Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Hamil


__ADS_3

Risa dan Mona tiba di klinik kesehatan depan komplek. Risa memilih menunggu di luar ruangan bersama Lily, sementara Mona sudah masuk ke dalam ruang praktek bersama dokter yang bertugas di sana.


"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seorang Dokter cantik yang saat ini tengah duduk di hadapan Mona.


"Begini, Dok. Beberapa hari ini aku perhatikan wajahku terlihat memucat. Coba lihat," ucap Mona sembari menunjukkan wajahnya kepada dokter itu.


Dokter itu tersenyum sembari memperhatikan wajah cantik Mona yang memucat. "Selain itu, apa ada keluhan lainnya?"


Mona tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya kepalaku pun sering pusing. Perutku mual dan mau muntah, tapi tidak sampai muntah, sih. Dan tidak setiap saat juga, Dok. Hanya kadang-kadang saja," jawab Mona mantap.


Dokter mengerutkan keningnya sambil menatap Mona lekat. "Baiklah. Sebaiknya kita periksa dulu, ya."


"Ehm, baik, Dok."


Dokter itu mulai memeriksa kesehatan Mona seperti tekanan darah, denyut jantung dan sebagainya. Hingga beberapa menit kemudian, pemeriksaan itu pun selesai.


"Ehm, Mbak Mona. Kapan terakhir kali Mbak menstruasi?" tanya Dokter itu dengan begitu serius.


"Hah, menstruasi?" Mona tampak kebingungan. Ia mulai mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mendapat tamu bulanan.


"Bulan kemarin masih dapet kok, Dok. Kalau untuk bulan ini memang belum," jelas Mona.


Dokter cantik itu mengangguk pelan. "Sebaiknya kita tes kehamilan dulu ya, Mbak."


"Apa! Test kehamilan?" pekik Mona sambil tersenyum getir. "Tapi, Dok! Tidak mungkin aku hamil, sementara kami selalu menggunakan pengaman jika sedang bercinta," sambung Mona dengan wajah cemas.

__ADS_1


Dokter itu kembali tersenyum. "Kita test saja dulu biar semuanya jelas. Bagaimana, Mbak?"


Mona menganggukkan kepalanya walaupun sebenarnya ia begitu ragu. "Baiklah, Dok."


Dokter meraih sebuah alat test kehamilan kemudian mengajak Mona melakukan test tersebut di dalam kamar kecil yang ada di klinik tersebut.


Beberapa menit kemudian.


Mona tampak gelisah menunggu hasil dari test kehamilan tersebut. Mulutnya terus bergumam tak karuan. Ia bingung kenapa dokter bisa memutuskan untuk test kehamilan. Padahal ia sangat yakin selama melakukan hal itu bersama Arga, Arga selalu mengenakan pengaman.


Dokter tersenyum sembari duduk kembali di kursinya. Sementara alat test kehamilan tersebut masih menempel di tangan dokter cantik itu.


"Bagaimana, Dok? Hasilnya negatif, 'kan?" tanya Mona yang sudah tidak sabar menanti jawaban dari dokter.


"Hasilnya positif, Mbak. Selamat, ya. Anda hamil dan usia kehamilan Anda sudah memasuki minggu ke-tiga."


Jawaban dari dokter cantik itu membuat Mona terkejut setengah mati. Ia benar-benar tidak percaya bahwa saat ini dirinya tengah mengandung. Mengandung anak dari hasil perselingkuhannya bersama kakak ipar.


Mona yang begitu frustasi, akhirnya terisak di ruangan itu. Buliran kristal bening itu mengalir deras di kedua sudut mata indahnya. Bibir gadis itu bergetar, begitu pula seluruh tubuhnya.


Dokter menepuk pundak Mona dengan lembut dan mencoba menenangkan perasaan gadis itu. "Tidak apa-apa, Mbak Mona. Semuanya pasti akan baik-baik saja. Suami Mbak Mona pasti akan senang mendengar berita baik ini."


Bukannya tenang, tangis Mona semakin pecah karena apa yang dikatakan oleh dokter tidak seindah kenyataannya. Ayah dari bayi itu adalah kakak iparnya sendiri. Sementara lelaki itu pernah berkata dengan tegas bahwa hubungan mereka hanya sebatas saling menguntungkan dan saling memuaskan satu sama lain.


"Bagaimana aku bisa hamil, Dok? Sementara dia selalu menggunakan pengaman ketika kami bercinta," lirih Mona di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Semua bisa saja terjadi, Mbak. Mbak coba ingat-ingat, mungkin saja mas-nya pernah kelupaan dan akhirnya tembus," ucap Dokter sambil tersenyum menatap Mona.


Mona tampak mengingat-ingat. Tiba-tiba saja ia teringat ketika pertama kalinya bercinta dengan Arga. Saat itu ia tengah mabuk setelah pulang dari kumpul-kumpul bersama temannya. Walaupun di antara sadar dan tidak, tetapi Mona masih ingat bahwa saati itu Arga tidak mengenakan pengaman apa pun. Lelaki itu bahkan dengan sengaja menyemburkan cairan kental ke dalam rahimnya.


Mona menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia kembali terisak setelah mengingat kejadian itu. "Anda benar, Dok. Mas Arga pernah mengeluarkannya di dalam. Padahal saat itu ia tidak mengenakan pengaman apa pun."


"Nah, benar 'kan? Sebaiknya Mbak tidak usah sedih. Yakinlah bahwa suami Mbak pasti akan senang. Siapa sih yang tidak senang setelah mengetahui bahwa dirinya akan menjadi seorang ayah atau pun ibu?" Dokter mencoba memberikan semangat untuk Mona.


Mona mengangguk pelan. Walaupun ia masih ragu jika Arga akan menerima kehadiran bayi mereka.


"Begitu, donk! Semangat, biar dedenya sehat dan ibunya juga," lanjut Dokter.


Dokter menyerahkan beberapa macam vitamin untuk Mona dan juga calon bayinya. Setelah selesai membayar, Mona pun segera keluar dari ruangan itu dengan mata sembab. Ia melangkah gontai menghampiri Risa kemudian mengajaknya pulang.


"Yuk, kita pulang!" lirih Mona yang tidak bersemangat.


"Mona kamu kenapa? Kamu habis menangis, ya?" tanya Risa sambil terus menatap wajah Mona.


"Ya, Mbak."


"Loh, memangnya kenapa, Mona?" tanya Risa lagi.


"Ternyata benar, Mbak. Aku kembali terkena anemia dan ini lebih parah dari sebelumnya. Aku takut kenapa-kenapa, makanya aku menangis tadi ketika di dalam," ucap Mona bohong.


Risa tersenyum. "Setelah ini kamu pasti sembuh. Yakinlah! Oh ya, tadi Dokter sudah suntik kamu 'kan?"

__ADS_1


Mona mengangguk. "Ya, Mbak, sudah."


...***...


__ADS_2