
Seperti yang dijanjikan Dev pada Sera, usai makan malam Dev mengajak Sera, Ken dan juga Alex mengunjungi Kakek Nenek Sera. Sebelum besok mereka akan kembali ke Manila.
Ken begitu girang karena akan diajak naik mobil lagi oleh sang Daddy. Ken adalah salah satu anak di dunia yang paling riang gembira, ketika berada di dalam mobil.
Karena Ken berpikiran dia bisa melakukan apa saja di dalam sana dengan sesuka hatinya. Dia bisa berpindah duduk kemana saja yang dia inginkan.
Meski harus membuat Sera khawatir karena Ken terlalu aktif. Karena itu Dev menyetir dengan kecepatan sedang. Agar putranya tidak sampai kenapa-kenapa jika ingin 'jalan-jalan' di dalam mobil.
Mengenai pesan Risa yang diterimanya tadi sore, Dev sudah tidak memikirkannya lagi. Terserah sang Mommy mau melakukan apa terhadap perempuan itu. Dev tidak peduli.
Dev menggenggam tangan istrinya. Sera menoleh ke arah suaminya dengan tatapan bingung.
"Kenapa?"
"Gak pa-pa. Cuma pengen pegang aja. Gak boleh?" Dev balas dengan tatapan lurus ke depan.
"Ya boleh."
Sera pun akhirnya membiarkan saja suaminya menggenggam tangannya sambil menyetir. Sementara Ken asik bermain dengan Alex di belakang.
Kini Dev dan keluarganya sudah berada di rumah Kakek Sera. Kedatangan mereka disambut gembira oleh semua orang.
Josh dan Daren bergantian menggendong Ken dan mengajak Ken ke kamar mereka. Diikuti oleh Alex yang menyusul mereka bertiga.
Sera memeluk hangat kakeknya, Om Edo dan Tante Lyla.
"Gimana liburannya kemarin? Senang?" Edo menghempaskan dirinya di sofa empuk. Sembari tangannya merangkul Lyla istrinya.
"Ya gitu deh, Om. Tante Lyla hamil lagi?" Sera menatap intens perut Lyla yang terlihat membuncit itu.
Walau tubuh Lyla mungil, tapi perut buncitnya masih bisa Sera lihat dengan jelas.
Edo dan Lyla saling pandang lalu tersenyum ke arah Sera dan Dev.
"Iya. Sudah masuk lima bulan. Om pengen anak cewek, biar ada yang bantuin Tante Lyla."
Edo terkekeh begitu juga dengan Dev dan Sera.
"Pasti cantik kayak Tante," ujar Sera sambil tersenyum.
"Kamu juga cantik. Buktinya Dev sampai nikahin kamu cepat-cepat sampai belum kelar sekolah," Lyla mengedipkan matanya ke arah kedua ponakannya itu.
"Itu bukan karena cantik, Yang. Tapi karena memang Dev yang gak tahan," celetuk Edo dengan kekehan khasnya.
"Namanya yang enak, mana tahan Om."
Sontak semuanya tertawa mendengar sahutan Dev. Sera malah menggelengkan kepalanya ke arah Dev.
__ADS_1
"Begini nih, kalo udah ketemu Om. Mesumnya kumat," ucap Sera dalam hatinya.
Sera meninggalkan Dev bersama Om dan tantenya. Sera berjalan menuju di mana kamar kakeknya berada. Sera mengetuk pintu pelan lalu membukanya perlahan.
"Sera masuk ya, Kek."
Dengan senyum hangatnya, Kakek Sera mengangguk dan membiarkan cucunya masuk ke dalam kamar. Sera memeluk hangat dan memberi ciuman di kedua pipi pria paruh baya itu.
"Sera sangat merindukan Kakek," ucap Sera dengan suara seraknya.
"Kakek juga merindukan kamu," balas kakeknya dengan memberikan kecupan di puncak kepala Sera.
Sera mendongak lalu perlahan melepaskan pelukannya. Kemudian duduk di sisi kakeknya sambil menggenggam tangan pria tua itu. Pria tua yang sangat dikasihinya.
Pria yang sudah memberikan kehidupan dan mendidik papanya sebagai pria hebat bagi keluarganya. Yang menjadi panutan baginya dan juga adiknya, Alex.
"Kakek, terima kasih. Karena Kakek dan Nenek sudah menghadirkan Papa ke dunia ini. Sehingga Sera sangat bangga punya Papa seperti Papa," tetes air mata Sera mengiringi ucapan tulusnya kepada sang Kakek.
"Kakek bangga sama Sera. Sea bukan hanya anak yang cantik, tapi Sera juga anak yang baik. Mama dan Papa kamu juga pasti bangga punya anak semanis kamu. Begitu juga Kakek," ucap sang Kakek pelan.
Cucu dan Kakek itu saling memberikan senyum dan pelukan hangat. Banyak cerita yang mereka berdua kisahkan. Rasanya Sera tidak ingin pulang cepat ke Manila.
Tetapi, pekerjaannya dan juga kuliahnya sudah menanti dirinya di sana.
Dev dan keluarganya tidak bisa terlalu lama berada di rumah kakeknya. Karena mereka juga harus mengunjungi Nenek Sera juga.
