DeRa LoVe

DeRa LoVe
Ditutup Dengan Yang Nikmat


__ADS_3

"Sayang, aku mohon tenanglah. Aku gak ada niat buat bohongin kamu. Aku sama sekali gak tau masalah itu," ujar Dev berusaha untuk menyakinkan Sera bahwa semuanya tidak seperti yang Sera pikirkan.


"Bohong! Kamu bohong! Buktinya kamu ada di sana, di air terjun itu. Kamu bilang kamu bakal ajak aku kesana. Nyatanya kamu kesana sendiri. Kamu mau ketemuan sama Risa, kan? Iya, kan?!!" Sera kembali menuduh Dev dan menjauh dari tubuh Dev.


Sakit rasanya Dev mendengar semua tuduhan Sera atas dirinya. Dev ingin berteriak dan menegaskan bahwa semuanya tidak benar.


Namun Dev tahu, berteriak dan membentak Sera justru akan membuat keadaan akan semakin bertambah rumit.


"Astaga! Sera, lihat aku! Lihat mataku!"


Dev mendekatkan dirinya kepada Sera. Dev menangkup wajah Sera dan meminta untuk menatapnya.


"Tatap mata aku! Apa aku tega bohongin kamu dengan hal konyol kaya gitu? Apa kamu gak lihat gimana cintanya aku sama kamu? Apa kamu gak lihat?"


Dev menatap lekat istrinya. Mata Dev sudah memerah dan berkaca-kaca karena melihat tatapan kecewa Sera padanya.


Sera membalas tatapan Dev untuk mencari kesungguhan di sana. Sera tidak bersuara lagi. Hanya tatapan yang saling beradu diiringi air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


"Istri aku cuma kamu, Sera. Wanita yang aku cintai itu cuma kamu. Aku pernah bilang sejak kita menikah dan punya Ken, nyakitin kamu sama Ken sama artinya aku nyakitin diri aku sendiri."


Dev merasa putus asa sudah untuk bisa menyakinkan Sera, bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki hubungan dengan wanita lain.


Tiba-tiba saja hati Dev merasa geram mengingat Risa. Gara-gara wanita itu, hubungannya dengan Sera jadi seperti ini. Dev ingin menghabiskan waktunya bersama keluarganya dengan nyaman, malah terganggu.


Gara-gara Risa, istrinya jadi menyalahkannya. Dev harus tegas pada wanita itu agar menjauh darinya untuk selamanya. Dev tidak ingin rumah tangganya rusak karena ada orang ketiga.


Tidak! Dev tidak akan pernah menginginkan itu.


Dev menggenggam lembut kedua tangan istrinya, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sera sedetikpun.


"Aku gak bisa hidup tanpa kamu, sayang. Aku gak bisa. Bagaimana bisa kamu punya pikiran kalo aku pergi ninggalin kalian berdua karena wanita lain?" Dev memeluk Sera dengan suara serak.


"Aku cinta kamu, Sera. Aku sangat cinta sama kamu," bisik Dev dengan tangis tertahan.


Sera tidak berontak lagi sekarang. Sera membiarkan Dev memeluknya dan membisikkan kata-kata cinta untuknya. Air mata Sera kembali mengalir deras saat merasakan tubuhnya suaminya bergetar.


Sera tahu suaminya pun menangis. Sera bisa merasakan ketulusan cinta Dev untuknya. Sera merasa sangat bersalah karena sudah meragukan cinta Dev padanya.


Semua ini karena rasa cemburunya yang berlebihan. Sera merutuki dirinya sendiri yang sudah menuduh suaminya berbuat hal yang tidak benar. Sera sadar sudah menyakiti perasaan suaminya dengan kata-katanya tadi.


Sera membalas pelukan Dev dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada suaminya. Dev adalah hidupnya. Sera tidak sanggup hidup tanpa Dev.


"Maafin aku Dev. Aku hanya takut kamu ninggalin aku," ucap Sera sambil menangis.


Dev tersenyum dan mengecup puncak kepala Sera.

__ADS_1


"Aku gak akan pernah ninggalin kamu sampai nafas terakhirku. Itu janjiku sama sama kamu dan dihadapan Tuhan saat kita menikah dulu. Janji itu yang sedang aku jalani sekarang ini."


Dev melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Sera dengan senyuman. Wajah mereka sama-sama karena air mata. Dev mengusap lembut wajah Sera, menghapus jejak air mata di sana.


Pun demikian yang juga Sera lakukan. Mereka berdua sama-sama tersenyum lalu kembali berpelukan.


"Aku cinta sama kamu," bisik Dev dan kembali menatap wajah Sera.


"Aku juga," balas Sera malu-malu.


