Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Penolakan Mommy


__ADS_3

"Risa?" Raut wajah Mommy tiba-tiba berubah dan wanita paruh baya itu tampak tidak senang mendengar Ayden menyebut kembali nama Risa di hadapannya.


"Ya, Mom. Risa," jawab Ayden tanpa gentar sedikit pun.


Mommy menghembuskan napas berat. "Kenapa kamu masih saja menyebutkan nama wanita itu, Ayden? Dia sudah menikah dengan lelaki berduit, jadi biarkan saja dia! Mending kita membahas soal pertunanganmu bersama Renatta," tutur Mommy dengan wajah menekuk.


"Aku sudah bicara kepada pak Guntur dan memutuskan perjodohanku dengan Renatta," jawab Ayden.


"Apa? Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Merebut kembali kekasih masa lalumu itu dari suaminya, begitu? Bagus," geram Mommy sambil membuang muka.


"Tidak perlu, Mom. Karena Risa memang sudah bercerai dengan suaminya."


"Hooo ... bagus, Ayden! Bagus sekali! Demi janda beranak satu itu kamu rela melepaskan Renatta, yang jelas-jelas masih gadis dan jauh lebih muda."


"Maafkan aku, Mommy. Tapi ini bukan soal gadis atau janda dan juga bukan soal usia mereka yang jauh berbeda. Ini soal hati dan jujur, aku tidak bisa move on dari Risa walaupun aku sudah susah payah mencobanya," jawab Ayden.


"Mommy tidak setuju, Ayden. Mommy lebih memilih kamu menikahi wanita lain dari pada harus menikah dengannya, si janda beranak satu. Sebenarnya bukan masalah statusnya yang sudah janda, tetapi Mommy masih ingat saat-saat dia meninggalkanmu untuk lelaki lain. Yang kata Pak Abdi jauh lebih mapan dan memiliki masa depan yang jelas. Tidak seperti kamu, pengangguran dan hidup luntang-lantung. Lalu kenapa sekarang ia memilih bercerai? Bukannya ia hidup enak bersama lelaki mapan itu?" gerutu Mommy.


Ayden menghela napas panjang. "Tapi saat itu Risa terpaksa, Mom. Risa pun tidak menginginkan pernikahan itu. Semua itu ia lakukan hanya karena permintaan Pak Abdi," jelas Ayden.


"Halah, alasan! Pokoknya sekali tidak, tetap tidak! Mommy tidak setuju!" tegas wanita itu.


Ayden mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku, Mom. Tapi kali ini aku harus mendengarkan apa kata hatiku. Dan aku memilih memperjuangkan Risa kembali," ucap Ayden.


Mata Bu Tiya membulat sempurna. Ia tidak menyangka bahwa anak lelakinya itu akan bertindak nekat dan lebih memilih mempertahankan Risa dari pada mendengarkan ucapannya.


"Tidak bisa, Ayden! Mommy tidak setuju! Mommy tidak akan pernah memberikan restu untuk kalian, tidak akan pernah!"


Ayden bangkit dari posisinya. "Maafkan aku, Bu."

__ADS_1


Lelaki itu segera melangkah pergi kemudian kembali ke kamarnya.


"Ay! Ayden! Mommy belum selesai bicara! Ayden," panggilnya. Namun, Ayden tidak peduli ia terus melangkah hingga menghilang dari pandangannya sang mommy.


Ayden masuk ke dalam kamar kemudian menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur berukuran king size tersebut dengan posisi menghadap langit-langit.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus terus maju walaupun tanpa dukungan dari mommy?" Ayden membuang napas kasar kemudian memejamkan matanya untuk sejenak.


Selang beberapa menit kemudian, ponsel milik Ayden berdering. Getarnya begitu terasa hingga berhasil membuyarkan lamunan lelaki itu. Ayden segera meraih benda pipih tersebut dari dalam saku celananya kemudian menerima panggilan dari adik sepupunya tersebut.


"Ya, Chel?"


"Bang Ay, gimana Renatta?" tanya Rachel yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"Aku mengantarkannya hingga ke kediamannya. Aku bertemu Pak Guntur dan membicarakan semuanya. Beruntung Pak Guntur bisa menerima keputusanku dengan lapang dada, Chel. Hanya saja—" Belum habis Ayden berucap, Rachel sudah memotong pembicaraannya.


"Hah? Serius, Bang Ay? Abang sudah menolak perjodohan itu?" pekik Rachel dengan mata membulat sempurna.


"Dan Pak Guntur menerima keputusan itu dengan lapang dada? Oh, syukurlah. Terus bagaimana selanjutnya?"


"Aku berniat melamar Risa, Chel. Tapi Mommy menolak dengan tegas. Tanpa aku jelaskan pun, kamu pasti sudah tahu apa alasan mommy menolak keinginanku itu," lirih Ayden sambil membuang napas berat.


Rachel tampak sedih. "Ya, aku mengerti, Bang. Lalu, apa yang akan Abang lakukan? Apa Abang akan menyerah begitu saja dan membiarkan Risa pergi untuk yang ke-dua kalinya?"


"Tidak akan, Chel. Aku masih ingin memperjuangkannya. Kecuali Risa memang sudah tidak menginginkan kehadiraanku lagi," jawabnya dengan tegas.


"Aku yakin Risa pun masih memiliki perasaan kepadamu, Bang! Berjuanglah," lanjut Rachel, mencoba memberi semangat kepada Ayden.


"Terima kasih, Chel. Ya sudah, aku ingin istirahat dulu."

__ADS_1


"Ya, Bang. Selamat beristirahat."


Rachel menutup panggilan itu sambil menghembuskan napas berat.


"Kenapa, Chel?" tanya Oma Hana yang sejak tadi memperhatikan ekspresi wajah sedih Rachel.


"Begini, Oma ...."


Rachel menceritakan semua tentang Ayden kepada Oma. Oma sempat tersentak kaget setelah tahu bahwa Risa adalah wanita masa lalu Ayden.


"Ya, Tuhan! Trus bagaimana, Chel?"


"Bang Ay masih ingin memperjuangkan Risa, Oma."


"Ya! Itu harus! Oma dukung Ayden seratus persen!" ucap Oma dengan begitu semangat.


"Tapi masalahnya Tante Tiya tidak bisa menerima status Risa saat ini. Selain itu Tante Risa juga merasa sedikit trauma atas penolakan yang pernah dilakukan oleh orang tuanya Risa," jelas Rachel.


"Soal itu tidak usah khawatir. Oma akan bantu bicara sama mommy-nya Ayden. Dan untuk Ayden, sebaiknya selesaikan dulu masalah Risa. Risa kan belum ketuk palu sama suaminya dulu," ucap Oma sekali lagi.


"Benarkah itu, Oma? Oma serius mau bantu bicara sama Tante Tiya?"


"Ya, dan Tiya pasti akan menuruti apa yang Oma katakan," lanjut Oma dengan begitu percaya diri.


"Ah, syukurlah! Terima kasih, Oma!"


Rachel memeluk tubuh Oma Hana dengan begitu erat.


"Heh, kenapa malah kamu yang senang? Pernikahan kamu saja belum jelas kapan dilaksanakan, kamu sudah pening mikirin hubungan orang," celetuk Oma sambil melerai pelukannya bersama Rachel.

__ADS_1


"Tapi bang Ay itu bukan orang, Oma. Bagiku dia sudah seperti kakakku sendiri," jawab Rachel sambil tersenyum lebar.


...***...


__ADS_2