Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Perdebatan Arga Dan Risa


__ADS_3

"Ish, aku kesel beneran, Bang! Itu si laki kenapa gak ada sopan santunnya sama sekali?" celetuk Rachel sambil menekuk wajahnya.


"Entah kenapa aku merasa tidak enak sama Risa. Aku yakin saat ini mereka pasti sedang bertengkar. Seharusnya aku mendengarkan kata-kata Risa dan cukup mengantarkannya hingga di depan komplek," sahut Ayden yang merasa bersalah kepada Risa.


"Ya, enggak bisa begitu juga kali, Bang! Masa Abang tega membiarkan Risa jalan kaki menuju rumahnya sambil menggendong seorang bayi? Lagi pula jarak rumah Risa juga cukup jauh menurutku. Kalau aku sih ogah, Bang. Capek kali, apalagi kalau harus jalan sambil gendong bayi," kesal Rachel.


"Ah, semoga Risa baik-baik saja." Ayden membuang napas berat.


Rachel melirik Ayden sambil tersenyum menggoda. "Risa siapanya Bang Ay, sih? Sepertinya dia pernah menjadi sosok yang begitu istimewa di mata Bang Ay, 'kan?"


"Apaan, sih?" Ayden terkekeh pelan.


"Jangan bohong, Bang Ay! Aku bisa melihatnya dari cara Bang Ay menatap Risa. Dalam sekali dan aku tidak pernah melihat Bang Ay seperti itu kepada wanita lain, bahkan kepada Renatta."


Ayden membuang muka dan berpura-pura melihat ke sekeliling. Padahal saat itu ia tengah tersenyum, tetapi tidak ingin terlihat oleh adik sepupunya itu.


"Bang Ay! Ish, Abang tersipu malu 'kan! Tuh lihat, muka Abang memerah. Sudahlah Bang Ay, jujur saja sama adekmu ini, Risa mantan terindahnya Bang Ay, 'kan?" goda Rachel sambil menengok wajah Ayden yang terus mencoba menghindarinya.


"Hhhh!" Ayden mengacak pelan puncak kepala Rachel. "Sudah, jangan bahas itu! Ingat, hari pernikahanmu dengan Ryan hanya tinggal beberapa minggu lagi. Sebaiknya kamu fokus ke pernikahanmu saja!"


"Ah, kenapa Bang Ay ingatkan itu lagi. Aku 'kan jadi gugup."


Sementara itu di kediaman Risa.

__ADS_1


"Mas Arga, lepaskan!" Risa menghentikan langkahnya kemudian menghempaskan tangan Arga dengan kasar.


"Oh, bagus, ya! Jadi begini caramu membalasku? Masalahku saja belum selesai dan sekarang kamu ingin menghadirkan masalah baru di rumah tangga kita, iya?" geram Arga dengan setengah berteriak kepada Risa hingga membuat Lily yang berada di pelukannya menangis karena ketakutan.


"Apanya yang belum selesai, Mas? Bukankah kalian sudah memutuskan tanggal pernikahan kalian? Jadi, apa yang harus kamu khawatirkan? Setelah ini kalian bisa melakukan hubungan itu tanpa harus bersembunyi-sembunyi lagi dariku!"


"Hushh! Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa," lanjut Risa mencoba menenangkan bayi Lily yang tengah menangis ketakutan di dalam pelukannya.


Beruntung Bi Surti mendengar pertengkaran kedua majikannya itu. Ia segera menghampiri Risa dan meraih Lily dari pelukannya.


"Biar Lily sama saya saja, Non Risa," tawar Bi Surti.


"Terima kasih, Bi."


Sepeninggal Bi Surti, Arga kembali melampiaskan kemarahannya. Ia meraih tangan Risa dengan kasar lalu mencengkramnya dengan erat. Risa tampak meringis kesakitan dan itu lah tujuan utama Arga.


"Lepaskan tanganku, Mas! Sakit," geram Risa.


"Aku jadi curiga padamu, Risa. Jangan-jangan kamu dan Ayden balikan lagi tanpa sepengetahuanku. Sejak kapan kalian mulai berhubungan lagi? Aku jadi kepikiran, jangan-jangan Lily itu anaknya Ayden," ucap Arga tiba-tiba yang berhasil membuat air mata Risa meluncur tanpa bisa ia tahan.


"Ya ampun, Mas Arga! Kamu sungguh keterlaluan!" Risa benar-benar geram.


"Sudah jelas-jelas Mas Arga lah yang selama ini berselingkuh bersama Mona. Melakukan hubungan terlarang itu di dalam kamarnya hingga Mona hamil. Dan sekarang, bisa-bisanya Mas malah menuduhku berselingkuh bersama mas Ayden dan mengatakan bahwa Lily adalah anak hasil perselingkuhan kami!" lanjut Risa sambil terisak.

__ADS_1


Arga tersenyum sinis sembari melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Hanya kamu dan Ayden yang tahu, Risa?"


"Dengar ya, Mas Arga! Kamu bisa hina aku semaumu! Tapi aku tidak bisa menerima semua tuduhan sadismu ini! Apalagi sampai kamu meragukan Lily sebagai darah dagingmu!"


Arga berdiri sambil bertolak pinggang di hadapan Risa. "Lalu apa yang ingin kamu lakukan, Risa? Minta cerai?"


"Ya! Aku ingin Mas segera menceraikan aku!" tegas Risa. P


Mata Arga seketika membulat sempurna setelah mendengar penuturan dari istrinya itu. Ia sangat-sangat marah dan hampir tidak bisa menahan emosinya.


"Baiklah, aku akan menceraikanmu dengan satu syarat, Risa. Kamu keluar dari rumah ini tanpa membawa apa pun. Hanya kamu dengan satu pakaian di badan!" Arga menyeringai. Ia yakin bahwa dengan mengancam Risa seperti itu, Risa akan berpikir ulang untuk meminta cerai kepadanya.


"Heh, kamu pikir aku bodoh, Risa? Kamu pasti akan berpikir ribuan kali meminta cerai dariku. Memangnya apa yang bisa kamu lakukan di luar sana tanpa diriku? Bukankah selama ini kamu selalu menggantungkan diri kepadaku?" gumam Arga dalam hati. Menatap Risa dengan tatapan meremehkan.


"Tidak masalah! Lagi pula aku tidak peduli dengan semua hartamu, Mas Arga. Selama Lily masih bersamaku," jawab Risa dengan mantap.


Seketika raut wajah Arga berubah. Wajahnya kembali memerah dan kemarahan lelaki itu sudah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan laharnya.


"Jawabanmu ini membuat aku semakin yakin bahwa kamu benar-benar menjalin hubungan dengan Ayden. Jadi sangat pantas jika kamu tidak takut untuk berpisah dariku, ternyata kamu sudah memiliki tambatan lain rupanya," geram Arga.


"Terserah apa katamu, Mas!" balas Risa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2