Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Ayden Penasaran


__ADS_3

"Oma! Omaaa!"


Terdengar suara teriakan seorang gadis dari halaman depan. Teriakan gadis itu berhasil membuat Risa dan Oma Hana terperanjat.


"Kamu dengar itu, Risa? Itu Rachel, cucuku. Dia memang begitu. Anaknya heboh sekali," ucap Oma Hana sambil tersenyum menatap Risa.


Baru saja Oma Hana selesai berkata seperti itu kepada Risa, Rachel sudah berada di ruangan tersebut. Di mana Oma tengah bersantai di ruang televisi dengan ditemani oleh Risa dan bayi Lily.


"Omaaa!" pekik Rachel.


Rachel berlari jingkrak-jingkrak layaknya anak kecil ke arah Oma Hana dengan kedua tangan membentang. Begitu pula wanita paruh baya itu. Ia merentangkan kedua tangannya dan bersiap menyambut pelukan dari Rachel.


"Ra-Rachel?" gumam Risa dengan mata membulat setelah mengetahui bahwa cucu kesayangan Oma Hana adalah Rachel. Wanita yang selama ini ia yakini sebagai kekasih Ayden.


"Oh ya, Tuhan! Kenapa aku tidak sadar bahwa Rachel adalah cucu kesayangan Oma Hana?" gumam Risa sambil mengelus tengkuknya. "Ini karena di foto yang terpajang, hanya foto Rachel masih kecil."


Risa merasa sangat malu. Ia menundukkan kepalanya tanpa berani menoleh ke arah Rachel yang kini tengah asik berpelukan bersama Oma Hana.


"Ouhh, Oma kangen sama kamu, Chel." Oma Hana melerai pelukan mereka dan Rachel segera duduk di samping wanita paruh baya itu dengan kepala bersandar di pundak Oma.


"Rachel juga, Oma."


"Oh ya, Chel. Kenalin, perawat baru Oma. Namanya Risa." Oma Hana melirik Risa. "Nak Risa, kenalin ini Rachel, cucu kesayangan Oma."


Mau tidak mau, Risa pun harus berani mengangkat kepalanya dan menatap Rachel yang masih bergelayut manja di pundak Oma. Dengan ragu-ragu, Risa mengulurkan tangannya ke hadapan Rachel kemudian menyebutkan namanya.


"R-Risa," ucapnya dengan gemetar.


Rachel segera menyambut tangan Risa yang terulur dan menatap wajah wanita itu dengan seksama. Mata Rachel tiba-tiba membulat sempurna setelah tahu siapa yang menjadi perawat Oma-nya.


"Risa?!" pekik Rachel.


Risa hanya bisa tersenyum kecut.


"Iya, Non. Saya Risa," sahut Risa.


"Loh, jadi kalian sudah saling kenal, ya?" sela Oma Hana dengan wajah heran menatap Risa dan Rachel secara bergantian.


"Ehm, ya, Oma. Kami pernah bertemu sebelumnya. Benar 'kan Risa?"


Lagi-lagi Risa hanya mengangguk dengan wajah tersenyum menatap Oma Hana.

__ADS_1


"Jadi benar, sebentar lagi Rachel dan mas Ayden akan segera menikah. Tetapi pernikahan mereka tertunda karena ibunya mas Ayden jatuh sakit. Sakit apa, ya?" gumam Risa dalam hati.


Rachel menatap Risa dengan begitu lekat. Banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepalanya, yang ingin ia pertanyakan kepada Risa. Namun, karena di ruangan itu masih ada Oma Hana, Rachel pun terpaksa menahan rasa ingin tahunya yang sangat besar itu.


"Ehm, biar saya buatin minum ya, Oma." Risa berniat bangkit dari posisi duduknya, tetapi ditahan oleh Oma. Wanita paruh baya itu memegang tangan Risa kemudian memintanya untuk kembali duduk di tempat semula.


"Tidak usah, Ris. Biar Bibi yang melakukannya. Lagi pula itu bukan tugasmu," ucap Oma Hana.


Dengan terpaksa Risa pun bertahan di ruangan itu. Padahal ia sudah merasa tidak nyaman. Selain karena Rachel terus menatapnya dengan tatapan aneh, ia juga merasa malu kepada wanita itu.


Cukup lama Risa bertahan di ruangan itu dan mendengarkan celotehan Oma dan cucu kesayangannya. Hingga akhirnya ia menemukan satu cara agar bisa pergi dari ruangan itu, yang tidak bisa ditolak oleh Oma.


"Ehm, saya permisi dulu ya, Oma, Non Rachel. Saya ingin ke kamar, takutnya Lily sudah bangun." Risa bangkit dari tempat duduknya sembari mengangguk pelan kepada Oma dan Rachel.