Dev mendekatkan wajahnya dan menyatukan bibir mereka berdua. Dev menikmati bibir Sera dengan penuh kelembutan. Lidah mereka saling membelit satu sama lain. Menyalurkan rasa cinta yang mereka miliki.


Setelah melepaskan tautannya, Dev mengecup kening Sera lama. Sera memejamkan matanya, merasakan kehangatan cinta suaminya.


"Ken, mana?" tanya Sera karena baru menyadari putranya tidak ada bersama mereka.


"Sama Mommy," jawab Dev sambil membelai rambut Sera.


Sera mengangguk dan merasa lega. Karena saat perdebatan tadi, Ken tidak bersamanya. Sera yakin Ken pasti akan menangis jika melihat pertengkarannya dengan Dev tadi.


"Kamu sudah merasa lebih baik sekarang?"


Sera mengangguk. "Sangat lebih baik dari sebelumnya," ucap Sera.


"Syukurlah. Aku gak bisa maafin diriku sendiri kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu," Dev membelai lembut wajah istrinya.


Takut saja, jika istrinya kembali mengamuk seperti tadi. Akan susah lagi menjinakkannya, pikir Dev.


Sera mencebik lalu mengerucutkan bibirnya ke arah Dev. "Kalo kamu berbuat kayak tadi pagi atau dekat-dekat wanita itu lagi, aku gak akan ngomong dua kali. Kamu bakal kehilangan aku sama Ken."


Sera menatap tajam Dev. Tentu saja itu membuat Dev tahu itu bukan hanya sekedar ancaman. Dev tahu bagaimana sifat istrinya yang sungguh-sungguh dengan setiap perkataannya.


"Sayang, kamu ngancamnya gitu mulu. Kamu gak asik banget," Dev merengut dan bertingkah pura-pura merajuk di depan Sera.


Tanpa sadar kedua sudut bibir Sera melengkung ke atas, dan pada akhirnya terkekeh.


Melihat senyum dan tawa istrinya, Dev juga ikut tersenyum. Lantas menarik tubuh Sera agar lebih dekat padanya.


"Aku ingin senyum ini terus ada di wajah cantikmu," Dev menyentuh bibir Sera dan mengecupnya.


"Aku gak mau ini jadi milik yang lain apalagi sampai disentuh," ucap Sera sambil menyentuh balik bibir suaminya.


"Pemiliknya cuma kamu seorang. Aku gak bakal ijinkan orang lain menyentuhku. Karena aku cuma milik kamu, begitu juga sebaliknya."


"Awas kalo bohong!"

__ADS_1


"Janji," Dev mengangkat tangan kanannya ke atas, dan menaruh tangan kirinya di dada.


"Jangan rusak kepercayaanku!"


"Janji," Dev kembali melakukan hal seperti tadi di depan istrinya.


Sera melepaskan dirinya dari Dev, namun Dev mencegahnya.


"Mau kemana?" Dev tidak rela istrinya bergerak menjauh darinya.


"Mandi. Habis itu mau bikinin bubur buat Ken. Ini sudah sore, Ken pasti sudah lapar."


Sera berdiri dan mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi. Baru saja membuka pintu kamar mandi, Dev sudah berada di belakangnya sambil menyeringai.


"Mau ngapain?" Sera mengernyit.


"Mandi," jawab Dev santai lalu mendorong Sera lebih dulu masuk.


"Aku duluan yang mandi, Dev."


"No! Kita mandi berdua," ujar Dev dengan menaikan turunkan alisnya sambil tersenyum jahil.


Dev mengunci kamar mandi dan membuat Sera sudah bisa menebak apa yang Dev lakukan setelahnya.


Mandi yang harusnya bisa selesai dalam waktu 15 menit harus berakhir dengan durasi waktu hampir satu jam. Sudah bisa ditebak apa saja yang mereka lakukan di sana.


Penyelesaian masalah dalam rumah tangga tidak akan lengkap tanpa yang 'satu' itu.


Penyelesaian akhirnya harus di tutup dengan yang nikmat, batin Dev dengan senyum penuh kemenangan. Karena sudah berhasil menjinakkan singa betinanya.


"Dev," panggil Sera sembari mengeringkan rambutnya.


"Ada apa, Yang? Mau lagi?" tanya Dev sengaja menggoda istrinya. "Mumpung belum pake apa-apa ini," lanjut Dev sambil terkekeh.


"Dev, aku serius ini," Sera mencebikkan bibirnya.


"Iya, iya. Sorry, Yang. Ada apa sih?"


"Kamu beneran gak ada nyuruh Alex bilang tenggelam?" tanya Sera belum yakin.


"Gak ada, Yang."


"Terus ulah siapa?" tanya Sera lagi.


"Alex."

__ADS_1


"Alex?"


__ADS_2