
Makan malam mereka kembali hangat, setelah serangkaian persoalan semuanya terselesaikan dengan caranya masing-masing.
Makan malam diwarnai dengan canda tawa dan juga saling berbagi kisah. Ken bertepuk tangan gembira karena duduk di pangkuan sang Daddy sambil disuapi mommynya.
Sera tidak heran kenapa Kena begitu lengket dengan Dev. Ya karena saat dirinya hamil Ken, Sera sulit jauh dari Dev saat itu. Bahkan untuk urusan makan saja, Sera rela giliran makan terakhir untuk menunggu Dev menyisakan makanan untuknya.
Hanya mau makan jika makan di piring Dev. Bukan piring yang baru.
"Cucu Grandma harus makan yang banyak ya," Jane menatap gemas cucunya.
Ken tersenyum lebar, dengan satu jari telunjuk dalam mulutnya.
"Jarinya jangan masuk ke mulut, nak.." Sera menarik pelan jari Ken.
Melihat bagaimana interaksi anak cucu menantunya, David tersenyum bahagia.
"Kayaknya kalian harus kasih Ken adik," ucap David seraya menunjuk Ken.
"Itu pasti Dad. Tapi gak sekarang," sahut Dev.
"Kapan?"
"Dev sih terserah Sera kapan siapnya. Kalo Dev siap terus bikinnya," Dev terkekeh setelah melihat tatapan maut istrinya.
Dev dan Sera sudah sepakat, mereka akan memberikan Ken adik jika Ken sudah berusia lima tahun. Saat ini mereka hanya ingin mengurus Ken dulu.
"Mommy gak masalah kalian mau nambah atau gak lagi. Bagi Mommy keharmonisan rumah tangga kalian yang utama."
"Jangan sampai kalian ribut hanya gara-gara ngurus anak. Terus saling menyalahkan dan berakibat anak jadi korban. Mommy gak suka itu," sambung Jane.
"Iya Mom," kata Sera yang setuju dengan perkataan Mommy mertuanya.
Setelah makan malam, David dan keluarganya berkumpul di taman samping vila. Sambil menikmati secangkir teh panas.
Dev membungkus tubuh Sera dan Ken dengan selimut yang dibawanya dari kamar. Alex menyanyikan lagu sembari memainkan gitar dengan piawai.
David merangkul istrinya, mendengarkan suara indah Alex. Dev juga ikut bernyanyi. Dan itu menarik minat Ken ketika mendengar suara sang Daddy bernyanyi.
Taburan jutaan bintang di langit menemani malam indah Dev dan keluarga.
"Aku kangen Mama sama Papa," ucap Sera lirih.
Dev menoleh dan tersenyum hangat pada istrinya. "Aku juga. Rasanya kurang lengkap tanpa mereka juga di sini," kata Dev.
"Lusa kita sudah di Manila," sambung Dev.
__ADS_1
Sera tersenyum dan menyandarkan kepalanya di bahu Dev.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Ponsel Jane berdering dan menampilkan nama Bella dan di sana.
"Bella telepon," gumam Jane dengab tersenyum.
"Halo Bell," sapa Jane ketika mengangkat panggilan besannya.
"Halo Jane. Gimana kabarnya di sana? Apa semuanya sudah clear?"
Seperti yang Alex akui, kalau Bella sudah mengetahui masalah di antara Sera dan Dev. Bella juga tahu kalau semuanya sudah selesai. Informasi ya tentu saja didapat dari si bungsu.
"Semua aman terkendali. Gak ada masalah lagi," ucap Jane dengan semangat setelah melihat anak dan menantunya.
"Syukurlah..aku jadi lega mendengarnya. Cucu kita sehat, kan? Aku sangat merindukannya," Bella nampak bersedih di seberang sana.
Beberapa hari ditinggal cucunya, rasanya seperti bertahun-tahun. Bella rindu memeluk dan mencium cucu tampannya itu. Rindu juga mendengar tawa dan celotehan lucu Ken.
"Dia sehat dan selalu sehat. Badannya makin gendut aja. Pipinya makin bulet. Kaki tangannya gempal semua."
Bella tergelak di seberang sana mendengar perkataan Jane.
"Ya sudah, aku tutup ya. Sampaikan salamku untuk David dan yang lainnya."
Jane menyimpan kembali ponselnya di tempat semula. Dan kembali mendengar senandung indah dari Alex.
Dev merapatkan pelukannya mencari kehangatan dari tubuh istrinya. Hawa dingin terasa begitu menusuk ke dalam tulang karena di luar sedang hujan.
