
"Anak kita? Siapa yang Ibu maksud dengan anak kita?" Renatta yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, segera menghampiri sang ibu.
Bu Ara tersentak kaget. Ia tidak menyangka bahwa Renatta mendengar semua pembicaraannya dengan sang suami. Bukan hanya Bu Ara, Pak Guntur pun ikut terkejut sebab lelaki itu masih bisa mendengar ucapan Renatta dari ponsel yang masih terhubung.
"Re-Renatta? Apa kamu mendengar semua yang kami bicarakan?" tanya Bu Ara dengan terbata-bata.
"Ya! Aku mendengarnya, Ibu, dan aku butuh penjelasan dari kalian. Siapa yang kalian sebut dengan 'anak kita' barusan? Dan jangan coba bohong padaku! Karena aku bukan anak kecil yang akan percaya jika Ibu mengatakan bahwa yang kalian maksud itu adalah aku," sahut Renatta dengan tegas.
Bu Ara menjatuhkan diri di atas tempat tidur empuknya. Ia duduk di pinggir ranjang dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah. Duduklah, Renatta. Biar ibu jelaskan semuanya," ucap Bu Ara kepada Renatta sambil menepuk ruang kosong yang ada di samping tubuhnya.
Renatta pun menurut saja. Ia duduk di tepian ranjang, tepatnya di samping sang ibu. Sebelum menceritakan yang sebenarnya kepada Renatta, Bu Ara sempat menghembuskan napas berat.
"Begini, Renatta .... Dulu, ketika aku masih seusiamu, aku dan ayahmu menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kami berniat serius dan ingin membina rumah tangga. Namun sayang, harapan kami tidak seindah kenyataan. Hubungan kami tidak mendapatkan restu dari mendiang kakek dan nenekmu. Mereka beranggapan bahwa ayahmu adalah lelaki yang tidak tepat untuk Ibu. Sejak saat itu mereka tidak membolehkan kami bertemu lagi. Hingga suatu hari, Ibu dinyatakan hamil dan tak ada sesiapa pun yang tahu. Ibu mencari ayahmu dan ingin menceritakan soal kehamilan Ibu. Tetapi, ayahmu malah menghilang bagai ditelan bumi. Bahkan nomor ponselnya pun sudah tidak dapat dihubungi lagi. Hingga akhirnya hal itu pun terjadi ...." Bu Ara terisak sambil memegang dadanya.
"Apa yang terjadi, Bu?" Renatta mengusap lembut punggung Bu Ara sambil menatap sedih kepada wanita itu.
__ADS_1
Bu Ara menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali, mencoba menenangkan dirinya sendiri. "Ibu melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik tanpa sepengetahuan bahkan tanpa bantuan siapa pun. Ibu panik sekaligus takut. Ibu yang sudah tidak bisa berpikir jernih, segera membawa bayi itu ke sebuah panti asuhan dan meminta mereka untuk merawatnya. Mereka bersedia menerimanya, tetapi dengan syarat aku tidak boleh mengganggu gugat anak itu lagi jika ada keluarga yang bersedia mengadopsinya. Ibu yang bodoh pun menyetujuinya dan bersedia menandatangani surat perjanjian bermaterai itu."
Lagi-lagi Bu Ara terisak dan kali ini isak tangisnya terdengar sangat memilukan. Terlihat jelas dari reaksinya saat itu, Bu Ara sangatlah menyesali perbuatan bodohnya.
"Lalu, bagaimana ayah dan ibu bisa bersatu?" tanya Renatta lagi.
"Ibu tidak sengaja bertemu dengan ayahmu lagi, ketika kakekmu sudah meninggal dunia. Ibu menceritakan semuanya kepada ayahmu dan dia sangat menyesal karena sudah meninggalkan Ibu pada waktu itu. Ayahmu mengajak Ibu mengunjungi panti asuhan itu dan berharap mereka bersedia mengembalikan anak perempuan kami. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Bayi kami sudah diadopsi oleh orang lain," jelas Bu Ara.
"Kenapa kalian tidak mencari tahu di mana bayi kalian berada?" tanya Renatta yang agak sedikit kesal mendengar penjelasan Ibunya saat itu .
"Sudah, Nak. Semua cara sudah kami lakukan. Dan sesuai perjanjian yang sudah Ibu sepakati dengan pihak panti, kami tidak boleh mengganggu gugat anak itu lagi. Mereka bahkan tidak bersedia memberi tahu siapa dan di mana orang yang sudah mengadopsi anak perempuan kami tersebut." Bu Ara kembali terisak.
"Benar, kamu ingin menemuinya?" tanya Bu Ara balik.
Renatta menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Ya. Aku ingin bertemu dengannya."
Bu Ara menarik napas berat sambil tersenyum kecut. "Baiklah kalau begitu. Sekarang ikuti Ibu," ucap Bu Ara sembari menarik pelan tangan anak perempuannya itu.
__ADS_1
"Ke mana, Bu?"
"Bukankah kamu bilang ingin bertemu dengannya?" tanya Bu Ara.
Renatta pun mengangguk dan mengikuti langkah Bu Ara yang menuntunnya menuju ruang utama. Pada awalnya Renatta masih tidak menyadari bahwa di ruangan itu masih ada Ayden dan Risa. Ia membulatkan matanya dengan sempurna setelah sadar siapa yang dimaksudkan oleh ibunya.
"Risa? Ja-jadi Risa ...." gumam Renatta dalam hati.
Tepat di saat itu, mereka sudah tiba ruang utama. Di mana Ayden dan Risa masih menunggu dengan harap-harap cemas. Tatapan Renatta langsung tertuju pada Risa dan ia menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu sulit untuk dijelaskan.
"Renatta, kenalkan ini Risa, kakak perempuanmu," ucap Bu Ara tiba-tiba, yang berhasil membuat Ayden, Risa dan Renatta terkejut mendengarnya.
Risa menatap lekat Bu Ara dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Ja-jadi, itu benar? Tante adalah wanita yang sudah meninggalkan aku di panti asuhan?" tanya Risa dengan bibir bergetar.
"Maafkan Ibu, Risa. Ibu bisa menjelaskan semuanya setelah ayahmu pulang. Tunggulah sebentar lagi," lirih Bu Ara.
Sementara Renatta masih syok dengan kenyataan itu. Ia diam membisu dan tak mampu berkata apa pun lagi.
__ADS_1
...***...