Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Kedatangan Mona


__ADS_3

Setelah tragedi kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya, kini hidup Arga jadi luntang-lantung tak tau arah. Ia pun sudah diberhentikan dari pekerjaannya karena kondisi tubuhnya yang sudah tidak memungkinkan untuk ia berkerja di perusahaan itu lagi.


Dengan menggunakan uang pesangon yang diberikan oleh perusahaan tempatnya bekerja, Arga mencoba membuka berbagai macam usaha untuk melanjutkan hidupnya. Namun, tak satu pun yang berhasil. Semuanya gagal karena lelaki itu tidak bisa mengelola usahanya dengan baik.


Bukan hanya Arga yang merasa kehidupannya semakin kacau setelah kepergian Risa dan Lily, Mona pun turut merasakan hal yang sama. Semakin hari, ia merasa semakin tak tenang dan akhirnya memutuskan menemui Risa untuk meminta maaf.


"Ayah dan Ibu sangat setuju, Mona. Temuilah mbak-mu dan minta maaf kepadanya." Pak Abdi pun mendukung keputusan Mona. Ia sangat senang karena pada akhirnya Mona bersedia menemui kakak angkatnya itu.


"Ya, Mona. Ayahmu benar," timpal Bu Lidia sambil tersenyum menatap Mona.


Mona menghembuskan napas panjang. "Baiklah, sebaiknya aku berangkat sekarang, Bu."


"Sebentar, Mona. Apakah kamu sudah memberitahu Risa soal rencana kedatanganmu? Kalau belum, Ibu bisa kasih tau mbak-mu lewat telepon," tanya Bu Linda, menahan langkah Mona yang saat itu sudah bersiap meninggalkan ruangan tersebut.


Mona menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Bu. Aku memang sengaja tidak memberitahukan soal kedatanganku kepada mbak Risa. Aku takut mbak Risa menolak kedatanganku," lirih Mona.


"Ya, sudah kalau begitu maumu. Hati-hati di jalan dan kalau ada apa-apa, jangan lupa telepon Ibu," ucap Bu Lidia.


"Baik, Bu."


"Kenapa tidak ikut Ayah saja sekalian, Mona. Ayah bisa mengantarkanmu sebelum berangkat ke tempat kerja," ajak Pak Abdi.


"Tidak perlu, Ayah. Aku sudah terlanjur memesan taksi online dan kini ia sedang di perjalanan. Tidak mungkin aku membatalkannya begitu saja," sahut Mona.


Setelah berpamitan, Mona pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang depan. Sementara Bu Lidia mengikuti dari belakang.


"Ingat, Mona. Jangan terlalu stress, bukan kah HPL mu sudah sangat dekat," ucap Bu Lidia sembari mengingatkan.


"Iya, Bu. Aku ingat," sahut Mona sambil tersenyum kecut.


Tidak berselang lama, taksi online yang dipesan oleh Mona pun tiba. Mona segera menghampiri mobil tersebut lalu memasukinya.

__ADS_1


"Pak, jangan ngebut-ngebut, ya." Bu Lidia mengingatkan sopir taksi online tersebut sebelum pergi meninggalkan kediamannya.


"Baik, Bu."


Setelah itu, mereka pun segera berangkat menuju kediaman baru Ayden dan Risa. Di perjalanan, Mona terus termenung. Selain ragu untuk menghadap Risa, ia juga kepikiran soal bayinya yang tidak lama lagi akan segera lahir.


"Entah bagaimana reaksi Ayah dan Ibu jika tahu bahwa bayi yang kukandung ini ternyata cacat. Apakah mereka bersedia menerima apa pun keadaannya?" gumam Mona dalam hati sambil mengelus perutnya yang membesar.


Tidak berselang lama, Mona pun tiba di alamat yang diberikan oleh Bu Lidia kepadanya. Setelah membayar jasa taksi online tersebut, Mona segera menghampiri rumah megah itu.


Sebuah kediaman yang sangat besar menurutnya, bahkan entah berapa kali lipat dibandingkan kediaman milik Arga. Halamannya pun begitu luas dan ada beberapa buah mobil yang terparkir rapi di sana.


"Apa benar ini rumah baru Mbak Risa? Kalau benar, itu artinya Mbak Risa benar-benar beruntung," gumam Mona sambil mengintip dari balik pagar yang menjulang tinggi di hadapannya.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Seorang penjaga keamanan menghampiri Mona.


