
"Kamu mau pesan apa, Ren?" tanya Ayden kepada Renatta. Gadis cantik yang sejak tadi terus menerus menatapnya tanpa berkedip sedikit pun. Bahkan buku menu yang diserahkan oleh waitress di kafe tersebut sama sekali tidak ia sentuh.
"Aku pesan, apa yang Mas Ayden pesan," jawab Renatta sambil tersenyum manja.
"Baiklah. Aku pesan yang tadi ya, Mbak. Dua porsi, satu untukku dan satu untuknya," ucap Ayden sembari menyerahkan kembali buku menu tersebut kepada sang waitress.
"Ok, Mas. Silakan tunggu sebentar," jawabnya sembari pergi meninggalkan meja yang ditempati oleh Ayden dan Renatta.
"Mas Ayden," panggil Renatta.
"Ya?"
"Kapan Mas akan datang melamarku? Ayah dan ibu pun sudah sering mempertanyakan hal itu kepadaku sampai-sampai aku bingung bagaimana menjawabnya."
"Ren ... bukankah selama ini aku sudah sering mengatakan kepadamu bahwa aku masih belum siap untuk menikah. Aku masih ingin menikmati masa-masa lajangku, sebelum aku memutuskan untuk memiliki pasangan," lirih Ayden sambil menatap wajah cantik Renatta dengan lekat.
Renatta menundukkan kepalanya menghadap lantai. Raut wajahnya berubah menjadi sedih. Ayden meraih tangan Renatta kemudian menggenggamnya dengan erat. "Lagi pula selama ini aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik, Ren. Tidak lebih! Jadi kumohon mengertilah," lanjut Ayden.
Renatta mengangkat kepalanya kemudian mencoba tersenyum kepada Ayden. "Sebenarnya itu tidak masalah, Mas. Kata ayah dan ibuku, cinta itu bisa datang belakangan. Kita bisa menikah terlebih dahulu dan aku berjanji, akan membuatmu jatuh cinta padaku," sahut Renatta dengan begitu yakin.
Ayden mendengus kesal dan tepat di saat itu seorang waitress datang lagi menghampiri meja mereka dengan membawa makanan serta minuman yang tadi dipesan oleh Ayden. Wanita itu menata makanan serta minuman tersebut ke atas meja dengan begitu rapi.
"Sebaiknya kita makan dulu, Ren. Aku sudah lapar," ucap Ayden, mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
"Baiklah, aku juga sudah lapar," jawab Renatta dengan begitu antusias meraih makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh Ayden tersebut.
Ayden yang memang sudah merasa lapar, tanpa sungkan-sungkan menikmati makanan itu dengan begitu lahap. Apalagi setelah ini ia akan melanjutkan perjalanan menuju kediaman Oma Hana dan pastinya membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa sampai ke sana.
Tanpa Ayden sadari, ada sedikit saos yang menempel di sudut bibirnya. Renatta yang sejak tadi terus mencuri pandang kepada lelaki itu, segera meraih tissue dan berniat menyeka noda saos itu dari sudut bibir Ayden.
"Mas, ada noda saos di bibirmu," ucap Renatta sembari menghampiri Ayden.
Namun, belum sempat Renatta menyentuh bibirnya, Ayden sudah menangkap tangan gadis itu kemudian meraih tisu tersebut dari tangannya.
"Biar aku saja."
__ADS_1
Renatta tampak kecewa karena tidak bisa mendapatkan sedikit perhatian dari lelaki pujaannya itu. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan kembali duduk di kursinya semula.
"Terima kasih," ucap Ayden sambil tersenyum tipis.
"Sama-sama."
Beberapa menit kemudian.
Akhirnya makanan dan minuman yang tersaji di atas meja tersebut ludes.
"Sebaiknya aku antar kamu sekarang, Ren. Soalnya aku mau berangkat sekarang juga," ucap Ayden sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Tunggu sebentar, Mas."
Renatta meraih ponsel dari dalam tas bermerek miliknya kemudian menekan salah satu nomor kontak yang tersimpan di memori benda pipih tersebut. Ia meletakkan benda itu ke samping telinganya kemudian bicara dengan seseorang di seberang sana.
"Hallo, Sayang. Ada apa?"