Sedikit bergerak dan membuka matanya perlahan. Tangannya meraih ponsel di nakas dan melihat jam di sana.
"Ternyata sudah pagi," gumam Sera.
Karena cuaca dingin Sera sampai tidak tahu jika sekarang sudah pukul 06.15 pagi. Andai saja dirinya tak melihat jam di ponselnya.
Sera melepaskan pelukan Dev perlahan dan turun dari tempat tidur, untuk mengecek putranya yang tidur di tempat tidur satunya.
"Kemana, Yang? Aku masih pengen peluk," Dev merasa kehilangan kehangatannya, ketika istrinya bangun.
"Ngecek Ken dulu," ujar Sera.
Ken masih tertidur pulas. Sera memperbaiki selimut Ken agar tetap hangat. Tak lupa Sera menaruh bantal guling di samping Ken, agar putranya tetap aman.
"Yang, cepat sini," Dev merentangkan tangannya menunggu istrinya.
Sera kembali ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Dev pelan. Dev mendekap tubuh hangat istrinya.
__ADS_1
Tanpa suara. Hanya hembusan nafas mereka yang saling bersahutan. Namun ada yang lain yang meronta minta dihangatkan juga.
Dev menatap mata istrinya lembut seolah meminta ijin untuk melakukan hal yang menyenangkan bersama. Sera yang mengerti tatapan itu, memainkan jari lentiknya di leher Dev.
Dev memejamkan matanya meresapi ulah istrinya. Sentuhan tangan Sera saja sudah membuatnya sangat bergairah. Apalagi sentuhan yang lain.
Dev membalas sentuhan istrinya dengan membenamkan ciuman lembut di bibir mungil Sera. Semakin lama ciuman itu makin membuat suasana bertambah panas.
Hanya butuh waktu kurang beberapa detik, Dev dengan lihainya sudah membuat Sera polos tanpa mengenakan apa-apa lagi.
Suara rintik hujan di luar sana tidak mempengaruhi kegiatan panas keduanya. Cuaca memang sangat mendukung untuk pasangan muda suami istri itu memadu kasih.
Keringat bercucuran di sekujur tubuh Dev demi mendapatkan kepuasannya bersama Sera.
"Aahhh..." suara desahan panjang Dev lantang terdengar saat mencapai puncaknya.
Dev menghempaskan tubuhnya ke samping Sera dan mengecup kening Sera.
"Thanks, Yang."
Sera memeluk tubuh Dev sebagai jawaban darinya.
Suara tangis Ken seketika mengalihkan perhatian keduanya ke arah putra mereka. Ken terduduk dengan air mata berlinangan membasahi pipi gembulnya.
Dev terkekeh lalu melihat wajah cemberut Ken. Untungnya Dev dan Sera terbungkus selimut. Dev mengambil celana pendeknya dari lantai, dan mengenakannya dengan cepat dari balik selimut.
Suara tangis Ken semakin nyaring karena merasa dicueki kedua orangtuanya. Ken sudah bergerak ingin turun dari tempat tidur.
"Haapp!" dengan cepat Dev menangkap tubuh Ken sebelum terjatuh ke lantai.
Sera tersenyum dan merentangkan tangannya menyambut Ken dari tempat berbaringnya. Dev membawa Ken dan membiarkan Ken mencari sumber energinya sendiri dari sang Mommy.
Ken naik ke tubuh Sera dan tertawa melihat apa yang dicari, ada di sana. Mulut Ken terbenam di dada Sera dan menikmati makanan sekaligus minuman sehat miliknya.
"Ken, Daddy boleh minta?" Dev sengaja menariknya dari mulut Ken.
Ken cemberut dan menjauhkan tangan daddynya dari dada mommynya.
Dev kembali berulah melakukan hal yang sama sambil tertawa. Merasa diganggu, Ken memberikan bagian belakangnya ke wajah Dev, sebagai bentuk protesnya.
Sera terkekeh dengan ulah Ken. Sera mengusap lembut kepala putranya. Membiarkan Ken sepuasnya menyusu padanya.
"Ken, kamu kentut ya?" Dev menutup hidungnya dan menjauhkan kepalanya dari kaki Ken.
Ken menoleh ke belakang dan tertawa mengejek daddynya. Diikuti Sera yang ikut tertawa.
__ADS_1
"Pintar ya sekarang jahilin Daddy," ujar Dev lalu menggelitik pinggang Ken lalu menciumi punggung Ken gemas.