Setelah pamit dengan semua anggota keluarga, Dev dan keluarga kecilnya meninggalkan kediaman kakeknya. Si jagoan Ken ternyata sudah tidur. Rupanya Ken kelelahan bermain bersama ketiga omnya.
Sera harus mengganti pakaian Ken dengan yang bersih, agar Ken tidak sampai masuk angin.
Berada di rumah Nenek Buyut pun Ken hanya bangun sebentar karena dicium oleh Nenek buyutnya. Krn merengek sebentar lalu tertidur kembali.
Sera dan Alex melepas rindu dengan sang Nenek meski waktu mereka tak bisa terlalu lama. Setidaknya keduanya bisa bertemu dan pamit kepada wanita yabg sudah melahirkan Mama mereka.
Mama yang juga menjadi kebanggan Sera dan Alex. Kedua orang tua mereka memang panutan bagi Kakak beradik itu.
Kini mereka sudah kembali ke rumah Dev. Lelah begitu dirasakan. Karena semua disempatkan sebelum mereka kembali ke Manila besok.
Setelah memastikan putranya tidur nyaman, Sera membaringkan tubuhnya di samping Dev. Dev menyimpan ponselnya dan membawa Sera ke dalam pelukannya. Untuk menjemput mimpi bersama.
***
Rumah Dev pagi ini lebih ramai dari biasanya. Itu karena kedatangan empat sahabat Dev yang ingin sekali bertemu Ken.
Mereka berempat hanya sering melihat Ken melalui foto dan video yang Dev kirim di sosial medianya.
"KEEENN! Sini sama Tante cantik," Jihan langsung berdiri dan menghampiri Ken yang berada di gendongan Sera.
__ADS_1
Sarah menutup kedua telinganya dan melihat Jihan dengan kesal. Suara Jihan begitu nyaring di telinga. Seakan gendang telinganya akan pecah karena suara cempreng Jihan.
Sera terkekeh melihat wajah kesal Sarah. Setelah Ken bersama Jihan, Sera ke dapur untuk Mommy mertuanya menyiapkan minum dan juga cemilan.
"Astaga Dev! Anak kamu ganteng banget," Jihan mencium pipi Ken berulang kali dengan gemasnya.
"Eh! Itu anak orang ya Jihan bukan boneka. Itu kenapa muka Ken kamu gituin sih," Sarah meringis sekaligus iba dengan nasib Ken jika terlalu lama bersama Jihan.
"Iya Jihan. Kasihan Ken mukanya sampai merah dicium terus sama kamu," Ron juga prihatin dengan nasib Ken.
Dev bukannya marah, dia malah tertawa. Begitu lama mereka tidak bertemu, dan pagi ini adalah kesempatan mereka bisa bertemu kembali dan saling berbagi cerita.
Sera datang dengan nampan yang berisi minuman dan juga cemilan di kedua tangannya. Dev berdiri dan membantu Sera meletakkannya di atas meja.
"Sera, aku bawa Ken pulang ya..lucu banget tau," ucap Jihan sambil memeluk gemas tumbuh gembul Ken.
"Kalo mau bikin. Jangan bawa anak orang," celetuk Eko.
Jihan cemberut lalu mengerucutkan bibirnya. "Kan aku belum punya suami. Gimana punya anak," ujar Jihan.
"Gampang itu mah. Asal kamu siap aja aku bersedia buatnya sama kamu," ujar Ron sambil menaikturunkan alisnya.
Sontak saja mendapat cibiran dan dan tatapan maut Jihan. Ron terbahak, begitu juga dengan yang lain.
Walau Ron mengucapkannya dengan bercanda, tetapi sebenarnya Ron bersungguh-sungguh. Karena sejak awal Ron memang menyukai Jihan. Namun karena kepolosannya, Jihan tidak mengerti perhatian yang Ron berikan selama ini padanya.
"Apa kita bakal punya pesta besar?" tanya Dev dengan senyum lebar ke arah Ron.
"Susah dapatnya," celetuk Eko sambil terkekeh.
"Usaha dong. Masa kalah sama Dev," Sarah menyindir Ron lalu terbahak.
Rupanya Dev baru menyadari kalau Ron menyukai Jihan. Sedangkan Eko dan Sarah sudah lama mengetahui hal itu sejak kepulangan merek ke Indonesia saat itu.
"Doain aja. Moga ceweknya peka," ucap Ron dengan tatapan matanya mengarah ke Jihan yang sedang asik bermain dengan Ken.
"Kalo nunggu peka, gak yakin deh bakal cepat jadiannya. Gas aja langsung Ron," Dev memberi usul, dan disetujui oleh Sarah dan Eko.
"Nah itu! Masternya udah kasih solusi. Jangan kasih kendor!" Sarah bertepuk tangan sekali setelah mendengar ucapan Dev.
Ron menggaruk kepalanya sembari matanya tak lepas dari Jihan. "Langsung lamar aja yah,"
"Kayaknya itu jalan paling tepat deh."
"Aku setuju!"
"Aku juga setuju!"
__ADS_1
"Kalian setuju apaan?" Jihan menatap bingung keempat sahabatnya, yang juga menatap kaget Jihan.
Kecuali Sera yang tertawa terbahak melihat ekspresi mereka berlima.