DeRa LoVe

DeRa LoVe
Harga Diri Istriku


__ADS_3

"JAGA MULUT KAMU!!!" muka Sera merah padam karena emosinya.


Untuk pertama kali dalam hidup Sera dia berbuat kasar sampai menampar seseorang. Selama ini Sera selalu diminta kedua orangtuanya untuk selalu bersikap baik.


Tapi untuk yang satu ini, perintah orangtuanya dengan sangat terpaksa dia Abaikan.


Risa menyentuh pipinya yang perih dan panas akibat tamparan Sera. Dia tidak menyangka jika dia diperlakukan seperti ini, oleh wanita yang sudah merebut pujaan hatinya.


Semua mata pegawai yang ada di sana terkejut melihat adegan tadi. Bahkan ada beberapa pengunjung juga yang melihat kejadian tersebut.


"Kenapa kamu marah? Saya benarkan?" Risa masih menantang Sera dengan kata-kata yang memancing emosi Sera.


Sera mengepalkan kedua tangannya. Sera ingin sekali menyeret Sera ke luar Cafe dan menghabisinya di luar sana. Namun Sera masih berusaha untuk menahannya.


Tetapi kata-kata Risa selanjutnya sudah tidak mampu lagi menahan kemarahan seorang Sera. Sera tidak pernah menerima hinaan apalagi tuduhan, yang jelas-jelas tidak dia lakukan.


"Hanya demi harta kamu rela menyerahkan tubuh kamu untuk Dev. Saya yakin Dev terpaksa menikahi kamu karena sudah terlanjur hamil di luar nikah,"


PLAAAAAKK


PLAAAAKKK


Tanpa ampun Sera menampar pipi Risa berulang kali. Risa tersungkur ke lantai dengan darah segar yang keluar dari kedua sudut bibirnya.


Pegawai laki-laki yang melihatnya segera melerai dan mengamankan situasi. Salah satu pegawai lain mengetuk pintu ruang kerja Dev, dan menceritakan apa yang terjadi.


Sontak saja membuat Dev panik dan meminta tolong pada pegawai tersebut untuk menjaga putranya. Dev terkejut bukan main melihat istrinya yang terlihat sangat kacau.


"Sayang kamu kenapa?" Dev memeluk istrinya dan menangkup wajah istrinya.


Tubuh Sera gemetar, jantungnya berdegup kencang. Lelehan air matanya juga membasahi sudut matanya.


Dev menoleh ke belakang dan terkesiap melihat keadaan Risa yang tidak kalah kacaunya. Sementara pengunjung Cafe yang sempat melihat kejadian tadi, kembali ke kursi mereka masing-masing.


Seorang pegawai wanita memberikan segelas air putih untuk Sera. Dev membawanya ke salah satu meja di salah satu sudut tempat para pegawai Dev biasa beristirahat.


Sera meminum airnya sambil mengatur nafasnya agar normal kembali. Dev masih belum mendengar dari mulut istrinya bagaimana kejadiannya. Dev hanya mendengar dari salah satu pegawainya saja.


Risa dibantu berdiri oleh yang lain. Risa menatap Sera dengan penuh kebencian. Apalagi Dev bersama Sera.


"Risa! Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?" Dev berbalik dari duduknya dan menatap Risa menuntut penjelasan.

__ADS_1


"Tidak ada yang harus aku katakan. Semuanya sudah jelas," ucap Risa dengan ketus.


"Maksud kamu apa?" Dev menjadi semakin tidak mengerti dengan tingkah dan juga kata-kata Risa.


Sungguh Risa yang dia kenal dengan Risa yang sekarang sangat berbeda jauh.


"Apa sebelum kamu menerima pegawai kamu bekerja, sudah dites kejiwaannya?" tanya Sera tiba-tiba dengan suara cukup nyaring.


Dev kembali menoleh pada istrinya dengan penuh kebingungan.


"Maksud kamu apa Yang?"


"Kamu tahu, di depan semua pegawai kamu dan juga pengunjung, wanita itu berani sekali merendahkanku. Aku dihina Dev! Aku dituduh melakukan sesuatu yang gak pernah aku lakukan!" Sera menunjuk wajah Risa dengan kilatan kemarahan.


Mendengar aduan Sera kepada Dev, membuat Risa jengah dan semakin menganggap rendah Sera dengan tatapan matanya.


"Apa aku menikah denganmu karena aku yang memaksa?" tanya Sera tanpa mengalihkan tatapannya dari wanita penggoda suaminya itu.


Dev menggelengkan kepalanya pelan.


"Apa aku menikah denganmu karena aku sudah hamil duluan?"


"Apa aku menikah denganmu karena kamu orang kaya?"


Sekali lagi Dev menggelengkan kepalanya. Dan semua itu disaksikan semua pegawai Dev termasuk Risa sendiri.


Jika pegawai Dev percaya dengan apa yang dikatakan Sera maupun respon Dev. Maka tidak dengan Risa. Dia tetap pada keyakinan dirinya, jika itu hanya untuk menutupi aib dari orang lain.


