
Ken lebih dulu bangun dari kedua orang tuanya. Dengan santainya bayi belum berumur 1 tahun itu, duduk di atas perut sang Daddy.
Beruntung Dev masih bisa sadar kalau yang berada di atas perutnya itu adalah Ken. Walau masih setengah tidur, Dev berusaha membuka matanya.
Wajah bantal Ken, dengan tampilan rambut tebalnya yang acak-acakan. Membuat Dev tidak bisa menahan tawanya.
Dev memegang pinggang putranya yang sedang mengoceh mengajaknya bicara di subuh hari. Ken memang pintar memilih waktu, agar dia tidak hanya sendiri yang bangun.
Sera membalikkan tubuhnya, namun terkejut karena merasakan tepukan sedikit kasar di wajahnya. Mata Sera langsung terbuka karena terkejut.
Sera tersenyum melihat siapa pelakunya. Ken sambil mengulum jarinya di dalam mulutnya melihat sang Mommy dengan tertawa lucunya khas anak bayi.
Karena tidak tahan dengan kelakuan Ken yang menggemaskan, Sera menggigit sayang kaki mungil Ken yang berada di atas lengannya.
Ken kembali tertawa karena ulah mommynya. Dev juga ikut menggelitik perut Ken karena gemas.
Subuh itu mereka bertiga habiskan dengan bercanda. Tawa riang Ken sampai terdengar ke kamar orangtua Dev.
Jane ikut tertawa mendengar suara tawa cucu kesayangannya. David mengeratkan pelukannya sehingga tubuh Jane semakin merapat ke tubuh suaminya.
Paha Jane tidak sengaja menyentuh milik suaminya yang sudah menegang. Jane mendongak dan bibirnya tanpa sengaja menyentuh dagu suaminya.
Tanpa membuka matanya, David memberikan kecupan di bibir istrinya. Paha Jane yang bergerak-gerak membuat David mengerang karena keenakan.
"Yang, kamu pengen tempur lagi?" tanya David tanpa membuka matanya.
"Semalam masih kurang puas?" lanjut David lagi.
"Apaan sih? Paha aku gatal. Tanganku susah menggapainya," ujar Jane.
Dengan nakalnya tangan David malah sudah berada di sana dan memainkan sesuatu yang membuat Jane juga mengerang keenakan.
Karena sudah tidak tahan, David menyibak selimut yang membungkus tubuh polos mereka. Dan pergulatan panas terjadi lagi di subuh yang dingin itu.
***
Dev kembali mengajak anak dan istrinya ke Cafe miliknya. Dev sudah mengunjugi dua Cafe miliknya yang lain. Kini Dev kembali ke Cafe induk.
Dev membuka pintu mobil untuk anak dan istrinya. Lalu merangkul Sera sampai di ruang kerjanya. Melalui panggilan telpon dari meja kerjanya, Dev meminta salah satu karyawannya untuk membawa makanan dan minuman ke ruangannya.
Pesanan yang Dev minta datang. Risa membawanya dan meletakkannya di atas meja kerja Dev. Risa sempat melirik Sera sebentar lalu beralih pada Dev. Kemudian di keluar dari sana tanpa suara.
Mata Risa kembali melihat pintu ruang kerja Dev yang tertutup itu. Hatinya masih dibakar rasa cemburu karena adanya Sera di sana.
"Bisa-bisanya dia mendapatkan Dev semudah itu," batin Risa menahan rasa cemburunya.
__ADS_1
Risa berpikir memang Sera mendapatkan Dev dengan cara memberikan tubuhnya, sehingga Dev terjerat dan berakibat hamil di luar nikah. Lalu Dev terpaksa menikahi Sera.
Karena mustahil di usia semuda itu Dev sudah menikah dan berstatus seorang Ayah. Risa juga menyakini kalau Sera tidak menyelesaikan sekolahnya karena hamil.
Risa tidak mengetahui bagaimana perjuangan Dev untuk bisa mendapatkan hati Sera. Risa tidak tahu bagaimana keadaan Dev ketika Sera menolak bicara padanya, hanya demi sebuah permintaan maaf Dev.
Risa tidak mengetahui semua itu. Risa hanya tahu kalau Dev menikahi perempuan yang salah.
"Yang, kok dia tatapannya gitu terus ke aku?" tanya Sera pada suaminya, sesaat setelah kepergian Risa.
"Siapa?" tanya Dev yang fokus dengan pekerjaan di depan laptop.
"Siapa lagi kalau bukan teman kamu itu," Sera berdecak tidak suka.
Sangat jelas sekali kalau Risa menatapnya dengan tatapan tidak suka. Rasanya Sera ingin sekali menenggelamkan Risa di kolam ikan itu.
Bisa-bisanya Risa tidak menganggap dirinya sebagai istri bosnya, yang harusnya dia hargai, batin Sera dengan kesal.
"Cuekin aja. Selama dia gak nyentuh kamu dan putra kita, aku gak akan tanggepin dia. Karena itulah aku sengaja ngajak kalian berdua ikut aku," ucap Dev dengan tenang.
"Biar apa?" tanya Sera.
