
Mona masih duduk di tepian ranjangnya dengan wajah menekuk. Sementara Arga keluar dari tempat persembunyiannya dengan pakaian lengkap. Lelaki itu berjalan mengendap-endap dan menghampiri Mona.
"Kamu dengar apa yang dikatakan oleh Mbak Risa, Mas? Dia ingin aku kembali ke rumah ibu," kesal Mona dengan berbisik kepada Arga yang kini tengah duduk di sampingnya.
"Kamu tenang saja. Risa tidak akan pernah bisa mengusirmu dari sini sebab rumah ini milikku dan dia tidak punya hak atas rumah ini." Arga meraih wajah Mona yang menekuk kemudian melabuhkan ciuman hangat di bibir seksi gadis itu.
"Ah, semoga saja begitu." Mona mendorong pelan wajah Arga. "Mas, sebaiknya kita tidak usah melakukan hal ini lagi. Aku takut ketahuan, Mas. Kita masih bisa melakukannya di tempat lain, tapi tidak di kamar ini. Kamar ini terlalu dekat dengan kamarnya Mas. Suara dessahanku pasti akan kedengaran oleh Mbak Risa," lanjut Mona dengan kepala tertunduk.
"Kita bicarakan ini nanti. Soalnya Mas harus pergi. Bye, Mona sayang!"
Mona diam dan tak menjawab. Ia hanya memperhatikan Arga yang kini menjauh darinya dengan wajah menekuk. Karena takut ketahuan, Arga memilih keluar lewat jendela kamar. Ia mengendap-endap dan akhirnya berhasil kabur tanpa ada yang melihatnya.
Keesokan harinya.
Risa terbangun dari tidurnya dan ia melihat sosok Arga yang kini masih berbaring di sampingnya dengan mata terpejam. Lelaki itu tertidur nyenyak setelah kelelahan bergulat panjang bersama Mona tadi malam.
Perlahan Risa menggoyang-goyangkan tubuh Arga pelan seraya memanggil namanya. "Mas Arga, Mas!"
"Hmmm," gumam Arga yang tampak tidak suka ketika Risa mencoba membangunkannya.
"Ini sudah pagi. Apa Mas tidak masuk kerja hari ini?" tanya Risa.
Arga refleks membuka mata. Ia sontak menoleh ke arah jam dinding sambil mengucek matanya. "Ya ampun, aku kesiangan!" pekik Arga.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Arga bangkit dari posisinya kemudian bergegas menuju kamar mandi. Risa pun ikut bangkit. Ia meraih pakaian Arga yang tergeletak sembarang di lantai kamar.
"Kapan Mas Arga kembali? Ya ampun, bisa-bisanya aku tertidur nyenyak di saat punya masalah pelik soal Mona," gumam Risa sembari meraih celana Arga yang tergeletak di samping kakinya.
Ketika ia mengangkat celana milik Arga, tiba-tiba sesuatu jatuh dari saku celana tersebut. Beberapa bungkus pengaman untuk laki-laki yang memiliki aneka bentuk.
"Apa ini?" Risa meraih benda itu dan memperhatikannya dengan seksama.
Tangan Risa bergetar hebat dan jantungnya tiba-tiba berdenyut lebih cepat dari biasanya setelah tahu benda apa yang saat itu ia pegang.
"Mas Arga!" pekik Risa. "Untuk apa benda ini? Jangan-jangan Mas Arga, ah!" Risa menghentikan ucapannya.
Ia duduk di tepian tempat tidur karena kakinya sudah tidak mampu menopang berat badannya. Lututnya terasa lemas ketika memikirkan fungsi benda yang ada di tangannya itu.
Tidak berselang lama, Arga keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuh bagian bawahnya. Lelaki itu tampak lebih segar setelah melakukan ritual paginya tersebut. Walaupun sebenarnya ia sempat merasa kedinginan saat membasahi tubuhnya pertama kali.
Arga melangkah dengan cepat menuju lemari pakaian dan lelaki itu sempat memperhatikan Risa yang masih terpaku di tepian tempat tidur dengan tatapan menerawang.
"Apa kamu tidak ada kerjaan, Risa? Hingga melamun seperti itu di pagi-pagi buta begini," ucap Arga sembari meraih pakaian dallam serta setelan kerjanya.
Risa sontak menatap Arga dengan tatapan yang sulit diartikan. Yang pastinya saat itu hatinya sedang galau dan butuh penjelasan dari suaminya itu.
"Apa ini, Mas?" Risa melemparkan beberapa pengaman milik Arga yang ia temukan tadi ke lantai kamar, tak jauh dari posisi Arga berada.
__ADS_1
Arga refleks melihat ke arah benda itu dan ia sempat terkejut karena tidak menyangka bahwa Risa akan menemukan benda tersebut dari saku celananya.
"Apa itu?" tanya Arga balik. Seolah-olah tidak mengerti apa maksud Risa saat itu.
"Oh, ayolah, Mas Arga! Tidak usah berpura-pura tidak tahu. Aku menemukan benda ini di saku celanamu dan aku yakin benda itu adalah milikmu. Sekarang katakan padaku, untuk apa Mas membeli benda itu? Apa sekarang Mas suka jajan sembarangan?" tanya Risa dengan wajah serius menatap Arga.
Arga menekuk kesal. Namun, ia terus melanjutkan aktivitasnya, memasang celana serta kemeja kerjanya sambil membalas tatapan Risa.
"Kalau memang benda itu milikku, memangnya kenapa? Ya, tadi niatnya aku memang ingin jajan, tetapi aku tidak jadi melakukan. Kamu tahu kenapa?" jawab Arga dengan ketus.
"Karena aku masih ingat kamu, Risa!" lanjut Arga.
"Mas benar-benar tega!" Dada Risa mulai bergetar.
"Tapi aku tidak jadi melakukannya, Risa. Aku memilih membawa pulang benda itu, siapa tahu nanti aku bisa menggunakannya saat bermain bersamamu. Apa itu salah?" ketus Arga yang tidak mau kalah dan tidak ingin disalahkan oleh Risa.
"Sudah, jangan bahas masalah ini lagi. Aku sudah terlambat dan tidak butuh celotehanmu yang tidak berguna itu," lanjutnya.
Risa menghembuskan napas berat. Sebenarnya ia masih kesal soal pengaman itu, tetapi karena Arga sudah terburu-buru, Risa tidak ingin memperpanjang masalah itu.
"Aku masih ingin membicarakan masalah ini nanti, Mas!" tegas Risa.
"Terserah!" jawab Arga sambil menyisir rambutnya hitamnya.
__ADS_1
...***...