
Dengan tergesa-gesa Mona melangkahkan kakinya kembali ke ruangan Arga.
"Nah, itu Mona!" ucap Bu Lidia ketika melihat Mona yang berjalan ke arah mereka.
"Apa yang dikatakan oleh dokter barusan, Mona?" tanya Pak Abdi ketika Mona sudah hampir dekat dengan mereka.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan dari ayahnya tersebut, Mona malah melewati mereka dengan raut wajah yang kalau. Mona masuk ke dalam ruangan Arga kemudian berteriak, meneriaki lelaki itu.
Pak Abdi dan Bu Lidia saling lempar pandang untuk beberapa saat dan akhirnya mereka pun menyusul Mona masuk ke dalam ruangan itu.
"Dasar lelaki menjijikan!" hardik Mona dengan wajah memerah kepada Arga yang tengah terdiam dengan tatapan kosong menatap ke luar jendela.
Mendengar hardikan dari Mona barusan, Arga pun segera menoleh. "Apa maksudmu?" lirih Arga.
"Apa maksudku? Kau masih saja berpura-pura tidak tahu apa yang aku maksud, Mas!" geram Mona.
Pak Abdi segera menghampiri Mona dan mencoba menenangkan anak perempuannya itu. "Sudahlah, Mona. Kasihan Arga," ucap lelaki paruh baya itu.
Mona menepis tangan Pak Abdi yang ingin meraih tangannya dengan kasar. Ia juga menatap ayahnya tersebut dengan tatapan tajam dan mengerikan.
"Cukup, Ayah! Orang seperti dia ini tidak pantas dikasihani. Apa Ayah tahu yang dilakukan oleh lelaki ini di belakangku? Hampir setiap malam dia mengajak wanita lain ke rumah untuk tidur bersamanya. Bukan hanya itu, ia juga bercinta dengan banyak wanita di luaran sana dan sekarang ia menuai hasil dari perbuatannya, 'kan?"
Mona melirik Arga sambil tersenyum sinis. Sementara Pak Abdi dan Bu Lidia langsung syok mendengar penjelasan dari Mona barusan. Mata mereka terbelalak, begitu pula mulut mereka.
"I-itu tidak benar, Ayah. Mona berbohong," lirih Arga dengan suara yang melemah.
"Bohong katamu, Mas? Jika aku berkata bohong, lalu bagaimana caramu menjelaskan soal penyakit yang tengah bersarang di tubuhmu saat ini?" sahut Mona.
__ADS_1
"Penyakit? Penyakit apa, Mona?" tanya Pak Abdi.
Bukan hanya Pak Abdi, Arga pun begitu penasaran apa yang dimaksudkan oleh Mona barusan.
"Dokter baru saja memberitahuku soal bagaimana kondisi Mas Arga yang sebenarnya. Saat ini Mas Arga positif terjangkit HIV dan aku yakin Mas Arga mendapatkan penyakit itu dari salah satu teman wanitanya di luaran sana," sahut Mona dengan tatapan jijik menatap Arga.
"HIV?" Lagi-lagi Pak Abdi dan Bu Lidia syok mendengar kata-kata Mona barusan.
"HIV? Ti-tidak mungkin! Itu tidak mungkin," ucap Arga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apanya yang tidak mungkin, Mas! Dokter sendiri yang mengatakan hal itu padaku! Mereka berani menyatakan hal itu setelah benar-benar memastikannya," jelas Mona.
"Ti-tidak, Mona. Percayalah padaku, dokter pasti salah. Ya, aku akui. Aku memang pernah bercinta dengan beberapa wanita malam. Namun, aku bisa memastikan bahwa aku selalu mengenakan pengaman," sahut Arga, mencoba meyakinkan Mona.
Namun, tidak sebodoh itu Mona percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arga. Ketika bercinta dengannya saja, Arga pernah teledor dan melupakan benda penting itu hingga ia pun hamil.
