy gak ingin imbasnya pada Ken," keterdiaman Dev cukup menjawab pertanyaannya tadi.


Jane berdiri hendak pergi namun berbalik kembali menatap putranya.


"Apabila wanita berkata tidak apa-apa, justru sebaliknya, itulah yang wanita yang rasakan."


Jane berlalu dari sana dan membawa Ken ke dalam kamarnya, yang sudah tertidur pulas.


Dev masih terdiam di sana. Dev bingung harus berkata apa pada istrinya. Karena Dev yakin kalau Sera sudah salah paham padanya.


Sebenarnya tadi pagi sembari menunggu Sera kembali ke depan, Dev mengajak Ken untuk berjalan di sekitar halaman vila.


Entah sengaja atau tidak disengaja, Dev sendiri tidak tahu. Risa tiba-tiba muncul di hadapannya dan menyapa dirinya dan juga Ken.


Dev tidak mungkin mengusir Risa dan tidak membalas sapaan Risa. Namun saat baru saja dia mulai berbincang dengan Risa, Sera datang dan mengambil Ken dari gendongannya tanpa bicara.


Dev menghela nafasnya panjang dan mengusap wajahnya kasar. Dev berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kaki panjangnya menuju kamar.


Dev tidak bisa mendiamkannya. Benar kata mommynya, masalah ini harus segera diselesaikan.


Dev membuka pintu kamar perlahan dan melihat istrinya yang sedang melipat pakaian bersih Ken ke dalam koper.


"Sayang, ak–" kalimat Dev terputus dengan pertanyaan Sera.


"Kapan kita pulang ke Manila?"


Dev melihat istrinya yang bicara padanya tanpa saling tatap. Sera tidak pernah seperti ini. Semarah-marahnya Sera, istrinya masih mau bicara sambil menatap wajahnya.


"Setelah pekerjaanku selesai, kita kembali ke Manila," jawab Dev pelan, lalu duduk di sisi tempat tidur. Sementara Sera melantai karena membereskan pakaian Ken.


"Kapan kita pulang dari sini?" tanya Sera lagi.


"Besok," jawab Dev sambil menatap sedih istrinya.


"Kalo begitu lusa kita balik ke Manila," ucap Sera dengan tegas.


"Tapi sayang, kerjaanku mas–"


"Kamu boleh tinggal di sini lebih lama kalo kamu mau. Tapi lusa aku dan Ken akan kembali ke Manila," Sera mengangkat kepalanya dan menatap suaminya tanpa ada rasa takut.


"Sayang, kamu kok gini. Bukannya kita sudah sepakat kalo kita kembali ke sana sete–"


"Kesepakatan kita berubah sejak tadi pagi. Aku dan Ken bisa kembali ke Manila tanpa kamu."


"Say–" lagi-lagi ucapan Dev terpotong.


Sera berdiri dan meninggalkan Dev tanpa suara lagi.

__ADS_1


__ADS_2