Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Perdebatan


__ADS_3

"Jelaskan saja, Mona. Tidak usah berbohong karena selama ini ibu tidak pernah mengajari kita untuk berkata bohong."


"Ehm, itu. Itu obatku, Mbak. Obat anemia-ku," sahut Mona yang tampak serba salah.


"Benarkah? Haruskah aku memanggil dokternya ke hadapan kita untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Risa semakin tegas karena ia tidak suka Mona kembali berbohong kepadanya.


"Ehm, jangan, Mbak!" Dengan tergopoh-gopoh Mona menghampiri Risa yang masih duduk di sofa dan bersimpuh di hadapan kakaknya itu.


"Maafkan aku, kumohon!" Mona terisak sambil menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Risa. "Baiklah aku jujur, Mbak. Saat ini aku tengah hamil dan kemarin aku memang sempat berkata bohong kepada Mbak soal obat itu," lanjutnya dengan tubuh yang bergetar.


Risa menghembuskan napas kasar. Ia tetap mencoba mengontrol emosinya agar tidak melakukan hal yang tidak diinginkan kepada gadis itu. Sementara Arga sudah mulai panik. Ia takut Mona mengatakan hal yang sebenarnya kepada Risa.


"A-apa! Kamu hamil?" Arga berpura-pura seolah ia sedang terkejut. Ia menghampiri Mona sambil memasang wajah marah dan mulai memarahi gadis itu.


"Dasar adik tidak tahu diri! Sudah bagus kami menampung kamu tinggal di sini, tapi kenapa kamu membalas kebaikan kami dengan cara memalukan seperti ini, Mona!" geram Arga sambil menunjuk-nunjuk ke arah Mona.


"Siapa yang sudah menghamilimu, Mona?" tanya Risa dengan wajah datar menatap Mona yang semakin ketakutan.


"Ehm, itu ...." Mona menghentikan ucapannya kemudian melirik Arga yang ternyata juga tengah menatapnya dengan tatapan mengerikan. Seolah mengancam agar ia tidak mengatakan hal yang sebenarnya kepada Risa.


"Jangan takut, Mona. Katakan padaku siapa yang sudah melakukan itu padamu?" Risa menatap Mona lebih dalam lagi dan membuat gadis itu semakin dilema. Ia bingung harus berkata jujur atau berkata bohong kepada Risa. Sebuah kebohongan untuk menutupi keburukan Arga di hadapan Risa.


"Helehh, paling juga kekasihnya. Bukankah selama ini Mona sering jalan keluar bersama kekasihnya? Dan aku curiga, jangan-jangan yang dikatakan oleh kamu waktu itu benar, Risa. Soal derit ranjang itu! Aku yakin Mona sudah memasukkan kekasihnya ke rumah ini dan bercinta di dalam kamarnya. Iya, 'kan?" sela Arga yang kemudian duduk di samping Risa.

__ADS_1


Risa tampak tidak peduli. Ia masih menunggu gadis itu berkata jujur agar semuanya terbongkar habis.


Berkali-kali Mona melirik Arga, berharap lelaki itu bisa menyelamatkan dirinya. Namun, bukannya membela atau membantunya berkata dengan jujur, Arga malah ikut menyudutkan dirinya di hadapan Risa.


"Lelaki itu adalah ...."


Mata Arga membelalak. Napasnya semakin memburu dan wajahnya pun tampak memucat.


"Mas Arga," lirih Mona dengan suara yang lemah.


Risa memejamkan mata, mencoba meredamkan emosinya yang sudah berada di puncak ubun-ubun dan siap meledak kapan saja. Sementara Arga kembali berkilah. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat kemudian bangkit dari posisinya.


"Adikmu ini benar-benar sudah gila, Risa! Bisa-bisanya dia menuduh aku melakukan hal menjijikkan itu kepadanya." Arga bertolak pinggang sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Jangan percaya kata-katanya, Risa! Dia berbohong! Dia hanya ingin merusak rumah tangga kita! Mending aku jajan sembarangan dari pada harus menyentuh dia," lanjut Arga sambil membuang muka.


"Kamu keterlaluan, Mas Arga! Setelah puas menikmati tubuhku, sekarang inikah balasanmu? Mana kata-katamu yang selalu menyanjung kemolekan tubuhku? Bukan kah selama ini tubuhku sudah menjadi candu untukmu? Bahkan kamu sendiri bilang bahwa kamu tidak tahan untuk tidak menyentuhku walau barang sehari," celetuk Mona.


"Kurang ajar, tutup mulutmu!" Arga yang sudah berada di puncak emosinya, melayangkan tangan ke udara. Namun, sebelum lelaki itu mendaratkan pukulannya ke wajah Mona, Risa kembali bersuara.


"Sudah. Cukup, Mas Arga!" Risa menatap tajam ke arah Arga.


Arga menarik tangannya dan kembali memelas kepada Risa agar tidak mempercayai kata-kata Mona barusan.

__ADS_1


"Percayalah padaku, Risa. Bukan kah kamu tahu bahwa selama ini aku tidak pernah membohongimu?"


Risa kembali tersenyum sinis. "Tidak usah bersandiwara, Mas Arga. Aku sudah melihat semuanya. Aku sudah melihat video syurr kalian berdua. Walaupun kamu tidak memperlihatkan wajah serta tubuhmu, tetapi aku percaya, Mas. Aku yakin seratus persen bahwa lelaki yang ada di video itu adalah kamu. Sekarang, apa kamu masih ingin menyangkal kebenaran itu?"


"Vi-video syurr? Yang mana?" tanya Arga yang kembali berkilah, seolah-olah tidak mengerti apa maksud Risa.


Risa tertawa pelan. "Sudah cukup, Mas. Jangan buat satu kebohongan lagi untuk menutupi kebohonganmu yang sebelumnya."


Arga menelan salivanya dengan susah payah. Namun, ia tidak ingin menyerah dan mengakui semua itu begitu saja. "Baiklah, terserah jika kamu tidak percaya! Itu urusanmu," celetuk Arga sambil mendengus kesal.


"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit. Kita lakukan tes DNA. Jika benar anak yang dikandung Mona adalah anakmu, maka aku ingin kamu ceraikan aku!" tegas Risa.


"Akh!"


Tiba-tiba Mona meringis kesakitan. Tubuhnya bahkan terjatuh ke lantai dengan posisi meringkuk. Wajahnya semakin pucat saja dan membuat perhatian Risa dan Arga teralihkan kepadanya.


"Tolong aku, Mbak! Sakittt ... sakit sekali!" rintihnya.


Risa menatap Arga dengan seksama. "Jangan bilang ini disengaja ya, Mas! Jika itu benar, kalian benar-benar keterlaluan!"


Arga hanya diam mematung dengan wajah cemas menatap Mona.


"Sekarang apa yang kamu tunggu, Mas? Bawa Mona ke Rumah Sakit!" titah Risa.

__ADS_1


Arga pun akhirnya bergerak. Ia menghampiri Mona kemudian mengangkat tubuh molek Mona menuju mobilnya.


...***...


__ADS_2