Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Pernikahan Arga dan Mona


__ADS_3

Risa kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah orang yang memesan barang dagangannya. Hanya berjarak seratus meter dari posisinya, Risa akhirnya berhasil menemukan kediaman orang itu. Sebuah


Risa segera menyerahkan barang pesanan orang itu dengan wajah semringah. Begitu pula orang tersebut, ia tampak senang karena Risa mengantarkan pesanannya tepat waktu.


"Terima kasih ya, Mbak. Ini uangnya dan ambil saja kembaliannya untuk si kecil." Wanita itu menyerahkan selembar uang kertas berwarna merah ke hadapan Risa dan segera disambut olehnya.


"Wah, saya yang harusnya berterima kasih banyak. Semoga Mbaknya puas dan jangan jera ya, Mbak."


"Tentu saja, Mbak. Saya sudah lama berlangganan sama Mbak Khalisa. Semua produk yang ia jual pasti memuaskan," jawab wanita itu.


Setelah menyerahkan barang pesanan itu, Risa pun segera pamit dan kembali berjalan menuju kediamannya.


Di perjalanan, masih di kawasan perumahan.


Risa berhenti sejenak ketika melewati sebuah rumah seorang warga yang berukuran lebih besar dari rumah-rumah di sampingnya. Halamannya cukup luas dan ada beberapa buah mobil yang terparkir di sana.


Tanpa Risa sadari, mobil milik Ayden juga terparkir di halaman rumah tersebut. Namun, bukan deretan mobil mewah itu yang membuat perhatian Risa teralihkan. Melainkan sebuah selebaran yang terpampang di depan pagar rumah itu.


Di selebaran itu tertulis dengan jelas bahwa pemilik rumah membutuhkan seseorang yang bisa membantu aktivitas sehari-harinya karena sang pemilik rumah sudah berusia lanjut. Dan yang membuat Risa tertarik adalah gaji dan fasilitas yang akan diberikan oleh sang pemilik rumah.


"Apa lowongan ini berlaku untukku, ya?" gumam Risa.

__ADS_1


"Kenapa, Mbak? Berminat?" Tiba-tiba terdengar suara seorang lelaki yang ternyata adalah salah satu pekerja di rumah itu.


"Ehm, sebenarnya saya sangat berminat, Mas. Tapi sepertinya tidak mungkin karena saya punya bayi. Pemilik rumah ini tidak mungkin mengizinkannya," sahut Risa sambil tersenyum kecut.


"Ehm, belum tentu juga, Mbak. Kalau Mbak berminat, sebaiknya temui langsung majikan saya dan Mbak tidak usah khawatir, Oma Hana itu orangnya baik," ucap lelaki itu.


Risa tampak menimbang-nimbang. Ia masih ragu ingin mengajukan diri menjadi pelayan pribadi wanita yang disebut Oma Hana tersebut. Namun, gaji yang dijanjikan di selebaran tersebut benar-benar menggoda Risa untuk mencobanya.


"Ehm, entahlah Mas. Saya masih ragu," jawab Risa.


"Ya, sudah. Pikirkan saja dulu, Mbak. Tapi kalau bisa jangan lama-lama. Secara, yang ingin melamar pekerjaan itu pasti banyak," tutur lelaki itu.


Risa mengangguk pelan. "Kalau memang rejeki saya pasti tidak akan ke mana, Mas."


Sementara itu.


Arga duduk di depan Pak Penghulu dan beberapa orang laki-laki yang akan menjadi saksi di pernikahannya dengan wajah yang begitu tegang. Selain itu ada beberapa kerabat dekat dari keluarga Pak Abdi dan Bu Lidia serta beberapa kerabat dari Arga.


"Nak, wajahnya jangan tegang begitu. Coba tarik napas panjang kemudian hembuskan dengan perlahan," goda Pak Penghulu kepada Arga dan diiringi tawa para kerabatnya.


"Iya, Ga! Apa yang dikatakan oleh Pak Penghulu itu benar. Jangan tegang! Mentang-mentang dapat gadis, Arga jadi kaku begitu," celetuk salah satu kerabat Arga.

__ADS_1


Arga hanya bisa tersenyum kecil, tanpa berkeinginan menimpali ucapan lelaki itu. Dan tepat di saat itu, Mona tiba bersama Bu Lidia yang berjalan sambil menuntunnya.


Mona terlihat begitu cantik dengan kebaya pengantin berwarna putih serta bawahan batik berwarna hitam keemasan. Kebaya kutu baru modern yang dipenuhi oleh berbagai manik-manik itu terbentuk sempurna di tubuh seksinya hingga membuat semua mata terpana melihatnya.


"Calon istrimu cantik sekali, Arga. Pantas saja kamu rela melepaskan Risa karena gadis ini jauh lebih sempurna dan hmmm, seksi!" celetuk sahabat Arga sambil menjilati bibirnya sendiri dan menatap Mona seolah gadis itu adalah makanan lezat yang siap disantap.


Arga memutarkan bola matanya dengan malas menanggapi pernyataan sahabatnya itu. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Mona memang benar-benar cantik. Dada montoknya begitu menonjol. Begitu pula bagian bokong padat gadis itu, terlihat begitu sempurna dan membuat mata lelaki mana pun tak tahan untuk tidak melihatnya.


Sebelum duduk di samping Arga, Mona sempat melemparkan senyuman manisnya kepada Arga. Namun, Arga masih enggan membalasnya. Ia malah berpaling dan sekarang kembali menatap Pak Penghulu.


"Nah, karena mempelai wanitanya sudah tiba, sebaiknya acara kita mulai saja. Bagaimana?" tanya Pak Penghulu.


Semua orang tampak menganggukkan kepala tanda setuju dan acara pun segera dimulai. Setelah melewati berbagai acara pembukaan dan sebagainya, kini tiba saatnya Arga untuk mengesahkan Mona menjadi istri ke-duanya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Monalisa binti Abdi Kusuma dengan mas kawin yang disebutkan, dibayar tunai!" ucap Arga dengan begitu lancar tanpa kendala apa pun.


Pak Penghulu tersenyum lebar. "Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!" Terdengar jawaban dari para laki-laki yang menjadi saksi di pernikahan mereka.


Mona terlihat begitu bahagia dan bersemangat karena akhirnya Arga sah menjadi suaminya. Ia begitu antusias meraih tangan Arga dan melabuhkan ciuman di punggung tangan lelaki itu. Namun, berbeda dengan Arga. Lelaki itu tampak malas saat ia harus melabuhkan ciuman hangatnya di kening Mona.

__ADS_1


Selesai acara ijab kabul, kini saatnya sesi pemotretan. Semua orang tampak semringah di belakang kamera sang fotografer, tetapi tidak dengan Arga. Lelaki itu bahkan malas untuk menyunggingkan senyumnya.


...***...


__ADS_2