"Hallo, Yah. Ehm, begini ... Mas Ayden ingin mengajakku berkunjung ke kediaman Oma Hana di kota A. Kemungkinan aku akan menginap di sana bersama Mas Ayden. Bagaimana, Yah? Apa Ayah mengizinkan kami?"
Mata Ayden membulat sempurna setelah mendengar ocehan Renatta tersebut kepada ayahnya, Pak Guntur Gunawan.
Renatta malah terkekeh melihat aksi protes lelaki tampan itu. Bukannya takut, ia malah semakin tertantang menaklukkan hati sang pujaan.
"Ini, Ayah ingin bicara kepadamu, Mas." Renatta menyerahkan ponsel kesayangannya kepada Ayden dan segera disambut oleh lelaki itu.
"Ya, Om?"
"Aku izinkan Rena ikut denganmu, tapi tolong jaga dia baik-baik, ya. Dan satu lagi, jangan apa-apain anak gadis Om sebelum kalian resmi menjadi suami istri," ucap Pak Guntur dari seberang telepon.
"Tapi, Om. Sebenarnya saya tidakโ" Belum sempat Ayden mengatakan yang sebenarnya kepada Pak Guntur, Renatta sudah merebut ponsel tersebut dari tangannya.
"Ya, Ayah. Kami janji tidak akan ngapa-ngapain sebelum janur kuning melengkung di depan rumah kita. Benar 'kan, Mas Ayden?"
Ayden mendengus kesal dan memasang wajah masam. Sementara Renatta tampak senang dan begitu bahagia karena berhasil mengerjai Ayden.
__ADS_1
"Yuk, Mas. Kita berangkat sekarang," ucap Renatta sembari merapikan tasnya.
"Kamu benar-benar menyebalkan, Ren!" umpat Ayden sembari melenggang pergi. Ayden menghampiri meja kasir kemudian membayar makanan serta minuman yang sudah ia pesan tadi.
Setelah selesai membayar, Ayden melanjutkan langkahnya menuju tempat parkir dan disusul oleh Renatta dari belakang.
"Mas Ayden, tunggu!" ucapnya sambil berlari kecil menyusul Ayden.
Namun, Ayden tidak peduli dan terus melangkah maju dan tak menoleh sedikit pun. Hingga sesuatu pun terjadi.
Gdubrakk!
Renatta tak sengaja menginjak bebatuan dan membuat gadis itu oleng karena tidak bisa menyeimbangkan high heels yang ia kenakan. Akhirnya ia tersungkur ke tanah dengan lutut lecet dan berdarah.
"Aww, sakitt!" rintih Renatta sambil memegangi lututnya yang lecet.
"Rena?" Ayden tersentak kaget kemudian menghampiri gadis itu.
"Kamu kenapa, Ren? Sini, biar aku bantu," ucap Ayden sembari meraih tangan Renatta dan membantunya berdiri.
"Kakiku sakit, Mas. Tuh 'kan, lututku yang cantik jadi lecet! Ini gara-gara Mas," celetuk Renatta sambil meringis kesakitan.
Ayden terkekeh pelan. "Kamu yang jatuh sendiri, malah orang lain yang disalahkan."
"Seandainya Mas Ayden jalannya tidak cepat-cepat, aku pasti tidak akan terjatuh, Mas!" kesal Renatta.
"Lah, trus kamu maunya gimana? Apa perlu aku antar saja ke rumahmu biar kamu bisa merengek dan mengadu sama ibumu?" goda Ayden sambil tertawa pelan.
Renatta menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Eh, jangan, Mas! Aku tidak mau, aku maunya ikut Mas Ayden ke kediaman Oma Hana. Titik!" tegasnya dengan begitu mantap.
"Ya, sudah! Berhentilah merengek karena kamu bukan anak kecil lagi," sahut Ayden, masih tertawa pelan, menertawakan sikap kekanak-kanakan Renatta.
"Baiklah, aku akan berhenti merengek. Tapi janji, Mas Ayden tidak akan mengembalikan aku ke rumah, ya!" lirih Renatta.
"Ah, terserah."
__ADS_1
Setelah membantu Renatta masuk ke dalam mobilnya, Ayden pun segera melajukan benda itu menembus jalan raya, menuju kota A. Di mana Rachel dan Oma Hana sudah menunggu kedatangannya.
...***...