"Ehm, aku Mona. Adiknya Mbak Risa. Aku ke sini ingin bertemu dengannya," jawab Mona.


Lelaki itu pergi begitu saja dan tak membiarkan Mona masuk ke dalam. Dengan terpaksa Mona pun menunggu di sana. Beberapa menit kemudian, lelaki itu kembali lagi dan kali ini ia bersama Risa.


"Itu dia, Non Risa."


Risa pun bergegas menghampiri pagar dan memastikan siapa yang berada di luar. Ternyata apa yang dikatakan oleh penjaga keamanan itu benar dan Risa pun bergegas memerintahkan kepada lelaki itu untuk membuka pagar tersebut.


"Mo-Mona? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Risa setelah pagar tersebut terbuka lebar.


Mona tersenyum kecut. "Mbak Risa, maaf jika kedatanganku mengganggumu," lirihnya.


Risa tampak ragu-ragu menerima kedatangan Mona saat itu. Kejadian dulu membuat ia begitu trauma terhadap adik angkatnya tersebut.


"Ada perlu apa, Mona?" tanya Risa sambil memperhatikan perut Mona yang kini semakin membesar.

__ADS_1


"Sebenarnya aku ke sini untuk minta maaf padamu, Mbak. Demi Tuhan, aku menyesal," lirih Mona dengan air mata yang mulai merembes di kedua pipinya.


Melihat hal itu, Risa pun tampak tidak nyaman. Akhirnya ia pun memutuskan untuk mengajak Mona masuk ke dalam rumahnya.


"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di dalam. Tidak enak kalau kelihatan tetangga," ucap Risa.


Mona pun mengangguk kemudian mengikuti langkah Risa yang menuntunnya memasuki kediaman mewah milik Ayden tersebut. Mona sempat terpelongo melihat kemegahan rumah yang kini ditinggali oleh Risa. Begitu mewah dan tentunya benar-benar nyaman.


"Silakan duduk, Mona."


"Terima kasih, Mbak."


Mona pun duduk di sofa mahal itu lalu kembali mengutarakan maksudnya terhadap Risa. Risa hanya diam ketika adik angkatnya itu bicara panjang lebar sambil terisak. Sebenarnya ia masih ragu apakah permintaan maaf yang dilontarkan oleh adik angkatnya itu benar-benar tulus atau hanya sekedar untuk berbasa-basi.


"Maafkan aku, Mbak. Maafkan aku," lirih Mona yang kini bangkit lalu berjongkok di hadapan Risa.


Risa gelabakan dibuatnya. Ia segera membangunkan tubuh Mona lalu mendudukkannya di tempat semula.


"Baiklah, aku memaafkanmu, Mona. Lagi pula aku sudah tidak punya urusan apa pun lagi kepada Mas Arga. Dia hanya ayah bagi Lily, itu saja. Selebihnya, aku sudah tidak peduli."


"Aku juga begitu, Mbak. Aku juga sudah memutuskan untuk berpisah dengannya," lirih Mona sambil tersenyum kecut.


"Loh, kenapa? Bukankah kamu begitu mencintainya? Bukankah kamu pernah bilang bahwa Mas Arga itu cinta pertamamu? Lalu kenapa sekarang kamu malah memutuskan untuk berpisah?"


"Seperti yang pernah kamu katakan, Mbak. Karma itu berlaku dan aku sudah merasakannya. Mas Arga berkali-kali mengkhianati aku dan terakhir kali, ia bahkan membawa selingkuhannya ke dalam rumah kami. Sekarang ia pun menuai hasilnya. Ia positif terjangkit penyakit HIV dan aku pun memilih untuk mundur," jelas Mona.


Risa menghembuskan napas berat. Ia bingung harus senang atau malah ikut bersedih setelah mendengar penuturan dari Mona tersebut. Sebagai sesama perempuan, ia merasa iba terhadap wanita itu. Namun, jika ia teringat akan masa lalunya, ia seharusnya senang mendengar berita itu.


"Aku turut bersedih mendengarnya dan aku harap kamu bisa menjadikannya sebuah pembelajaran. Jangan pernah renggut kebahagiaan orang lain, Mona. Apalagi sampai merenggut Ayah dari seorang anak. Carilah kebahagiaanmu sendiri tanpa harus mengorbankan perasaan orang lain," ucap Risa.


Mona tertunduk malu. "Ya, Mbak. Maafkan aku."

__ADS_1


...***...


__ADS_2