
Rutinitas pagi ini sama seperti biasanya. Sarapan bersama dan mengobrol hal-hal yang menyenangkan saat sedang menikmati sarapan.
Ken sudah rapi dan terlihat sangat tampan. Hari ini, Eric akan membawa cucunya ke perusahaan. Mengingat tidak ada jadwal penting yang harus dia hadiri.
Sera maupun Dev sempat melarangnya, takut mengganggu pekerjaan papanya. Tetapi Eric tetap bersikeras untuk membawa Ken. Untungnya Eric tidak hanya berdua bersama Ken, ada Bella yang akan ikut menemani.
Bella tidak yakin jika Eric bisa mengurus Ken sendirian nanti. Karena itulah Bella ikut kesana.
Sera cukup tenang saat mengetahui mamanya ikut ke perusahaan papanya. Setidaknya ada mamanya yang bisa membantu papanya saat menenangkan ketika Ken rewel.
"Jadi anak baik ya sama Kakek dan Nenek," Sera mengecup pipi gembul Ken kiri dan kanan.
Dev juga melakukan hal yang sama. Dev menggendong Ken dan mengantar ke mobil mertuanya. Ken melambaikan tangannya dengan riang kepada orangtuanya dari dalam mobil.
Setelah mobil Eric hilang dari pandangannya, Sera masuk kembali ke dalam rumah diikuti Dev.
"Apa kita akan bersenang-senang hari ini?" Alis Dev turun naik menggoda istrinya.
"Apaan sih," sahut Sera dengan pipinya yang merona.
Sera sangat tahu maksud dengan kata bersenang-senang. Dengan cepat Sera menaiki tangga menuju kamarnya. Dev segera menyusul istrinya sambil tertawa kecil.
Sera memekik tertahan ketika Dev sudah memeluknya dari belakang dan mengangkat tubuhnya ke udara. Dev kemudian menurunkan Sera perlahan dan memberikan kecupan-kecupan di sekitar tengkuk Sera.
Tubuh Sera meremang karena ulah suaminya. Satu hal yang Sera tahu, Dev tidak akan melepaskannya begitu saja ketika Dev sudah menginginkannya.
"Aku kangen, Yang.." ucap Dev setelah membalikkan tubuh Sera menghadapnya.
Sera terkekeh lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Dev. Mata Dev membola karena ulah Sera. Karena untuk pertama kalinya Sera melakukannya. Biasanya dirinya lah yang selalu berbuat demikian.
Dev tersenyum penuh arti dan berkata, "Sudah berani ya sekarang," ujar Dev dengan merapatkan pelukannya di pinggang Sera.
"Kenapa gak. Kan sama suami sendiri," balas Sera tak kalah menggodanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Dev menyambar bibir menggoda itu. Memagutnya dengan sangat liar dan memainkan lidahnya di dalam sana. Tangannya pun tak tinggal diam.
Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, tangan Dev bergerak melepaskan apa yang Sera kenakan di tubuhnya. Tatapan memuja Dev tak lepas dari tubuh seksi istrinya saat pagutannya terlepas.
Bibir Dev menggapai dan lidahnya bermain di dada istrinya. Suara lenguhan yang sangat Dev rindukan dari istrinya terdengar begitu indah dan membangkitkan gairahnya semakin tinggi.
Dev membaringkan Sera dengan perlahan setelah dirinya sama polosnya seperti Sera. Kecupan demi kecupan disertai lidahnya menyapa setiap inci tubuh istrinya.
Sera hanya mampu memejamkan matanya menikmati ketika Dev memanjakan tubuhnya. Tangannya mencengkeram sprei dengan kuat saat Dev menyatukan mereka.
Setiap gerakan Dev di tubuhnya sangat nikmat bagi Sera. Dev sangat tahu bagaimana cara memuaskan dirinya. Hingga pelepasan itu datang, baik Sera maupun Dev enggan bergerak dari posisi mereka.
Mereka merasakan getaran nikmat itu sangat luar biasa. Peluh membasahi tubuh polos keduanya. Dev mencium basah ceruk leher Sera sebelum melepaskan penyatuan mereka.
"Makasih Yang," ucap Dev lembut dan memberikan kecupan di kening Sera.
"Hem," balas Sera seakan hilang tenaga.
