
Arga memacu mobilnya sambil sesekali berdecak sebal. Rambutnya yang tadi tersisir rapi, kini tampak berantakan.
"Sialan! Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata bule kere itu sudah menjadi orang sukses sekarang. Siapa sangka lelaki pengangguran itu kini menjabat sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Sementara aku? Aku masih jalan di tempat. Tetap menjadi supervisor dan supervisor lagi!" gerutu Arga sambil mengusap kasar wajahnya.
Arga melirik layar ponsel yang ia letakkan di samping tubuhnya. Mencoba memastikan tidak ada pesan chat atau panggilan yang ia lewatkan. Namun, seperti sebelumnya, tak ada notifikasi apa pun di sana.
"Sebenarnya ke mana Nella? Sudah beberapa hari nomor ponselnya tidak dapat dihubungi."
Tak terasa kini Arga tiba di depan sebuah kafe, di mana ia dan Nella sering berkumpul di sana. Setelah memarkirkan mobilnya, Arga segera masuk ke dalam kafe tersebut kemudian menghampiri salah satu karyawan di kafe tersebut.
"Kamu lihat Nella?" tanya Arga.
Lelaki itu menggelengkan kepalanya. "Beberapa hari ini ia tidak terlihat. Ada yang bilang katanya dia sedang sakit," jawab wanita itu.
Arga menautkan kedua alisnya heran. "Sakit? Sakit apa?"
"Entahlah, aku pun tidak tahu."
Wanita itu segera pergi kemudian meninggalkan Arga yang masih mematung dengan wajah heran. "Sakit? Apa sakitnya begitu parah hingga ia tidak bisa mengaktifkan ponselnya?" gumam Arga.
Arga duduk di sebuah meja kosong kemudian memesan sebuah minuman dingin untuk mendinginkan hati dan otaknya yang terasa panas. Sembari menunggu pesanannya datang, Arga kembali mengecek nomor ponsel milik Nella.
"Masih belum aktif," gumam Arga lagi.
Tampak jejeran pesan yang dikirimkan oleh Arga untuk Nella. Namun, statusnya hanya centang satu sejak beberapa hari yang lalu. Arga tampak stress. Padahal niatnya ingin berbagi cerita duka bersama wanita itu.
"Ya ampun, Nella! Kenapa kamu malah meninggalkan aku di saat aku sangat membutuhkan dirimu?" gumamnya.
Seorang pramusaji menghampiri Arga kemudian menyerahkan segelas minuman dingin yang tadi dipesan oleh lelaki itu.
"Selamat menikmati."
"Terima kasih, Mbak."
__ADS_1
Sepeninggal pramusaji itu, Arga pun kembali fokus pada layar ponselnya sembari menyedot minuman dingin yang kini ada di hadapannya.
Ting! Terdengar sebuah notifikasi pesan chat masuk.
Arga cepat-cepat mengecek siapa yang mengirimkan pesan chat tersebut kepadanya. "Semoga ini Nella!" gumamnya dengan begitu antusias.
Ternyata feeling-nya benar. Pesan chat tersebut berasal dari Nella. Semua pesan yang pernah dikirimkan oleh Arga kini berstatus terkirim dan sudah dibaca oleh wanita itu. Namun, balasan dari Nella begitu singkat.
"Temui aku di rumahku, Mas Arga. Ada yang ingin aku bicarakan padamu dan ini sangatlah penting." Tulis Nella di dalam pesan chat tersebut.
Arga tersenyum lebar. Ia bergegas menghabiskan minuman dingin yang tadi ia pesan kemudian membayarnya di kasir. Kini lelaki itu kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Nella dengan hati dan pikiran yang masih kalut.
"Aku harus menceritakan ini semua kepada Nella. Saat ini yang mengerti perasaanku hanya Nella dan tidak ada yang lain," gumam Arga.
Setelah beberapa menit kemudian, lelaki itu tiba di kediaman Nella. Beberapa tetangga Nella kini sedang asik bergosip ria ketika melihat Arga memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah wanita malam itu.
Mereka tampak mencibir dan memandang aneh kepada Arga. Namun, Arga tidak peduli. Ia terus melangkahkan kakinya menuju pintu lalu mengetuknya.
"Nella, ini aku! Arga," ucap Arga sembari mengetuk pintu tersebut.
"Masuklah, Mas. Pintunya tidak dikunci!"
Terdengar suara Nella dari dalam rumah. Suaranya terdengar lirih dan agak sedikit serak. Arga yakin bahwa Nella memang sedang sakit. Sama seperti yang dikatakan oleh wanita di kafe barusan.
Perlahan Arga mendorong pintu tersebut lalu masuk ke dalam rumah wanita itu. Rumah itu tampak sepi karena tak ada seorang pun di sana. Suasananya tampak gelap karena jendela serta gorden di dalam rumah itu masih tertutup rapat.
"Nella, kamu di mana?" panggil Arga.
"Aku di dalam kamar, Mas!" lirih Nella. "Kemarilah," ajaknya kemudian.
Arga tersenyum lebar. Ia bergegas menuju kamar Nella kemudian masuk ke dalam ruangan itu.
"Nella?"
__ADS_1
Tampak Nella sedang berbaring di atas tempat tidurnya dengan kondisi tubuh yang tampak lemah. Arga menghampiri wanita itu kemudian duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa, Nel?"
"Mas, sebenarnya aku ...." Nella terdiam sejenak sambil menggigit bibirnya.
"Tunggu sebentar! Biar aku buka gorden jendelamu dulu, biar cahaya bisa masuk!"
Arga bangkit dari posisi duduknya kemudian berjalan menghampiri jendela. Ia membuka gorden jendela agar cahaya bisa masuk ke dalam ruangan kamar Nella yang gelap dan terasa pengap.
"Nah, kalau begini 'kan lebih baik." Arga kembali ke posisinya semula. Duduk di tepian ranjang Nella seraya memperhatikan wajah pucat wanita itu.
Arga menghela napas berat. "Oh ya, apa kamu tidak ingin bertanya aku dari mana?"
Walaupun sebenarnya Nella tidak tertarik, tetapi ia tetap menanyakan hal itu kepada Arga. "Memangnya Mas dari mana?"
"Aku baru saja dari pengadilan, Nel. Kini Aku dan Risa sudah resmi bercerai." Arga terdiam sejenak sambil menelan salivanya dengan susah payah. "Sekarang aku bukanlah siapa-siapanya Risa."
"Apa kamu menyesal, Mas?" tanya Nella.
Arga tak langsung menjawab. Ia tetap diam untuk beberapa saat hingga akhirnya sesuatu terucap dari bibir lelaki itu.
"Maukah kamu menikah denganku, Nella? Aku berjanji akan menceraikan Mona dan menjadikan dirimu satu-satunya istriku," tanya Arga.
Bukannya bahagia mendengar ucapan Arga, Nella malah terisak. Ia menangis hingga sesenggukan hingga membuat Arga menjadi penasaran.
"Kamu kenapa, Nel? Apakah ada yang salah pada pertanyaanku barusan?"
Nella menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, Mas. Bukan! Sebenarnya aku ...."
(Jeng ... jeng ... jeng!)
...***...
__ADS_1