
"Hah?" Dev terkejut dengan penjelasan daddynya.
Dev mengalihkan pandanganya dan melihat Sera yang berada dalam pelukan mommynya. Dengan perlahan Dev beranjak dari sana sambil menggendong Ken.
"Aawww!!" Dev mengaduh kesakitan karena mendapat pukulan dari Jane di punggungnya.
"Kamu kurang kerjaan banget ya! Kalo sampai Sera kenapa-kenapa karena ulah kamu, Mommy bakal coret kamu dari kartu keluarga!" ancam Jane dengan tatapan ingin memakan Dev hidup-hidup.
"Lihat! Sera masih belum sadarkan diri karena ulah kamu," ujar Jane lagi sambil menatap Sera.
"Dev gak tau apa-apa Mom. Dev aja kaget tau kalian semua ada di sini," Dev berkata dengan jujur.
Dev benar-benar tidak tahu menahu dengan semua yang dituduhkan mommynya padanya. Bahkan Dev saja tidak tahu keberadaan mereka semua tadi, andai saja Ken dan Alex tidak menghampirinya.
"Bohong kamu! Bisa-bisanya bilang hilang tenggelam. Awas kamu kalo bikin ulah kayak gini lagi. Mommy gak akan maafin kamu!" Jane masih merasa kesal dengan putranya.
Jane sampai tidak habis pikir bisa-bisanya Dev mengatakan hal konyol seperti itu. Kalau sampai itu terjadi, tentu saja dirinya pasti akan merasa sedih karena kehilangan putra satu-satunya.
Ditambah lagi dia akan merasa sangat kasihan dengan nasib cucu dan menantunya kelak.
Jane menghela nafasnya kasar sambil mengusap kepala Sera lembut, yang masih belum sadarkan diri.
"Dev beneran gak tau Mom. Dev juga agak ada bilang hilang tenggelam," Dev masih membela dirinya dan tidak ingin disalahkan atas hal yang tidak dia perbuat.
"Lalu kenapa Alex bilang kayak gitu kalo bukan kamu yang suruh?!" Jane menatap Dev dan Alex secara bergantian.
Tentu saja tatapan Jane sangat mengintimidasi keduanya.
Dev menoleh dan menatap Alex meminta penjelasan. Namun Alex malah menyatukan kedua tangannya di dada sembari berucap kata 'Maaf' tanpa suara.
Dev mendengus dan kembali melihat istrinya yang masih berada dalam pelukan Mommy tercantiknya itu. Ya walaupun cerewet, ucap Dev dalam hatinya sambil terkekeh.
"Kenapa kamu senyam senyum gitu? Ngeledekin Mommy ya kamu," ucap Jane kesal.
"Sayang, sudah. Urus Sera dulu. Ngomelnya nanti lagi disambung," ujar David sembari menepuk pundak istrinya pelan.
Telinga David terasa sakit dan kepalanya bertambah pusing mendengar omelan istrinya yang tidak ada tanda-tandanya akan berhenti.
"Kamu juga sama! Kamu sama Dev sekongkol, kan? Ngaku!" tuduh Jane seraya menatap suaminya penuh curiga.
"Ya Tuhan, Yang. Mana ada aku kayak gitu," David tidak menerima tuduhan istrinya dengan menatap satu tangannya ke atas.
"Gak ada jatah sebulan!"
Mata David terbelalak mendengar perkataan istrinya. David menoleh menatap Dev dengan tatapan kesal.
__ADS_1
"Bukan salah Dev, Dad," ujar Dev mengangkat kedua tangannya ke atas sambil mengedikkan bahunya.
"Terus salah siapa?" tanya David kesal.
"Ya mana Dev tau," jawab Dev santai.
"Angkat Sera ke mobil. Kita pulang!" titah Jane tak terbantahkan.
Dev tak berani berkata apa-apa lagi. Perkataan mommynya itu adalah sebuah perintah mutlak tanpa bantahan. Dev mengangkat tubuh Sera dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Sementara Ken cemberut karena tidak ingin pulang dari sana. Padahal bibir Ken sudah sedikit membiru karena kedinginan. Tapi karena asiknya bermain air, Ken mengesampingkan rasa dinginnya.
Dengan susah payah Alex membujuk keponakannya agar mau pulang. Dengan janji akan menemani Ken bermain seharian. Akhirnya Ken tersenyum dengan bujukan Alex.
Di dalam mobil, Sera masih tak sadarkan diri. Dev terus memperhatikan wajah Sera yang berada dalam pelukannya, sembari menggenggam tangan istrinya.
Tiba di vila, Dev keluar mobil lalu mengangkat kembali tubuh istrinya untuk dibawa masuk ke dalam.
