
Ayden membawa Risa ke teras depan rumah kemudian mendudukkannya di sebuah kursi santai yang ada di tempat itu.
"Duduklah."
"Hanya sebentar 'kan, Mas?" Risa mencoba meyakinkan.
"Ya, hanya sebentar saja. Aku janji," jawab Ayden.
Setelah Risa duduk di kursi tersebut, Ayden pun segera menyusul dan duduk di samping wanita itu.
"Sekarang apa, Mas?" tanya Risa yang sudah tidak sabar ingin mengetahui topik pembicaraan Ayden kali ini.
Ayden tersenyum. "Ehm, sebenarnya ...."
Risa masih menatap lekat Ayden dan menunggu lelaki itu melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya ingin bertanya kepadamu soal rencanamu setelah ini. Tidak mungkin 'kan kamu akan tetap seperti ini selamanya?" lanjut Ayden yang kini membalas tatapan Risa dengan begitu serius.
"Seperti ini, bagaimana, Mas? Risa tampak bingung.
"Apa kamu tidak ingin merencanakan sesuatu untuk masa depanmu nanti? Ehm, maksudku begini. Apa kamu tidak ingin berencana membangun rumah tangga baru dengan seseorang yang mungkin bersedia menerima kamu dan Lily dengan hati terbuka lebar?" tanya Ayden dengan begitu antusias.
"Hah?" Risa tersentak kaget mendengar pertanyaan Ayden barusan. "Ya ampun, Mas!" lanjutnya sambil terkekeh.
"Apa ini tidak terlalu pagi untuk membahas soal itu? Sementara perceraian aku dan Mas Arga saja belum selesai. Aku harus mengumpulkan banyak uang untuk mengurus surat-surat perceraian kami. Kalau Mas Arga .... Entahlah, aku bahkan tidak yakin ia bersedia mengeluarkan sejumlah uang untuk mengurus surat-surat itu," jawab Risa.
__ADS_1
Ayden tersenyum kecut. "Tapi serius, Ris. Ada seorang laki-laki yang ingin sekali mendekatimu. Yang bersedia menggantikan posisi Mas Arga untuk menjadi suami serta ayah untuk si kecil Lily."
Raut wajah Risa mendadak sendu. "Tapi untuk saat ini aku ingin fokus membesarkan Lily dulu, Mas. Dan bukan hanya itu, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, masih ada rasa trauma untuk kembali berumah tangga. Aku takut! Aku takut kejadian ini terulang lagi," lirihnya.
Perlahan Ayden meraih tangan Risa kemudian menatap wanita dengan lekat. "Bagaimana jika lelaki itu aku, Ris? Apa kamu juga merasa takut untuk berumah tangga bersamaku?"
Risa kembali tersentak kaget. Ia bahkan refleks menarik tangannya dari genggaman Ayden.
"A-aku ...." Risa tampak canggung.
"Demi Tuhan! Aku serius, Ris. Aku ingin sekali menjadi bagian darimu dan juga si kecil Lily. Aku ingin nenjadi suami sekaligus Ayah untuk Lily," tutur Ayden dengan begitu serius.
"Apa?!" pekik Renatta yang tiba di tempat itu. Walaupun posisinya tidak terlalu dekat, tetapi ucapan Ayden barusan terdengar begitu jelas di telinganya.
Rachel mengangkat kedua alisnya sambil tersenyum tipis. Tatapan Rachel saat itu masih tertuju pada Ayden dan Risa yang masih asik berbincang dengan begitu serius.
"Hah, jadi itu benar?" Renatta masih tidak habis pikir. "Apa wanita yang kamu maksud itu dia? Di pelayan itu?"
"Ya, seperti yang kamu dengar dan kamu lihat dengan mata dan kepalamu sendiri," jawab Rachel dengan mantap.
"Ah! Mas Ayden harus menjelaskan ini semua kepadaku!" geram Renatta sembari ingin menghampiri Ayden dan Risa.
Namun, belum sempat Renatta mengganggu momen kebersamaan Risa dan Ayden, Rachel sudah menahan tubuh gadis itu dan menariknya dengan kuat agar kembali ke kamarnya.
"Eits, mau ke mana kamu? Jangan coba-coba mengganggu mereka. Sebaiknya kita kembali ke kamar!" titah Rachel.
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak mau! Aku butuh penjelasan dari Mas Ayden!" tolak Renatta.
Tarik menarik pun terjadi dan ternyata kekuatan gadis manja itu tidak sepadan dengan kekuatan Rachel yang memiliki sedikit sifat tomboi tersebut.
"Lepaskan aku, Rachel! Biarkan aku menemui Mas Ayden! Dia harus menjelaskan semua semuanya kepadaku," ucap Renatta.
"Tidak perlu! Lagi pula semuanya 'kan sudah jelas," jawab Rachel, acuh tak acuh.
"Akh! Lepaskan! Kamu sangat-sangat menyebalkan," umpat Renatta.
Rachel menarik tubuh Renatta yang terus mencoba berontak dengan sekuat tenaga hingga ia pun berhasil membawanya kembali ke kamar.
Kembali ke Risa dan Ayden.
"Mas, jangan membuat aku berkhayal jauh lebih tinggi. Jangan buat perasaan yang sudah susah payah aku kubur dalam-dalam, kini harus kembali menyeruak. Aku sadar bagaimana keadaanku sekarang. Ok, aku tidak akan berpikir dua kali jika seandainya aku masih single, sama seperti dulu. Tanpa ragu aku akan menjawab 'Ya' semua tawaranmu itu. Tapi sekarang sudah berbeda, Mas. Statusku janda miskin dengan satu anak. Aku yakin, Mommy-nya Mas tidak akan pernah menerimaku. Terlebih jika beliau ingat bagaimana penolakan ayah terhadapmu, Mas," lirih Risa dengan kepala tertunduk.
"Tapi aku sangat serius, Ris. Aku akan membicarakan masalah ini kepada mommy dan aku yakin, mommy pasti akan menerima bagaimana pun keadaanmu sekarang," jawab Ayden dengan begitu yakin.
Risa menghembuskan napas berat kemudian bangkit dari posisi duduknya. "Beri aku waktu untuk memikirkannya, Mas."
"Tapi, Ris ...." Belum selesai Ayden bicara, Risa sudah melenggang masuk dan pergi meninggalkannya.
Ayden hanya bisa pasrah dan menatap sendu ke arah daun pintu utama. "Aku tidak akan menyerah begitu saja, Ris. Aku sudah kehilanganmu satu kali dan aku tidak ingin kehilanganmu untuk ke-dua kalinya."
...***...
__ADS_1