Pak Abdi mendengus kesal. Ia menggelengkan kepalanya sambil menatap Arga dengan tatapan tajam menohok. Lelaki paruh baya itu tampak begitu kecewa setelah tahu siapa dan bagaimana Arga yang sesungguhnya.
"Aku benar-benar tidak menyangka, Arga. Ternyata kamu lelaki yang sangat menjijikkan. Kamu bahkan tega mengkhianati kedua putriku."
Bu Lidia meraih tangan Pak Abdi lalu mengajaknya keluar dari ruangan itu. "Sebaiknya kita pergi, Yah. Biarkan dia menanggung semua ini sendirian," ucap Bu Lidia yang menatap Arga dengan penuh kebencian.
Pak Abdi pun mengikuti langkah Bu Lidia. Sementara Mona mengikuti mereka dari belakang sambil menjinjing tas yang berisi barang-barang miliknya.
"Mona! Mona sayang! Kumohon, jangan tinggalkan aku. Aku sudah tidak memiliki siapa pun sekarang. Aku hanya memilikimu, Mona! Kumohon, tetaplah di sini," lirih Arga sambil terisak menatap punggung Mona yang berjalan meninggalkan ruangan itu.
Namun, Mona dan kedua orang tuanya tidak peduli. Mereka terus melangkah pergi dan menghilang dari balik pintu ruangan. Arga menjerit dan meneriaki nama Mona. Ia bahkan sampai lupa bagaimana kondisi kakinya saat itu.
__ADS_1
Arga melompat dari tempat tidur lalu berdiri dengan satu kaki hingga akhirnya tubuh lelaki itu pun oleng ke samping dan jatuh ke lantai ruangan. Bahkan jarum infus yang menancap di pergelangan tangannya pun ikut terlepas.
Tangis Arga semakin menjadi. Dengan sekuat tenaga, Arga menyeret tubuhnya hingga ke depan pintu, berniat menyusul Mona dan kedua mertuanya. Namun, sesampainya di sana, ternyata ketiga orang itu sudah menghilang.
"Monaaa! Jangan tinggalkan aku, aku mohon!"
Isak tangis Arga terdengar oleh beberapa orang perawat. Mereka segera menghampiri Arga lalu membantunya kembali ke ruangannya.
"Aku harus bicara dengan dokter. Tolong panggilkan dokter, Sus," pinta Arga sambil menyeka air matanya.
"Baiklah, Pak. Tunggu sebentar lagi," sahut perawat itu. Setelah selesai membantu Arga, perawat itu pun segera pergi ke ruangan dokter.
Selang beberapa menit kemudian, ia kembali lagi bersama seorang Dokter. Dokter itu tersenyum lalu menghampiri Arga.
"Apakah yang dikatakan oleh istriku itu benar, Dok? Aku positif terjangkit HIV?" tanya Arga dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Dokter itu mengangguk pelan. "Ya, Pak."
"Apakah kalian sudah melakukan tesnya dengan benar?" tanya Arga lagi.
"Tentu saja, Pak. Kami sudah melakukan pengecekan sesuai dengan prosedur yang ada dan hasilnya Anda positif terjangkit penyakit itu."
"Apakah saya bisa sembuh dan kembali hidup normal, Dok?" tanya Arga yang mulai tampak putus asa.
"Sebenarnya penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Namun, Anda tidak perlu khawatir. Dengan meminum obat anti retro viral (ARV) setiap hari, infeksi HIV bisa kita kendalikan. Dan jangan lupa, pola hidup sehat dan jangan melakukan hubungan 'itu' agar Anda tidak menularkannya kepada orang lain," jelas Dokter.
Arga mengusap wajahnya dengan kasar. Di saat-saat seperti ini, ia bahkan tidak memiliki siapa pun untuk bisa berbagi kesedihannya. "Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan setelah ini," gumamnya sambil menghembuskan napas berat.
__ADS_1
...***...