Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Menemui Pak Abdi Lagi


__ADS_3

"Mas Ayden, bolehkah aku minta waktunya untuk bicara sebentar?" tanya Risa dengan ragu-ragu kepada Ayden melalui sambungan telepon.


"Tentu saja, Risa. Apa sih yang tidak untukmu," goda Ayden sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kekuasaannya.


"Tidak menggangu waktu kerjanya, Mas?" tanya Risa lagi.


"Tidak, Risa. Bicaralah, aku akan mendengarkanmu dengan baik di sini," jawab Ayden.


"Ehm, sebenarnya begini, Mas. Sebelum kita menikah, aku ingin bertemu dengan orang tua kandungku terlebih dahulu. Aku ingin mereka hadir dan menyaksikan pernikahan kita. Apa kamu mengizinkannya, Mas?" lirih Risa yang tampak gugup saat bicara bersama calon suaminya itu.


Ayden tersenyum lebar. "Aku setuju sekali, Risa. Sudah memang seharusnya begitu. Aku berjanji akan membantumu mencari tahu tentang keberadaan mereka."


"Benarkah itu, Mas? Mas akan membantuku mencari tahu keberadaan mereka?" tanya Risa dengan sangat antusias.


"Ya, Risa. Tentu saja! Kebetulan besok hari libur. Kita bisa berkunjung ke kediaman orang tua angkatmu dan bertanya kepada mereka tentang asal usulmu," ucap Ayden kemudian.


"Baik, Mas. Terima kasih karena sudah mendukungku."


"Sama-sama."


Keesokan harinya.


Ayden menepati janjinya. Ia berkunjung ke kediaman oma Hana untuk menemui Risa dan membawa wanita itu berkunjung ke kediaman pak Abdi dan bu Lidia.


"Mari, Risa."


"Hati-hati di jalan ya, Ay. Jangan ngebut-ngebut. Ingat, hari pernikahan kalian akan segera dilaksanakan," ucap Oma Hana, mencoba mengingatkan Ayden sebelum lelaki itu memasuki mobilnya.


"Tentu saja, Oma." Ayden tersenyum.

__ADS_1


"Kami permisi dulu, Oma." Risa meraih tangan Oma Hana kemudian menciumnya sebelum ia memasuki mobil mewah milik Ayden.


"Iya, Ris. Jaga Lily baik-baik, ya." Oma Hana menepuk pelan pundak Risa lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil.


"Bye, Lily sayang!" ucap wanita paruh baya itu sambil melambaikan tangannya kepada Risa dan Lily.


"Bye, Oma!"


Ayden segera menghidupkan mesin mobilnya kemudian melaju meninggalkan kediaman Oma Hana.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, akhirnya Risa tiba di halaman depan rumah Pak Abdi dan Bu Lidia. Ayden sempat terdiam sejenak sambil menatap rumah sederhana itu dengan seksama. Kenangan pahit yang pernah terjadi pada dirinya di rumah itu, kembali terlintas di pikirannya.


Risa menyadari hal itu. Ia menghampiri Ayden lalu menggenggam tangan kekar lelaki itu dengan erat.


"Mari, Mas."


Pasangan itu pun berjalan menghampiri pintu depan lalu mengetuknya. Tidak butuh waktu lama, pintu pun akhirnya terbuka. Bu Lidia tersenyum lebar setelah mengetahui siapa yang bertamu ke rumahnya saat itu.


"Risa? Ya Tuhan! Ibu kangen sekali," pekik Bu Lidia yang refleks memeluk serta menciumi kedua belah pipi anak angkatnya itu.


"Aku pun sama, Bu. Aku kangen sama Ibu," jawab Risa.


Setelah melerai pelukannya bersama Risa, kini tatapan Bu Lidia tertuju pada tubuh besar nan kekar yang sedang berdiri di samping Risa. Bu Lidia menatap lekat kedua netra Ayden dan mencoba mengingat-ingat siapa sebenarnya lelaki itu.


"Ay-Ayden?" tanya Bu Lidia yang tampak ragu-ragu, karena penampilan Ayden saat ini berbeda jauh dari Ayden yang dulu pernah ia kenal.


"Kamu Ayden, 'kan?" tanya Bu Lidia lagi.


Ayden tersenyum hangat lalu menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu Lidia. Saya Ayden."

__ADS_1


Bu Lidia tersenyum kecut kemudian membuka pintu rumahnya lebih lebar lagi. "Mari. Silakan masuk," ucapnya.


Risa dan Ayden pun segera masuk ke dalam rumah sederhana itu. Tak lupa, Bu Lidia juga mempersilakan pasangan tersebut untuk duduk di sofa ruang depan.


"Duduklah, Risa, Ayden. Biar Ibu panggil bapak ke sini," ucap Bu Lidia.


"Terima kasih, Bu," jawab Ayden.


Bu Lidia bergegas masuk ke dalam dan menemui sang suami yang saat itu sedang asik merapikan pakaiannya.


"Pak," panggil Bu Lidia.


"Ya, Bu. Ada apa?"


"Pak, di luar ada Risa dan Ayden. Aku rasa ada sesuatu yang ingin mereka bicarakan kepada kita," jawab Bu Lidia dengan alis yang saling bertaut.


"Siapa? Ayden?" Pak Abdi terkekeh pelan. "Untuk apa lagi lelaki itu ke sini. Aku pikir dia sudah tidak punya nyali untuk menampakkan wajahnya di hadapanku," celetuk Pak Abdi.


"Apa mungkin Ayden berniat menikahi Risa ya, Yah?"


Lagi-lagi Pak Abdi terkekeh. "Entahlah. Tapi jika itu benar, aku akui berarti nyalinya memang benar-benar dapat diacungi jempol!"


"Apa itu artinya Ayah setuju jika Ayden berniat menikahi Risa?"


"Kenapa tidak? Lagi pula, Risa pun sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi bersama Arga. Jadi, jika keputusan Risa dan Ayden sudah mantap, kita harus apa lagi?" sahut Pak Abdi.


Setelah selesai merapikan pakaiannya, Pak Abdi pun segera berjalan menuju ruang depan. Di mana Risa dan Ayden sudah menunggu kedatangannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2