
"Halo Do, tumben malam-malam gini nelpon? Jangan bilang lo kangen gue," kekeh Dev di ujung teleponnya.
Gelak tawa Aldo terdengar menggelitik telinga Dev, membuatnya juga ikut tergelak.
"Jadi?" tanya Dev lagi setelah mengakhiri tawanya.
"Lo kapan punya waktu ke Indonesia?" Seolah paham kemana arah pertanyaan Dev, butuh beberapa detik untuk Aldo menanyakan hal tersebut pada Dev.
"Tumben lo nanyain gue kapan balik? Lo lagi gak dalam masalah, kan?"
Mereka berdua saling lempar pertanyaan sejak tadi. Dan tentu saja itu membuat dahi Sera berkerut. Sera bisa mendengar apa yang dibicarakan keduanya, karena volume suara ponsel Dev full, dan juga Dev berbaring di sebelah Sera.
"Cuman nanya aja gue," jawab Aldo kikuk sambil mengusap tengkuknya. Meskipun Dev jelas tidak bisa melihat tingkahnya.
Dev sangat mengenal Aldo sejak kecil. Dan dia tidak percaya begitu saja dengan apa yang sahabatnya katakan.
"Do, jujur sama gue, lo lagi ada masalah? Mungkin gue bisa bantu lo," ucap Dev serius.
Aldo bingung harus berkata apa. Jika dia jujur mungkin saja akan membuat hubungan persahabatannya dengan Dev menimbulkan masalah. Tetapi bagaimana dengan janjinya pada Risa?
Aldo menghela nafasnya berkali-kali dengan gelisah.
"Aldo! Lo masih di sana, kan?"
Aldo tersentak mendengar Dev memanggil namanya.
"Do! Lo baik-baik aja, kan?"
Sekali lagi Aldo tersentak lalu menyahut dengan terbata-bata.
"Gu–gue baik. Ya gue ba–baik aja," jawab Aldo tergagap.
Aneh
Satu kata yang terlintas di pikiran Dev. Tidak salah lagi, Aldo memang menyembunyikan sesuatu. Dev kemudian duduk dari posisi berbaringnya.
"Sayang, aku kesana dulu ya," bisik Dev menunjuk arah balkon kamar. Sera yang mengerti kalau Dev ingin bicara secara pribadi dengan Aldo, tidak mencegahnya. Sera menganggukkan kepalanya.
Dev turun dari tempat tidur dan berjalan perlahan menuju balkon kamarnya. Kemudian Dev berdiri di sisi pagar balkon.
"Gue tau lo nyembuyiin sesuatu dari gue. Gue gak akan maksa lo buat cerita. Tapi kalo gue bisa bantu, gue bakal bantu lo."
Aldo menyunggingkan senyumnya mendengar perkataan Dev.
"Bener lo mau bantu gue?" tanya Aldo memastikan.
__ADS_1
"Selama gue bisa bantu, gue pasti bantuin lo."
Senyum Aldo mengembang di wajahnya. "Lo ingat kan gue sering cerita sama lo kalo gue suka seseorang?"
"Iya gue tau," jawab Dev.
"Kemarin malam gue ngajak dia dinner. Dia setuju, asal gue bisa menuhin syarat dia."
"Syarat? Syarat apaan? Lagian lo aneh banget suka sama cewek gituan. Gak ada cewek lain apa?" tanya Dev beruntun.
Dari nada suaranya Aldo tahu Dev terdengar kesal. Dev berpikir Aldo yang sangat bodoh menyukai perempuan yang memberikan syarat sebagai imbalan kencan bersamanya.
Dev tahu sejak dulu Aldo sama sekali tidak pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis. Bisa dikatakan kalau perempuan ini adalah cinta pertama Aldo. Tidak jauh berbeda dengan dirinya juga dulu sebelum menikahi Sera.
Hanya saja sahabatnya ini terlalu polos dalam urusan percintaan. Dev menilai Aldo bersedia melakukan apapun demi seorang gadis yang dia sukai, tanpa memikirkan akibatnya jika dia terlalu bucin dan menuruti semua mau si gadis.
"Di–dia minta ketemuan sama lo."
"Apa? Ketemuan sama gue?" Dev menoleh ke belakang sebentar memastikan istrinya tidak sedang memperhatikannya dari tempat tidur.
"Lo yakin itu cewek yang lo suka? Kok syaratnya minta ketemuan sama gue. Hubungannya apa gue sama lo berdua?" Dev semakin tidak mengerti maksud Aldo
Aldo masih diam di ujung sana. Dia sendiri bingung harus menjelaskan seperti apa yang Risa inginkan. Aldo juga tidak tenang dalam duduknya.
"Do? Lo denger gue, Kan?"
"Siapa sih ceweknya? Sampe lo bucin gitu? Lagian aneh banget syaratnya mau ketemuan sama gue," ujar Dev penasaran.
"Lo kenal banget kok sapa ceweknya. Gue ngelakuin ini karena gue suka sama dia. Tapi gue sadar sesuatu, kalo buat dapetin dia itu gak mudah."