"Apa aku salah jika aku membela diriku yang sudah dihina orang dengan tuduhan gak benar? Apa aku salah Dev?" suara Sera bergetar karena menahan gejolak amarah dalam dirinya.


"Gak sayang. Kamu sama sekali gak salah. Semua yang kamu katakan tadi benar," Dev mengusap bahu istrinya agar lebih tenang.


Jujur Dev menjadi merasa sangat bersalah, karena dirinya, Sera mendapatkan hal yang tidak mengenakkan ini.


Tujuan Dev mengajak anak istrinya adalah agar dia lebih semangat bekerja. Tapi justru hal yang tidak dia sangka malah terjadi kepada istrinya.


"Apa sekarang kamu mengerti kenapa sampai aku melakukannya?"


Dev mengangguk dan memeluk istrinya sambil membelai rambut Sera.


"Aku ngerti sekarang. Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk membela harga diri istriku," bisik Dev lembut.

__ADS_1


Setelah berkata demikian, Dev meminta Sera untuk kembali ke ruangannya lebih dulu. Karena ada yang harus Dev selesaikan pada orang yang sudah dengan berani menyakiti istrinya.


Sera masuk ke dalam ruang kerja Dev dan sempat terkejut, karena ada orang lain di dalam sana bersama Ken.


"Maaf Bu. Saya tadi diminta Pak Dev untuk menjaganya," ucapnya sambil menunduk.


"Iya. Terima kasih," balas Sera singkat.


Pegawai tadi pun segera keluar dari sana dengan rasa canggung. Auranya sangat mencekam, batin pegawai itu.


***


Satu jam kemudian, Dev meminta Risa untuk datang menemuinya. Ketika Risa masuk, Dev mempersilahkan Risa untuk duduk. Risa mengambil tempatnya dan duduk di depan Dev.


Dev meletakkan sebuah amplop putih di atas meja, dan mengangsurnya kepada Risa.


"Apa ini Dev?" Risa mengangkat kepalanya dan menatap Dev penuh tanya.


"Itu adalah gaji kamu bulan ini, aku bayar penuh. Ditambah pesangon sebanyak 6 bulan gaji kamu. Maaf, dengan sangat terpaksa aku harus memecat kamu dari sini." Ucap Dev tegas.


"Apa maksud kamu Dev? Kenapa kamu memecat aku seperti ini? Ini gak adil Dev! Kamu membela istri kamu yang baru kamu kenal, dibanding aku yang sudah lama mengenal kamu!!" Risa berdiri dari duduknya dan menatap Dev sambil menahan air matanya.


"RISA!! kamu sadar apa yang sudah kamu perbuat sama istriku! Asal kamu tahu aku mengenal istriku sejak kami kecil. Apa kamu lupa kalau kita saling kenal itu hanya karena kita satu SMA? Apa kamu lupa??" Dev tidak bisa menerima kelakuan Risa yang sudah kelewat batas.


"Aku bisa tahan kalau diriku yang dihina. Tapi aku tidak akan tahan dan biarkan, jika itu terjadi pada anak dan istriku. Aku menganggap kamu sebagai teman baik selama ini. Tapi aku gak nyangka kamu berbuat hal sejauh ini," Dev menatap Risa dengan tatapan yang sulit dipahami oleh Risa.


"Tapi aku menganggap kamu lebih dari sekedar teman. Aku mencintai kamu, Dev. Aku bahkan bisa lebih dari istri kamu!!" Risa mendekati Dev menangis di depannya.


Dev terbahak mendengar pengakuan cinta Risa padanya. Bukan bermaksud merendahkan Risa. Hanya saja Risa salah tempat. Dev tidak pernah menerima cinta wanita lain, selain istrinya. Karena Dev hanya mencintai istrinya bukan wanita lain.


"Risa, kamu salah paham. Asal kamu tahu, kami menikah karena kami saling mencintai. Bukan karena MBA. Istriku hamil satu tahun setelah kami menikah. Dan satu lagi yang harus kamu ketahui, aku hanya mencintaiku istriku sampai kapanpun. Jadi gak akan pernah ada wanita lain dalam hidupku," jelasnya.


Dev mengambil satu amplop lagi dan memberikannya pada Risa.


"Itu adalah surat rekomendasi dariku supaya kamu bisa bekerja di sana. Nama perusahaan tempat kamu akan bekerja sudah ada di sana."


"Oh iya satu lagi! Ini adalah nama seseorang yang terkenal di dunia Fashion. Cari tahu tentang orang itu, maka kamu akan tahu siapa istriku sebenarnya." Dev memberikan kepada Risa secarik kertas bertuliskan nama Mama mertuanya.


"Terakhir, sebelum kamu keluar dari sini, minta maaf pada istriku!" Dev menatap tajam Risa.


"Aku gak akan pernah meminta maaf pada wanita itu! Gak akan pernah!!"

__ADS_1


__ADS_2