***
Di kantor, Ken senang bukan main. Karena di dalam ruang kerja kakeknya, sudah disediakan area bermain untuknya. Begitu melihatnya, Ken meminta turun dari gendongan sang Kakek.
Bella dan Eric tertawa melihat tingkah lucu nan menggemaskan Ken. Mereka membiarkan Ken bermain sepuasnya di sana. Sementara Bella mengawasi Ken, Eric bekerja dengan senyum bahagia di wajahnya.
Bella mengabadikan semua kegiatan Ken hari ini melalui ponselnya. Bella juga mengirim foto dan video keseruan Ken untuk Sera.
"Ken begitu senang di kantor Papa," ujar Sera menunjukkan foto dan Video pada suaminya.
Dev tersenyum kemudian mengecup pipi Sera. "Kita juga bersenang-senang tadi, kan?" ujar Dev menggoda Sera sambil terkekeh.
"Dev iihh..mesum aja di sini nih," Sera menekan jari telunjuknya di kepala Dev.
"Tapi kamu suka, kan?" Dev menggelitik pinggang Sera karena gemas dengan tingkah menggemaskan Sera.
__ADS_1
Bagi Dev, sehari tanpa Sera di dekatnya itu sama saja dengan setahun berpisah darinya. Dev tidak sanggup. Karena itu dia sangat bersyukur memiliki pekerjaan yang hanya dilakukan dari rumah, bahkan di manapun.
Beruntung dia memiliki orang-orang kepercayaan untuk mengelola tiga cafe miliknya di Indonesia. Dia tidak harus datang ke sana untuk bekerja. Cukup menerima laporan saja yang masuk ke email-nya.
"Apa kamu ingin kita punya rumah sendiri?" tanya Dev tiba-tiba. Dan itu membuat kening Sera berkerut memperhatikan wajah suaminya.
"Kenapa jadi tanyanya begitu? Kamu gak suka kita tinggal sama Mama Papa di sini?" tanya Sera balik dengan nada yang kurang nyaman bagi Dev.
"Bukan begitu, sayang. Aku hanya tanya aja, apa kamu pengen punya rumah sendiri. Kalo kamu pengen, kita bisa mencarinya."
Dev bukannya tidak ingin tinggal bersama dengan mertuanya. Hanya saja Dev merasa kurang nyaman karena dia dan Sera sudah memiliki anak. Sepatutnya mereka tinggal sendiri, hidup mandiri.
Bagi Dev mertuanya terlalu baik padanya. Selama ini Dev diperlakukan sangat baik. Mertuanya juga begitu perhatian padanya. Tetapi kadang kala Dev merasa tidak nyaman karena tinggal gratis begitu saja di rumah mertuanya.
Seringkali Dev memberikan uang untuk kebutuhan di rumah, tetapi Bella selalu menolaknya. Dengan alasan semua sudah tercukupi oleh Papa mertuanya. Bella berkata uang yang Dev mau berikan sebaiknya ditabung untuk Ken saja.
Karena selalu ditolak, akhirnya Dev berinisiatif untuk membeli langsung kebutuhan dalam rumah. Dengan begitu, mertuanya tidak bisa menolaknya lagi.
"Aku merasa nyaman tinggal di sini, Dev. Dekat dengan Mama Papa dan juga Alex. Dan pastinya aku gak akan merasa kesepian, semisal kamu ada pekerjaan di luar."
"Lagipula, ke depannya kita juga gak tau. Apa kita akan menetap di Manila atau balik ke Indonesia," lanjut Sera lagi.
"Memangnya kamu mau kalo kita tinggal di Jakarta?" tanya Dev dengan antusias.
Tentu saja Dev berharap itu bisa terwujud. Mengingat dia juga sudah memiliki apartemen sendiri, yang bisa di jadikan tempat tinggal mereka nanti.
Dev juga bisa memantau ketiga cafenya secara langsung sewaktu-waktu. Namun Dev tidak akan memaksa keinginannya jika istrinya menolaknya.
"Ya mau lah..tapi gak sekarang. Kuliah kita belum selesai. Biarkan Ken menghabiskan masa kecilnya dulu di sini," jawab Sera.
Mata Dev berbinar mendengar jawab Sera. Ah, rasanya Dev tidak sabar ingin Ken cepat besar. Biar bisa segera kembali ke Indonesia.
Senyaman-nyamannya negeri orang, masih nyaman negeri sendiri, batin Dev.
__ADS_1