
Sebelum pulang, Ayden sempat-sempatnya membeli berbagai macam hadiah untuk anak-anak di panti asuhan tersebut. Selain itu, ia juga memberikan sedikit rejekinya untuk mereka.
"Terima kasih, Nak Ayden. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian," ucap Bu Panti dengan penuh haru.
"Sama-sama, Bu."
Setelah puas bermain bersama anak-anak panti asuhan Cahaya Asa, mereka pun pamit dan kembali ke kediaman Ayden. Kedatangan Ayden, Risa dan Lily disambut dengan baik oleh Mommy Tiya.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Mommy setelah menyambut bayi Lily dari pelukan Risa.
"Kami sudah berhasil mengetahui siapa nama ibu kandung Risa. Namun, yang menjadi masalah kali ini, kami tidak tahu di mana wanita itu berada. Secara, di berkas tersebut tak ada informasi lebih dari wanita itu," jelas Ayden.
"Benarkah?" Mommy Tiya menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang utama dan disusul oleh Risa dan anak lelakinya itu. "Kalau boleh Mommy tahu, siapa nama wanita itu?"
"Ara Widya. Entah kenapa ketika aku menyebutkan namanya, aku teringat akan tante Ara, istrinya pak Guntur. Tapi rasanya tidak mungkin. Secara tante Ara adalah wanita yang baik dan tidak mungkin dia tega menitipkan anak kandungnya di panti asuhan," celetuk Ayden.
"Sebentar, Ay! Entah kenapa Mommy pun berpikiran seperti itu. Coba ajak Risa bertamu ke kediaman mereka dan cari tahu kebenarannya. Siapa tahu benar kalau bu Ara adalah wanita yang dimaksudkan," sahut Mommy Tiya dengan begitu antusias.
"Tapi apa alasanku mengajak Risa ke sana? Secara aku yakin bahwa aku sudah jelek di mata mereka karena sudah menolak perjodohanku dengan Renatta," ucap Ayden bingung.
"Ya ampun, Ay! Tidak usah pikirkan hal itu. Sekarang pergilah ke sana bersama Risa dan temui bu Ara. Jika benar Risa adalah anak kandungnya, maka ia pasti bisa merasakannya. Sebab naluri seorang ibu itu sangatlah kuat!"
Risa dan Ayden saling tatap untuk beberapa saat hingga perhatian Ayden kembali tertuju pada Mommy Tiya.
"Jadi, menurut Mommy kita harus menemui tante Ara?"
"Ya, kenapa tidak? Setidaknya kalian sudah mencoba. Benar 'kan?" sahut Mommy.
"Bagaimana, Ris? Apa kamu bersedia berkunjung ke kediaman tante Ara, ibunya Renatta?" tanya Ayden kepada Risa.
__ADS_1
Risa berpikir sejenak. Setelah itu ia pun segera menganggukkan kepalanya walaupun masih tampak ragu. "Terserah Mas Ayden saja," lirihnya.
"Baiklah kalau begitu. Setelah beristirahat, kita segera berangkat ke sana," ucap Ayden.
Dua jam kemudian.
"Mari, Risa."
Risa pun mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil bersama si kecil Lily. Sementara Ayden segera menyusul lalu duduk di kursi kemudi.
"Kamu siap?" Ayden tersenyum menatap Risa yang tampak menegang.
Risa menarik napas panjang lalu menghempaskannya kembali. "Ya, aku siap, Mas."
Ayden pun segera melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Pak Guntur dan Bu Ara Widya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua kandung dari Renatta. Gadis yang dulu pernah dijodohkan dengannya.
"Jika kamu masih ragu, kita bisa mencobanya lain hari," ucap Ayden sambil memperhatikan wajah bimbang Risa yang masih ragu untuk melangkahkan kakinya keluar dari mobil.
Risa sempat terdiam beberapa saat. Keringat dingin bahkan terus mengucur di kedua belah pelipis wanita itu.
"Bagaimana, Risa?"
"Lanjutkan saja, Mas. Lagi pula, belum tentu benar bahwa Bu Ara adalah wanita yang kita maksudkan," lirih Risa.
Ayden mengangguk pelan sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Risa. Risa meraih tangan lelaki itu dan kini berjalan bersamanya menuju pintu utama rumah megah milik Pak Guntur.
Ayden memencet bell yang terdapat di samping pintu dan tidak berselang lama pintu pun terbuka. Tampak seorang pelayan menyambut kedatangan Ayden dan Risa sambil tersenyum hangat.
"Tante Ara ada?" tanya Ayden.
__ADS_1
"Ada, Tuan. Sebentar, saya panggilkan." Pelayan itu membuka pintu utama lebih lebar lagi kemudian mempersilakan Ayden dan Risa untuk masuk ke dalam rumah itu.
"Masuklah, Tuan. Silakan duduk," ucapnya sebelum meninggalkan Ayden dan Risa di ruangan itu.
"Terima kasih, Bi."
Tidak berselang lama, Bu Ara pun tiba di ruangan itu sambil tersenyum hangat menatap Ayden. Namun, ekspresinya sedikit berubah tatkala melihat sosok Risa yang saat itu berdiri di samping Ayden.
"Apa kabar, Nak Ayden?" Bu Ara mengulurkan tangannya ke hadapan Ayden dan segera disambut oleh lelaki itu.
"Baik, Tante."
"Siapa ini? Calon istrimu?" tanya Bu Ara sambil memperhatikan Risa dengan seksama.
Begitu pula Risa, ia pun tak hentinya menatap wanita cantik dan modis yang tengah berdiri di hadapannya. Entah kenapa Risa merasakan ada chemistry yang begitu kuat antara dirinya dan wanita itu.
"Ah, iya, Tante. Kenalkan, ini Risa, calon istriku." Tanpa ragu dan sungkan, Ayden memperkenalkan Risa kepada Bu Ara.
Bu Ara terdiam ketika bertatap mata dengan sosok mungil yang ada di dalam pelukan Risa. Kedua netra mungilnya tiba-tiba mengingatkan Bu Ara pada masa lalunya dan hal itu membuat dadanya terasa sesak.
Bu Ara mengelus dadanya kemudian duduk di sofa dengan wajah yang tampak memucat.
"Tante? Tante tidak apa-apa?" tanya Ayden sembari memegang kedua pundak wanita itu.
"Ehm, tidak apa-apa, Ay. Duduklah," ucapnya sembari mendaratkan tubuhnya ke sofa.
Ayden dan Risa pun segera menyusul. Mereka duduk tak jauh dari posisi Bu Ara berada.
...***...
__ADS_1