"Ris, kalau Lily udah bangun, ajakin aja dia ke sini," sahut Oma.


"Benar, Ris. Ajakin saja Lily ke sini," timpal Rachel sambil tersenyum lebar menatap Risa.


"Baik, Non, Oma."


Risa pun kembali ke kamarnya dengan napas lega karena akhirnya ia bisa pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Rachel serta Oma di sana.


"Oma, Oma! Bagaimana Risa bisa bekerja di sini?" tanya Rachel yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya yang amat sangat.


Oma Hana mengerutkan alisnya heran. "Maksudmu apa, Rachel? Ya, tentu saja bisa karena Risa yang datang sendiri ke sini dan meminta pekerjaan itu kepada Oma," jawab Oma Hana.


"Maksud Rachel begini, Oma. Risa itu 'kan tidak tinggal di kota ini. Dia itu berasal dari kota X dan di sana ia tinggal bersama suaminya, Mas Arga!" jelas Rachel.


Oma Hana menghela napas panjang. "Ya, memang benar. Oma pun tahu itu. Memangnya kenapa, sih? Dia itu 'kan sudah diceraikan suaminya karena lelaki tak bertanggung jawab itu menikah lagi dengan wanita lain. Makanya dia merantau ke kota ini dan akhirnya ikut bekerja bersama Oma," tutur Oma Hana.


Rachel membulatkan matanya. "Hah? Diceraikan? Serius, Oma?"


"Loh, katanya kalian sudah saling kenal. Lalu kenapa kamu masih belum tahu soal itu?" tanya Oma Hana kepada Rachel yang masih menatapnya dengan mata membesar.


"I-iya, sih, Oma. Kami memang saling kenal. Tapi ya, kenal-kenal gitu aja," sahut Rachel sambil tersenyum kecut.


"Ah ya, sudah. Sebaiknya kamu mandi dulu, gih! Bau," celetuk Oma Hana kepada Rachel.


Rachel menekuk wajahnya dengan sempurna kemudian bangkit dari posisi duduknya. "Ih, Oma. Baiklah, aku mandi sekarang."


"Kenapa gak ajak Ayden sekalian, Chel? Biar rame," ucap Oma kepada Rachel yang sudah melenggang beberapa langkah darinya.

__ADS_1


"Ah ya, Bang Ay! Hampir saja aku lupa. Aku harus katakan berita penting ini kepada Bang Ay! Harus," gumam Rachel.


"Chel, kok pertanyaan Oma tidak dijawab, sih?"


"Bang Ay sibuk, Oma. Ada pekerjaan yang harus ia kerjakan katanya," jawab Rachel sembari masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar.


"Mana ponselku, mana?!" pekik Rachel sembari mencari keberadaan benda pipih kesayangannya itu di dalam saku celananya.


"Ah, ini dia!" Setelah menemukan ponsel itu, Rachel segera menghubungi nomor ponsel Ayden.


Cukup lama Rachel menunggu, hingga akhirnya lelaki itu pun menjawab panggilan darinya.


"Ya, Chel."


"Bang Ay! Hhh, rugi banget Bang Ay gak ikut aku hari ini," goda Rachel.


Ayden terkekeh pelan. "Memangnya kenapa? Apakah janda itu begitu cantik? Hingga aku harus menyesali keputusanku menolak ajakanmu?"


"Begh! Bahkan lebih dari sekedar cantik, Bang Ay! Janda yang satu ini sangat spesial dan aku yakin Bang Ay akan kelepek-kelepek jika bertemu dengannya."


Lagi-lagi Ayden terkekeh. "Ya ampun, Chel. Jadi kamu menghubungiku hanya untuk mengoceh saja?" Lelaki itu merasa lucu, demi menerima panggilan adik sepupunya itu, dia bahkan rela menunda ritual mandinya. Padahal ia sudah merasa sangat gerah.


"Sebenarnya tidak, Bang Ay. Aku harap besok Bang Ay bisa menyusulku ke sini sebab ada hal yang sangat penting, yang harus Bang Ay ketahui," sahut Rachel dan kali ini ia bicara dengan begitu serius.


"Kenapa tidak diceritakan sekarang saja, Chel?"


"Aku tidak mau. Aku ingin membuat Bang Ay penasaran dan tidak dapat tidur nyenyak malam ini," goda Rachel sambil terkekeh.


"Tidak mungkin," balas Ayden yang ikut terkekeh.


"Pasti, karena ini tentang Risa!"


Raut wajah Ayden mendadak serius. "Risa? Ada apa dengan Risa?"


"Pikirkan sendiri, bye!" Rachel menutup panggilannya.


"Chel! Rachel!" panggil Ayden yang begitu penasaran.


...***...

__ADS_1


__ADS_2