"Biar kamu tahu dan bisa lihat sendiri suami kamu ini gak akan tergoda sama yang lain," jelasnya agar istri cantiknya itu tidak marah kepadanya.
"Tapi kalau aku gak kamu bawa, bakal tergoda dong," Sera sengaja memancing reaksi suaminya.
"Ada atau gaknya kamu di samping aku, aku gak bakalan ke lain hati. Aku berjuang buat dapetin kamu gak mudah. Masa aku mau biarin gitu aja rumah tangga kita berantakan." ujar Dev yang membuat hati Sera berdesir seketika.
"Aku minta kamu tetap percaya sama aku apapun yang terjadi. Kamu sama Ken adalah prioritas utama buatku. Jadi jangan pernah ragukan aku," Dev mencium lembut istrinya dan mencium kening istrinya.
"Makasih," Sera memeluk tubuh suaminya.
Ken mengerjapkan matanya dengan apa yang dilakukan kedua orangtuanya.
"Det..det..det.." Ken memanggil daddynya yang masih sibuk dengan mommynya.
Dev melirik Ken lalu terkekeh. Dev melepaskan pelukannya dan menggendong putra tampannya itu. Dev mendudukkan Ken di pangkuannya sembari jari tangannya lincah di atas keyboard laptopnya.
"Yang, kita punya tugas kuliah baru dari Prof.Smith," Sera memberitahukan suaminya setelah mendapat pesan grup di ponselnya.
"Apa tugasnya?" Dev menghentikan sejenak kegiatannya.
"Besok beliau kasih materi pake zoom jam 9 pagi," kata Sera.
"Ada yang lain?"
__ADS_1
"Gak cuma itu doang. Kamu ke Cafenya gimana besok?" Sera menatap suaminya yang sedang memangku dagunya.
"Selesai nge-zoom baru kita ke Cafe," jawab Dev dan melanjutkan lagi pekerjaannya.
***
Sera kembali mengancing kemeja setelah berhasil melepaskan dirinya dari Ken. Bayi gembul itu kini tertidur pulas karena sudah merasa kenyang.
Beruntung Dev menyediakan tempat istirahat dia ruang kerjanya. Karena sebelum kembali ke Indonesia, Dev meminta pada salah pegawainya agar membeli tempat tidur yang berukuran sedang.
Dev memesannya karena tujuannya adalah saat dia bekerja, anak dan istrinya juga ada bersamanya. Ketika anak istrinya lelah, mereka bisa beristirahat selagi menunggunya sampai selesai.
"Yang aku keluar dulu. Mau pesan minuman," ujar Sera setelah merapikan dirinya.
"Biar aku yang pesan dari sini," Dev mencegah istrinya keluar.
"Gak. Nanti perempuan itu lagi yang mengantarnya kesini," tolak Sera dengan cemberut.
Dev tertawa." Ya baiklah kalo begitu," ujar Dev sambil menahan senyumnya.
Sera memesan minuman yang diinginkannya. Saat dia berbalik tanpa sengaja minuman tadi tumpah dan mengenai baju yang dipakai Sera.
"Maaf, saya tidak sengaja," Risa menyadari jika yang dia tabrak ini adalah istri Dev.
Sera tidak menyahutnya. Sera membersihkan bekas minuman tadi pakai tisu.
"Sekali lagi saya minta maaf. Saya sungguh tidak sengaja. Kalau Ibu mau, saya bisa mencucinya," Risa menawarkan dirinya untuk membersihkan pakaian Sera.
"Tidak perlu. Saya punya baju ganti," kata Sera lalu berjalan meninggalkan Risa tanpa memesan minuman lagi.
Tapi baru beberapa langkah, perkataan Risa membuat sera menghentikan niatnya untuk pergi.
"Tapi Bu, itu nodanya sulit hilang. Sama seperti aib. Sampai kapanpun tidak akan pernah hilang dari ingatan," Risa menyeringai licik karena berhasil memancing emosi Sera.
Sera menghentikan langkahnya lalu perlahan berbalik dan berjalan maju ke arah Risa. Sera bukan orang bodoh yang tidak mengerti makna dari perkataan Risa padanya.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Sera dengan tatapan tajamnya mengarah kepada kedua mata Risa.
Risa bukanya meras takut, malah menyeringai sambil terkekeh. Para karyawan lain yang ada di sana hanya bisa melihat adegan itu tanpa bisa berbuat apa-apa.
Mereka tidak menyangka jika Risa yang selama ini mereka kenal pendiam, ternyata berani berkata kasar pada istri bosnya sendiri.
Mereka tahu kalau Dev dan Risa adalah teman sekolah dulunya. Sehingga mereka berpikir kalau Sera juga merupakan teman sekolah Risa dan Dev.
"Seperti yang saya bilang tadi. Aib akan susah hilangnya biar kita dikubur pake cara apapun. Saya jadi ingin tahu tips dari Ibu buat dapatin laki-laki kaya seperti Pak Dev. Mungkin Ibu bisa ajar–"
__ADS_1
PLAAAKK
"JAGA MULUT KAMU!!!"