DeRa LoVe

DeRa LoVe
Memasak Bersama


__ADS_3

"Wanita Gila!!!" Pekik Dev.


Tanpa sadar Dev melempar ponselnya begitu saja. Parahnya lagi, ponsel itu terlempar tepat mengenai kepala David.


"Aaaahhh!!!"


Seketika David bangun dan duduk berhadapan dengan Dev, putranya. Wajah David meringis kesakitan sambil mengusap hidung dan dahinya.


Sedangkan Dev masih terlihat syok akibat pesan yang dia terima tadi.


"Kamu kenapa nimpuk kepala Daddy!" hardik David dengan menendang ujung kaki Dev.


"Ma–maaf Dad. Dev gak sengaja," Dev juga terkejut dengan ulahnya yang tanpa sadar tadi.


"Maaf, maaf! Kalo ketampanan Daddy hilang gara-gara tadi, gimana? Mommy bisa selingkuh dari Daddy," gerutu David tidak jelas.


Tentu saja ketampanannya akan berkurang jika wajah tampannya sampai terluka. Apalagi luka itu nanti membekas di sana. Kuranglah kepercayaan diri David nanti.


"Ya Daddy selingkuh juga," ujar Dev asal setelah mengambil ponselnya kembali.


Mendengar jawaban asal Dev, David melempar bantal Sofa ke wajah Dev dan memukulnya dengan bantal berkali-kali.


"Ampun Dad! Ampun!" teriak Dev sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kurang ajar banget jadi anak. Malah senang kalo mommynya selingkuhin Daddy," David terus memukul Dev dengan bantal sofa.


"Habisnya Daddy juga aneh. Cuma kena gitu mukanya, gak mungkin Mommy sampai selingkuh. Gak kaya Daddy matanya gak bisa lihat yang bening," ledek Dev lantas menjulurkan lidahnya ke arah David.


"Eh kurang ajar nih anak. Masih juga ngata-ngatain daddy," David berdiri dan hendak menimpuk Dev lagi dengan bantal.


Dev berlari menuju dapur menghindar dari amukan David sambil tertawa. Kebetulan di sana ada Jane yang sedang memasak untuk makan malam.


Jane terkejut karena tubuhnya kini dijadikan Dev tameng. Jane berteriak kesal karena tubuhnya diputar digeser dan dibawa sana sini oleh Dev.


David juga melakukan hal yang sama dengan berusaha menggapai tubuh Dev. Sehingga membuat Jane terkurung di antara anak dan suaminya.


Berakhir dengan spatula mendarat mulus di kepala Dev dan juga David. Barulah aksi keduanya benar-benar berhenti.


Merek berdua mendapat omelan panjang dan disidangkan Mommy Jane di meja makan. Keduanya menunduk tanpa berani bersuara jika Jane tidak menyuruhnya.


Sera yang baru saja bangun tidur dan ingin mengambil air minum, hanya berdiri di ambang pintu ruang makan sambil melongo. Melihat suaminya dan juga Daddy mertuanya tak berkutik sama sekali di depan Mommy mertuanya.


Dengan santainya Sera kemudian melenggang melewati keduanya menuju kulkas. Sera menuangkan air dingin ke dalam gelasnya, lalu meminumnya.


Ujung mata Dev melirik istrinya yang berdiri di depan kulkas sambil bersedekap dada.


"Dev sama Daddy, kenapa Mom?" tanya Sera.


"Mereka berdua ini ganggu Mommy masak. Kayak anak kecil aja main kejar-kejaran. Di dapur lagi. Kalo sampai masakan Mommy tumpah, mereka berdua yang akan Mommy masak di sini," Jane memukul pinggir wajannya dengan spatula karena kesal.


Dev dan David serentak mengangkat kepala, mendengar mereka akan dijadikan masakan pengganti oleh Jane.


Dev bergedik ngeri kalau benar mommynya jadi seorang kanibal. Begitu juga David yang jadi takut kalau sudah melihat kemarahan Jane.


Apalagi sih yang menjadi ketakutan David? Ya tentu saja jatah malamnya akan berkurang. Atau malah ditiadakan oleh Jane dalam kurun waktu tertentu.

__ADS_1


Kiamat sudah menanti di depan mata David.


Sera terbahak sambil memegang perutnya. Melihat bagaimana kasihannya wajah Dev dan David, mengingatkan Sera akan Mama dan papanya.


Pantas saja mereka sahabat kental layaknya saudara. Kalau kelakuan Papa dan Daddy mertuanya sebelas duabelas.


Sama-sama takut istri.


Dan Sera sangat paham apa yang menjadi ketakutan terbesar mereka. Sera juga yakin kalau sahabat papanya yang lain, Om Ardy dan Om Daniel juga punya masalah yang sama.


Sera menggelengkan kepalanya dan masih terbahak.


Andai Sera tahu kalau anak laki-laki dari semua sahabat papanya itu juga punya kelakuan yang sama. Bucin sang istri. Contohnya siapa lagi kalau bukan Rio dan Viyo. Bahkan termasuk Dev, suaminya sendiri.


Tetapi anak perempuan mereka justru sebaliknya. Berkuasa atas para lelaki mereka. Cukup dengan ancaman yang menyangkut 'jatah malam', maka para lelaki akan tunduk seketika.


"Terus hukumannya apa, Mom?" Sera tersenyum jahil sembari matanya menatap Dev dan David bergantian.