Jane terus mengomel karena jengkel dengan ulah anak dan suaminya. Ken hanya menatap bingung Granma yang terus bicara tanpa dia mengerti.
Ken hanya pasrah dalam gendongan granmanya dan menatap Alex yang berada di belakang.
Alex tersenyum sambil mengajak Ken bermain cilukba. Ken tertawa senang karena ulah omnya itu.
***
"Uuugghhhh," Sera menyentuh kepalanya sambil meringis menahan rasa pusing.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Dev segera menghampiri istrinya dan duduk di tepi tempat tidur.
Sera membuka perlahan matanya dan ingin duduk. Namun Sera dikejutkan dengan seseorang yang sudah membuatnya kepikiran sejak tadi pagi.
"Dev," ucap Sera seolah tak percaya menatap wajah suaminya.
Sera menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya diiringi linangan air mata membasahi pipinya.
"Dev, kamu masih hidup?" tanya Sera seakan masih tidak percaya jika Dev ada di depannya saat ini.
Dev merasa sangat bersalah pada istrinya. Tangannya membalas menggenggam kedua tangan Sera di wajahnya.
"Aku masih hidup, Yang. Aku gak kemana-mana," ucap Dev lembut.
"Dev, maafin aku. Maafin sikapku tadi pagi sama kamu. Maafin aku," Sera memeluk suaminya dan menangis dalam dekapan suaminya.
"Kamu gak salah. Aku yang salah. Aku yang gak bisa menjaga perasaan kamu. Maafin aku," Dev membalas pelukan istrinya dan memberikan ciuman dalam di puncak kepala Sera.
__ADS_1
Dev tersentak saat tiba-tiba Sera melepaskan pelukannya. Raut wajah Sera berubah dari yang sedih menjadi marah. Dev menelan salivanya susah payah saat menyadari perubahan istrinya.
"Persis banget sama Mommy kalo lagi moodnya jelek gini," batin Dev.
"Ke–kenapa, Yang?" Dev kembali menelan salivanya susah payah dan menyentuh wajah Sera.
"Kamu yang kenapa? Ngapain bohong bilang hilang tenggelam?" dengan kasar Sera menepis tangan Dev dari wajahnya.
"Aku gak ad–"
"KAMU GAK MIKIRIN GIMANA AKU SAMA KEN KALO KAMU PERGI? KAMU MAU BIKIN AKU JADI JANDA TERUS KEN JADI ANAK YATIM. GITU HAH??!!!"
Suara Sera meninggi seketika dengan kilatan emosi di matanya.
"Ya Tuhan! Aku gak ada kepikiran kayak gitu Yang," Dev mencoba menenangkan istrinya dan ingin memeluknya.
Namun sayang, lagi-lagi tangan Dev ditepis kasar oleh Sera.
"KAMU TEGA DEV! KAMU TEGA!! MAKSUD KAMU APA BIKIN LELUCON KAYAK GITU?? KAMU BENERAN MAU NINGGALIN AKU TERUS NIKAHIN RISA. IYA??!!"
Sera sudah tidak mampu lagi mengontrol emosinya. Sera melempar bantal ke wajah Dev dengan membabi buta.
Dev terperangah mendengar semua ucapan istrinya. Jelas tidak mungkin dia berpikir untuk meninggalkan istrinya lalu menikahi wanita lain.
Hanya Sera satu-satunya istrinya dan tidak akan pernah ada yang lain. Dengan cepat Dev memeluk istrinya untuk menenangkannya.
Sera berontak dalam pelukan Dev dengan tubuh yang bergetar karena menangis. Sekuat tenaga Dev menenangkan istrinya dan tidak melepaskan dekapannya.
Dev tahu istrinya masih kesal padanya karena kejadian tadi pagi. Ditambah lagi Sera menyadari kalau berita dirinya hilang tenggelam adalah bohong.
Dev menahan rasa sakit akibat puluhan Sera bertubi-tubi di dadanya. Dev membiarkan Sera melampiaskan semua amarah dan kekesalannya. Asalkan istrinya bisa tenang kembali.
Sementara di lantai bawah, Jane, David dan Alex serentak mengangkat kepala mereka. Pandangan mereka tertuju ke lantai atas.
Saat Jane ingin berdiri, David mencegah istrinya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Biarkan Dev dan Sera selesaikan masalah mereka. Aku yakin Dev bisa mengatasinya," ujar David seraya meminta istrinya untuk duduk kembali.
"Tap–"
David kembali menggelengkan kepalanya, tanda untuk tidak ikut campur masalah putra mereka. Jane kembali duduk dengan pasrah, namun hatinya merasa tidak nyaman.
Alex yang ada bersama mereka hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Ini salahku," batin Alex dengan helaan nafasnya.
__ADS_1