Ada nada putus asa yang Dev dengar di ujung sana. Dev kemudian memandangi langit malam sembari mendengar Aldo bicara.
"Gue sadar, hati dia bukan buat gue."
"Kalo lo tau dia gak suka sama lo, buat Apa lo ngejar dia? Apalagi harus menuhin syarat dari dia. Lo yang bener aja, Do. Sapa sih ceweknya?"
"Risa."
"Sapa lo bilang? Risa?"
Refleks tubuh Dev berbalik menghadap kamarnya. Di mana sang istri tengah berbaring nyaman di sana. Dev menyandarkan tubuhnya di pagar balkon dengan tatapan matanya tetap awas pada istrinya.
Dev berharap Sera tidak mendengar ketika dia menyebut nama perempuan itu tadi. Apalagi kondisi Sera saat ini tengah hamil. Dev tidak ingin terjadi apa-apa pada Sera dan juga calon anak mereka.
"Iya," jawab Aldo dengan hembusan nafas panjangnya.
__ADS_1
Aldo tidak bisa menyembunyikan hal itu dari Dev. Bagaimanapun Dev harus tahu jika perempuan yang dia sukai itu adalah Risa. Teman SMA Dev, dan juga bawahannya di kantor.
"Gila lo Do! Gak ada cewek lain apa. Kenapa harus dia sih?" tanpa sadar Dev menggeram.
"Gue suka sama dia, Dev."
"Ya, tapi kenapa harus dia? Banyak cewek lain yang bisa lo kejar. Bukan dia juga, Do."
"Tapi kenapa?"
"Pokoknya gue gak setuju lo sama dia. Lo pikir aja cewek apaan yang minta sama cowok yang suka sama dia, buat ketemuan sama cowok lain? Apalagi dia tau gue udah nikah. Secara gak langsung, dia udah kasih signal ke elo buat ngejauh dari dia," jawab Dev dengan kesalnya. Dev tidak rela sahabatnya dimanfaatkan oleh Risa.
"Lalu gue harus gimana? Gue udah janji sama dia. Please, bantu gue Dev," ucap Aldo dengan nada memohon.
Dev mengusap wajahnya lalu tangan kanannya berada di pinggangnya. Dev tidak tahu harus menjawab apa. Pertama, dia tidak ingin menyakiti istrinya dan mempertaruhkan rumah tangganya hanya karena perjanjian konyol Aldo.
Kedua, Aldo adalah sahabatnya sejak kecil. Dev tahu bagaimana sifat dan karakter Aldo yang tidak akan pernah mengingkari janjinya pada seseorang. Apalagi Aldo juga sering membantunya.
"Do, jujur gue gak tau harus bilang apa. Istri gue lagi hamil sekarang. Kalo dia tau ada cewek yang mau ketemuan sama gue, istri gue pasti sedih banget. Dan gue gak pengen menyakiti perasaan dia."
Jujur Dev merasa tidak nyaman karena harus menolak permintaan Aldo. Tetapi keutuhan rumah tangganya adalah yang utama. Dev tidak akan mempertaruhkan anak dan istrinya hanya karena ide gila Risa.
Perempuan yang tidak tahu malu, yang dengan sadarnya mengatakan cinta padanya, di depan anak dan istrinya. Benar-benar perempuan tidak waras.
Dev tidak pernah menceritakan alasan mengapa Risa sampai dia pecat dari cafenya waktu itu, pada Aldo. Karena yang terpenting Risa tidak mengganggunya lagi.
Tetapi sekarang apa? Kenapa Risa kembali muncul setelah keadaannya aman dan tentram. Dev juga senang karena tidak pernah lagi melihat raut kesedihan Sera setelah kembali ke Manila.
Dev tidak akan membiarkan Risa mengganggu hidupnya lagi.
"Terus gue harus gimana? Lo tau sendiri kan gue orangnya gimana?"
"Iya, gue tau lo orang yang gak tegaan. Dan gak pernah ingkar janji sama siapapun. Tapi untuk yang satu ini, gue minta maaf sama lo. Gue gak bisa bantu lo," ujar Dev tegas.
"Oke, gue ngerti kok. Lo sangat mencintai istri lo. Kalo gue jadi lo, gue juga akan lakuin hal sama kayak lo."
"Maafin gue, Do."
"It's okay, Dev. Gue bakal jelasin ke dia nanti. Dan pastinya ini adalah kali pertama gue bakal ingkar janji sama orang."
"Maafin gue juga karena udah ganggu waktu istirahat lo," sambung Aldo.
Dev menatap layar ponselnya sejenak sesaat setelah panggilan telponnya berakhir. Aldo adalah orang yang sangat perasa. Dev sangat tahu itu. Dev yakin Aldo malam ini tidak akan tidur nyenyak karena memikirkan tentang masalah ini.
"Dasar gila!" umpat Dev mengingat nama Risa melintas di kepalanya.
__ADS_1
Dev sampai gak habis pikir, bisa-bisanya sahabatnya itu jatuh cinta pada perempuan tidak waras itu.