Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Panti Asuhan


__ADS_3

Risa dan Ayden tiba di depan sebuah panti asuhan yang telah disebutkan oleh Pak Abdi dan Bu Lidia sebelumnya. Panti asuhan Cahaya Asa, tempat di mana Pak Abdi dan Bu Lidia pertama kali menjumpai Risa ketika masih bayi.


Ayden menghembuskan napas panjang lalu merengkuh pundak Risa yang terdiam di depan pintu panti asuhan tersebut dengan raut wajah sendu.


"Semangat, Risa!"


Risa lalu tersenyum dan mengikuti langkah Ayden yang kini menuntunnya memasuki ruangan itu.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sambut seorang salah seorang wanita yang bertugas mengurus dan merawat anak-anak di panti asuhan tersebut.


"Ehm, bolehkah saya bertemu dengan pengurus panti? Ada sesuatu hal yang sangat penting, yang ingin saya tanyakan kepadanya," sahut Risa.


Wanita itu mengangguk sambil tersenyum hangat. "Baiklah. Tunggulah di sini, biar saya panggilkan."


"Terima kasih banyak."


Wanita itu pun segera pergi menuju sebuah ruangan di mana pengurus panti tersebut tengah berada. Sementara Risa dan Ayden memilih menunggu di ruangan itu sambil memperhatikan anak-anak panti asuhan yang sedang bermain.


"Ya Tuhan, aku kasihan melihat mereka, Mas," lirih Risa dengan mata berkaca-kaca menatap anak-anak panti tersebut.


Ayden mengelus pundak Risa. "Ya, aku juga. Oh ya, aku ingin beli sesuatu untuk mereka setelah semua urusanmu selesai," sahut Ayden.


Tepat di saat itu, sang pengurus panti asuhan tiba di ruangan tersebut. Seorang wanita yang sudah tua, tetapi masih sehat dan bugar. Wanita itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya ke hadapan Risa dan Ayden.


"Duduklah, duduklah! Tidak apa-apa," ucap wanita tua itu ketika Risa dan Ayden berdiri menyambut kedatangannya.


"Terima kasih, Bu."

__ADS_1


Risa dan Ayden pun kembali duduk di posisi mereka sebelumnya.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita tua itu. Masih dengan senyuman yang terus mengambang di wajahnya.


Risa membuang napas berat dan mencoba menetralkan perasaannya yang campur aduk saat itu.


"Begini, Bu. 25 tahun yang lalu kedua orang tua angkat saya mengadopsi seorang bayi dari panti asuhan ini dan bayi itu adalah saya. Tujuan saya datang ke panti ini adalah untuk mencari tahu siapa orang tua kandung saya yang sebenarnya," jelas Risa.


Wanita tua itu terdiam untum beberapa saat sambil memperhatikan wajah sendu Risa dengan seksama. Raut wajah wanita tua itu tampak kusut dan sepertinya dia enggan membicarakan soal itu.


"25 tahun yang lalu, itu sudah sangat lama sekali dan saya tidak yakin data-datanya masih ada. Seandainya masih ada pun, tidak semudah itu kami memberitahukannya kepada orang lain karena hal ini sifatnya sangat rahasia," ucap wanita itu.


"Ta-tapi saya bukan orang lain, Bu. Saya adalah bayi yang di adopsi dari panti asuhan ini. Cobalah cek data-datanya, saya yakin pasti masih ada. Lagi pula, apa salahnya saya? Saya hanya ingin bertemu dengan orang tua kandung saya sebelum hari pernikahan saya dilangsungkan," lirih Risa.


Wanita tua itu menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. "Baiklah kalau begitu. Kemarilah, ikuti saya."


Setibanya di ruangan itu.


"Masuklah," ucap wanita itu.


"Terima kasih," jawab Ayden dan Risa secara bersamaan.


Pasangan itu pun segera masuk lalu duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Sesaat setelah ibu pengurus panti tersebut mempersilakan mereka.


Sementara Risa dan Ayden menunggu di sana, Ibu pengurus panti tersebut mulai memeriksa tumpukan kertas usang yang tertata rapi di rak-rak yang berjejer.


"Siapa nama orang tua angkatmu, Nak?" tanya wanita tua itu.

__ADS_1


"Pak Abdi Kusuma dan Bu Lidiawati," sahut Risa.


"Abdi Kusuma," gumam wanita tua itu sambil memeriksa beberapa berkas-berkas usang yang kini ada di tangannya. Hingga akhirnya ia berhasil menemukan data-data milik Risa kecil.


Wanita itu tersenyum lebar kemudian menghampiri Risa dan Ayden sambil membawa berkas tersebut di tangannya.


"Bagaimana, Bu?" tanya Risa yang sudah tidak sabar.


"Ini berkas-berkas yang kamu butuhkan, Nak. Aku harap ini dapat membantumu menemukan kedua orang tua kandungmu," ucap Ibu pengurus panti tersebut.


Risa meraih berkas itu dengan tangan gemetar hebat. Ia mulai memeriksa satu persatu kertas-kertas usang itu sambil membacanya dengan seksama hingga tak terlewat sedikit pun.


"Ara Widya?" ucap Risa dengan bibir bergetar.


Ia melirik Ayden yang juga berekspresi sama seperti dirinya. Terkejut dan mulai berpikir keras siapa wanita yang bernama Ara Widya tersebut. Wanita yang diyakini sebagai ibu kandung Risa. Wanita yang sudah dengan tega menyerahkan Risa ke panti asuhan tersebut.


"Ara Widya," gumam Ayden sambil mencoba mengingat-ingat. Nama itu tidak asing di telinganya, tetapi ia tidak yakin bahwa wanita yang dimaksud adalah wanita yang sama.


"Apa kamu pernah mendengar nama itu, Mas?" tanya Risa kepada Ayden.


"Ya, aku kenal dengan seseorang yang memiliki nama yang sama, bu Ara Widya. Namun, aku tidak yakin beliau adalah wanita yang kita maksudkan di sini."


"Hmmm."


Risa menundukkan kepalanya menghadap lantai sambil mengeluarkan napas berat. Ia tidak menyangka bahwa tidak semudah itu menemukan keberadaan kedua orang tua kandungnya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2