Mata David dan Dev terbelalak mendengar pertanyaan Sera yang mengejek mereka berdua.


Mata Dev menatap istrinya seolah berkata 'kamu apa-apaan sih, Yang? Kamu bakal aku hukum nanti'. Namun sayangnya Sera membalas tatapan Dev tanpa rasa takut.


"Anak sama menantu sama saja," gerutu David dalam hatinya.


Bisa-bisanya dalam situasi genting begini, menantunya itu mengusulkan sebuah hukuman untuk mereka berdua. David jadi semakin tidak karuan dibuatnya.


"Hukuman? Ah, kamu bener juga Sera. Mereka berdua ini memang pantas dikasih hukuman," Jane menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan menantunya.


"Yang / Mom!" seru David dan Dev bersamaan melayangkan protes.


"Kalian berdua memang harus dihukum. Lihat apa yang kalian lakukan! Harusnya masakanku sudah selesai sejak tadi. Tapi gara-gara kalian semuanya jadi tertunda," sambungnya.


"Suruh aja Daddy sama Dev masak, Mom. Sekali-kali mereka yang kerja di dapur," usulan Sera sungguh membuat hati anak dan ayah itu kesal.


"Yang," rengek Dev kepada istrinya.


"Sera," David juga ikut merengek kepada menantunya.


"Aku kan cuma kasih saran buat Mommy. Keputusan tetap ada di tangan Mommy. Iya kan, Mom?" ujar Sera lagi tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Menantu kesayangan Mommy memang cerdas," Jane tersenyum lebar sembari mengangkat kedua jempol ke arah Sera.


Tatapan Jane kini beralih kepada anak dan suaminya. Dengan senyum jahatnya, Jane menyerahkan spatula ke dalam tangan David, suaminya.


Kemudian Jane juga memberikan pisau dapur dan sayur-sayuran yang ada di dalam baskom kecil kepada Dev.


Keduanya menatap Jane penuh tanda tanya.


"Kalian berdua masak. Lanjutkan pekerjaanku tadi. Awas kalo gak enak! Gak ada jatah!"


Bleemm!!!


"Yang! Mom!" rengek David dan Dev.


"Apa?? Protes? Iya, mau protes?" mata Jane menatap tajam Dev dan David.

__ADS_1


Serentak Dev dan David menggelengkan kepala. Sementara Sera cekikikan menahan tawanya melihat wajah memelas para lelaki di depannya.


"Ayo sayang kita pergi. Mommy ingin nonton drama saja," Jane merangkul menantunya untuk pergi dari sana.


"Ayo, Mom."


Sera tersenyum mengejek ke arah suaminya sebelum mengiyakan ucapan Mommy mertuanya.


Sepeninggal Jane dan Sera, David tidak hentinya menggerutu kesal terhadap Dev.


"Dad, udah deh. Mending masak aja dari pada ngomel mulu. Ntar gak dapat jatah loh dari Mom," ujar Dev mengingatkan David atas ancaman Jane tadi, tetapi dengan nada meledek.


"Gara-gara kamu jadi gini nih," gerutu David lagi.


***


Akhirnya masakan untuk makan malam selesai juga. Dev dan David tersenyum puas atas masakan mereka yang kini sudah terhidang sempurna di atas meja makan.


Dev memanggil keluarganya untuk makan malam bersama.


Ken duduk di pangkuan Dev sembari Sera menyuapi putranya. Sesekali Ken melihat ke arah Alex, omnya. Ingin mengajak bermain, tetapi dilarang daddynya karena sedang makan.


"Gimana Yang, enakkan?" tanya David dengan bangganya.


"Lumayan," jawab Jane seadanya. Padahal di dalam hati, Jane memuji masakan suaminya sangat enak. Bahkan lebih enak dari masakan di restoran.


"Jawabannya gak memuaskan banget sih," David memanyunkan bibirnya.


Dev, Sera dan Alex menahan tawa melihat interaksi David dan Jane.


"Gak usah lebay gitu. Gak cocok banget muka kamu. Malu sama cucu," jawaban jujur Jane membuat kepercayaan diri David runtuh seketika.


Dev terbahak melihat wajah kesal daddynya. Dev tidak mampu lagi menahan tawanya. Ken juga ikut tertawa, walau dia tidak tahu kenapa daddynya tertawa.


Ikut rame aja. Yang penting tertawa, pikir Ken.


"Anak ini," David mendengus.


"Tadi kenapa kamu kayak orang syok sampai lempar hape ke kepala Daddy?" kini David bertanya serius kepada Dev.


Karena perdebatan keduanya nanti sampai berakhir memasak bersama, membuat David lupa menanyakan hal itu.


Dev mengambil ponsel dari saku celananya, lalu membuka pesan yang Risa kirimkan padanya. Kemudian memberikannya kepada David.


"Siapa?" tanya David sambil menunjuk ponsel Dev.


"Risa," jawab Dev singkat.


Mendengar nama Risa, Jane dan Sera saling pandang.


"Sini Mommy liat!" Jane meminta ponsel Dev dari suaminya.


Jane menggeram setelah membacanya. Lantas memberikannya pada Sera, yang juga ingin tahu pesannya.


"Kamu mau Mommy apakan dia?" tanya Jane dengan menatap putranya itu.

__ADS_1


"Terserah Mommy," jawab Dev singkat.


__ADS_2