
Arga rela menemani Mona hingga seharian penuh demi melihat reaksi obat penggugur janin itu. Hingga akhirnya Mona pun mulai merasakan mulas di perutnya. Ia memegang perutnya sambil meringis kesakitan.
"Aw, perutku!"
Melihat kondisi Mona saat itu, Arga malah tersenyum lebar. Ia tampak begitu senang karena obat itu akhirnya bereaksi juga di tubuh Mona.
"Apa kamu merasakan sesuatu keluar dari area pribadimu?" tanya Arga dengan wajah berseri-seri menatap Mona yang masih meringis.
"Sakit, Mas! Perutku sakit sekali!" sahut Mona dengan wajah memucat.
Arga melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Setelah dipikir dengan matang, akhirnya Arga memutuskan untuk kembali ke kediamannya.
"Sebaiknya kita kembali saja. Ini sudah saatnya para pekerja pulang. Jika aku tidak kembali, Risa bisa semakin curiga. Selain itu kamu juga butuh istirahat. Kalau ada berita baik, jangan lupa chat aku," ucap Arga kemudian.
"Tapi, Mas! Sepertinya aku harus ke dokter. Aku tidak tahan dengan rasa sakit ini, kumohon padamu, Mas!" lirih Mona. Memohon kepada Arga agar bersedia membawanya ke dokter.
"Tidak-tidak! Jika kita ke dokter, dokter pasti tau apa yang sudah kita lakukan. Percaya lah kepadaku bahwa kamu akan baik-baik saja. Setelah bayi itu keluar, kamu pasti akan kembali sehat sama seperti sebelumnya," jelas Arga, mencoba meyakinkan Mona.
"Be-benarkah itu, Mas! Akhh," tanya Mona yang kembali memekik kesakitan.
"Ya. Itu benar!"
Setelah Mona yakin dengan ucapannya, Arga pun segera melajukan mobil tersebut menuju kediamannya. Ia tampak begitu bahagia karena pengorbanannya mengeluarkan uang banyak tidak sia-sia.
Sementara Mona masih memeluk perutnya dengan wajah yang semakin pucat saja. Ia merasakan sakit yang amat sangat di bagian perutnya. Rasanya seperti ditusuk-tusuk dengan pisau tajam hingga berkali-kali.
Tak terasa, benda beroda empat yang dipacu oleh Arga tiba di depan komplek perumahan. Ia menghentikan mobil tersebut di sana kemudian melirik Mona yang duduk di sampingnya dengan kondisi lemah.
"Apa kamu bisa jalan sendiri?"
__ADS_1
Mona menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa, Mas! Perutku sakit, sangat-sangat sakit!" lirih Mona.
Arga menghembuskan napas panjang. "Halahh, dasar manja! Hanya sakit perut saja, manjanya sudah seperti itu. Bagaimana nanti jika kamu melahirkan?" gerutu Arga sambil melanjutkan perjalanannya.
Mona tidak bisa berkata apa-apa. Rasa sakit yang ia rasakan saat itu membuat mulutnya bungkam. Ia tak punya kekuatan untuk berdebat dengan lelaki tak berperasaan itu.
Beberapa menit kemudian.
Arga menghentikan mobil tersebut di depan kediamanmya. Setelah memarkirkan mobil ke tempat biasa, ia pun segera keluar tanpa mempedulikan Mona.
Mona segera menyusul, tetapi ia tidak sanggup melangkahkan kakinya sendiri. Kekuatan Mona seolah habis diserap oleh rasa sakit tersebut. Ia bersandar di pintu mobil milik Arga sambil memperhatikan Arga yang kini sudah berjalan meninggalkan dirinya.
"Mas, bantu aku! Kumohon," panggil Mona sambil memelas.
Arga menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Mona yang berdiri di samping mobil. "Jalan aja, kenapa sih? Dasar manja!
"Demi Tuhan, Mas! Aku tidak bisa melangkah lagi," jawab Mona.
Arga meraih tangan Mona kemudian menariknya. Namun, Mona segera menepis tangan Arga dan meminta lelaki itu untuk memapahnya menuju kamar.
"Aku tidak sanggup kalau harus melangkah dengan kakiku sendiri, Mas. Mas paham tidak, sih? Perutku sakit," kesal Mona.
Hhhh! Lagi-lagi Arga membuang napas kasar. "Ya, sudah sini!"
Arga memapah tubuh Mona hingga memasuki kediamannya. Ia ingin mengantarkan gadis itu menuju kamar. Namun, langkah mereka terhenti tatkala melewati ruang depan.
"Dari mana saja kalian?" tanya Risa yang ternyata sudah menunggu kedatangan mereka di ruangan tersebut. Sementara Lily masih ia titipkan kepada Bi Surti lagi.
"Risa? Ngapain kamu di sini? Dan di mana Lily?" tanya Arga tampak berbasa-basi.
__ADS_1
"Aku menunggu kedatangan kalian karena ada hal penting yang harus kita bicarakan!" tegas Risa sambil memperhatikan Arga yang masih memapah tubuh Mona.
"Bicara masalah apa?" Arga mulai curiga.
Risa tersenyum sinis. "Dari mana saja kamu, Mona? Katanya jalan sama teman, kok bisa baliknya bersama Mas Arga? Jangan-jangan temanmu itu Mas Arga, iya?" tanya Risa balik.
Mona mengangkat kepalanya dan menatap Risa dengan wajah memucat. "A-aku tidak sengaja bertemu dengan Mas Arga, Mbak. Jadi sekalian saja aku numpang bersama Mas Arga. Benar 'kan, Mas?" sahut Mona dengan terbata-bata.
Ia melirik Arga dan meminta pembelaan dari lelaki itu. "Ya, kami tidak sengaja bertemu di jalan dan dia ikut pulang bersamaku. Apa itu salah? Lagi pula apa kamu tidak lihat, adikmu ini sedang kesakitan, Risa!"
Lagi-lagi Risa tersenyum sinis. "Sakit atau ia memang sengaja mencari penyakit untuk dirinya sendiri?" ketus Risa.
"Kamu apa-apa sih, Risa!" Arga mulai kesal.
"Bisa jelaskan padaku obat apa ini?"
Risa meraih vitamin-vitamin yang diberikan oleh dokter kepada Mona dari dalam saku kemudian melemparnya ke atas meja. Hal itu tentu saja membuat Mona terkejut setengah mati. Ia tidak menyangka ternyata Risa berhasil menemukan vitamin-vitamin itu.
"Sialan! Kenapa tidak aku buang saja sebelumnya?" gumam Mona dalam hati.
"Memangnya obat apa itu?" tanya Arga dengan alis yang saling berkerut.
"Tanyakan saja pada Mona karena hanya Mona yang bisa menjelaskan obat apa ini."
Sontak Arga menoleh ke arah Mona yang tampak ketakutan.
"Bisa kamu jelaskan obat apa itu, Mona?" tanya Arga.
"Ehm, itu ...."
__ADS_1
...***...