
Risa yang sudah tidak tahan dengan semua tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh Arga kepadanya, segera meninggalkan ruangan itu. Ia bergegas menemui Bi Surti untuk menjemput bayi Lily dan membawanya masuk ke dalam kamar utama untuk bersiap-siap.
Bersiap-siap angkat kaki dari kediaman mereka. Risa berkemas. Memasukkan berbagai macam barang kebutuhan Lily, seperti popok, minyak telon, pakaian, serta barang-barang lainnya ke dalam koper.
Setelah selesai berkemas, Risa yang kelelahan memutuskan untuk duduk sejenak di tepian tempat tidur. Ia memperhatikan Lily yang sepertinya sudah mengantuk dan saat itu memang sudah waktunya untuk Lily tidur. Dengan terpaksa, Risa pun menunda niatnya.
"Aku harus pergi ke mana setelah ini? Aku bahkan tidak punya uang sepeser pun. Uang belanja yang diberikan oleh Mas Arga tiap bulannya semakin sedikit. Jangankan untuk menyisihkannya, untuk keperluan Lily saja masih tidak cukup," gumam Risa dengan wajah kusut, sekusut hati dan pikirannya saat itu.
Sementara itu.
Tanpa sepengetahuan Risa, Arga yang merasa sangat kesal memilih menghubungi kedua orang tua angkat wanita itu. Ia menceritakan soal Risa yang ingin bercerai dengannya kepada pasangan paruh baya itu melalui sambungan telepon.
"Ya ampun, Risa! Sekarang di mana dia?" pekik Pak Abdi.
"Dia di kamar, Ayah. Sebaiknya Ayah dan Ibu ke sini dan coba ajak dia bicara. Siapa tahu Risa bersedia mendengarkan kata-kata kalian," sahut Arga.
"Baiklah, kami akan segera ke sana!" jawab Pak Abdi.
Setelah memutuskan panggilan dari Arga, Pak Abdi pun segera mengajak Bu Lidia untuk menemui anak angkatnya itu.
Saat itu Mona dengan sengaja menguping pembicaraan ayahnya bersama Arga di sambungan telepon. Ia tersenyum semringah setelah mendengar penuturan Arga soal Risa yang ingin bercerai.
"Baguslah! Setidaknya dengan begitu aku tidak perlu berbagi ranjang dengan Mbak Risa," gumam Mona sambil tersenyum tipis, memperhatikan kedua orang tuanya yang sedang sibuk bersiap-siap menuju kediaman Arga.
__ADS_1
***
Satu jam kemudian.
Risa menoleh ke arah jam dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Itu artinya sebentar lagi hari akan menjadi gelap. Setelah Lily terbangun dari tidurnya, Risa bergegas menggendong bayi perempuannya itu sambil menyeret koper hingga menuju pintu utama.
"Sialan!" umpat Arga melihat Risa yang sudah berada di ambang pintu utama sambil menyeret kopernya.
"Heh, Risa! Dengarkan perkataanku ini baik-baik!" ucap Arga dengan setengah berteriak dan berhasil membuat Risa menghentikan langkahnya.
"Aku akan talak tiga dirimu jika berani melewati garis pintu tersebut walaupun hanya satu centi saja!" Arga mulai mengancam dan menakut-nakuti Risa.
"Ingat, Risa! Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku! Sebaiknya kamu pikirkan berkali-kali sebelum mengambil keputusan ini. Sebab aku pantang memungut sampah yang sudah aku buang!" lanjut Arga dengan begitu tegas.
"Maafkan aku, Mas Arga. Tetapi keputusanku sudah bulat. Ya, seperti katamu. Aku hanyalah sampah yang tak berguna. Tidak pantas untuk kamu pungut kembali," sahut Risa sambil tersenyum miring.
"Risa, jangan main-main denganku!" teriak Arga lagi setelah melihat Risa yang tanpa takut melanjutkan langkahnya kembali.
Benar saja, Risa melewati garis pintu utama tanpa ragu-ragu. Hal itu membuat Arga semakin meradang dibuatnya.
"Baiklah, Risa! Baiklah, jika itu maumu! Mulai hari ini, sekarang ini, dan detik ini, kamu bukanlah istriku lagi! Sekarang pergilah, temui selingkuhanmu itu dan rayakan kebersamaan kalian!" geram Arga dengan wajah memerah menatap punggung kurus Risa yang berjalan semakin menjauh darinya.
"Lagi pula aku tidak rugi kehilangan dirimu, Risa! Mona jauh lebih baik darimu, lebih cantik, lebih seksi dan jauh lebih muda darimu. Bukan hanya itu, Mona juga lebih pandai memuaskan aku saat berada di ranjang, tidak seperti dirimu!" kesal Arga sambil menghardik Risa.
__ADS_1
Hati Risa seakan dicabik-cabik mendengar celotehan Arga saat itu. Ia benar-benar sakit ketika harus dibanding-bandingkan dengan adiknya sendiri. Namun, Risa tetap mencoba tegar. Ia terus melanjutkan langkahnya tanpa menoleh kepada Arga.
Emosi Arga semakin memuncak. Ia mengejar Risa yang sedang menelusuri halaman rumahnya. Arga menarik tangan Risa dan membuat langkah wanita itu kembali tertahan.
"Kembalikan cincin kawinku!" tegasnya sambil mengulurkan tangan ke hadapan Risa.
Berbagai cara Arga lakukan agar Risa mengurungkan niatnya untuk keluar dari rumah itu. Sebab jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Arga masih mencintai Risa dan berharap wanita itu bersedia hidup bersama dirinya dan juga Mona.
Risa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap menyebalkan Arga. Bahkan cincin kawin pun ingin diminta kembali oleh lelaki itu.
"Kamu benar-benar sudah gila, Mas!" Risa melepaskan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya kemudian menyerahkan cincin cantik itu kembali ke tangan Arga.
"Ini, ambilah!" geram Risa.
Tepat di saat itu, sebuah mobil tua berhenti tepat di depan halaman rumah Arga. Mobil berwarna silver yang sudah berumur puluhan tahun itu adalah mobil milik Pak Abdi dan Bu Lidia. Pasangan itu bergegas keluar dari mobilnya ketika menyaksikan perdebatan antara Risa dan Arga di halaman rumah mereka.
"Risa, kamu mau ke mana dengan koper besar ini?" tanya Bu Lidia dengan wajah cemas menatap Risa.
"Aku harus pergi, Bu. Mas Arga sudah mengucapkan kata talak kepadaku, jadi untuk apa aku berada di sini?" jawab Risa dengan wajah dingin.
"Ya ampun, Ris!" pekik Bu Lidia dengan mata berkaca-kaca.
...***...
__ADS_1