
Keesokan harinya.
"Hmmm, syukurlah. Perkaranya sudah didaftarkan, sekarang kita tinggal menunggu panggilan dari pengadilan. Semoga setelah ini tidak ada drama apa pun lagi," ucap Ayden.
"Aaminn. Terima kasih banyak, Mas. Tanpa bantuan Mas, entah kapan aku bisa mengurus ini semua," sahut Risa.
Ayden menatap Risa yang duduk di sampingnya. Ia meraih tangan Risa kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Aku begitu salut padamu, Risa. Kamu benar-benar kuat.
Risa tersenyum kecut. "Sebenarnya aku tidak sekuat itu, Mas. Namun, untuk Lily aku harus menjadi Ibu yang super duper kuat."
Ayden melepaskan tangan Risa kemudian kembali fokus pada kemudinya.
"Ya Tuhan, aku benar-benar tidak menyangka!" pekik Ayden sambil mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak menyangka bahwa Mona adalah orang ke-tiga yang hadir kemudian menghancurkan kehidupan rumah tanggamu, Risa."
Risa hanya tersenyum getir tanpa berkeinginan membalas ucapan Ayden.
"Kenapa kamu tidak pernah menceritakan soal itu kepadaku? Jika seandainya aku tidak melihat sendiri video yang kamu serahkan ke pengadilan barusan, mungkin sampai sekarang aku masih belum tahu apa yang menjadi pemicu keretakan rumah tanggamu bersama mas Arga," tutur Ayden.
Lagi-lagi Risa tersenyum kecut. "Itu aib, Mas. Aib rumah tanggaku bersama mas Arga. Sebenarnya aku malu. Sangat-sangat malu. Apalagi yang menjadi orang ke-tiga di antara kami adalah adikku sendiri," lirih Risa.
"Suatu saat nanti baik mas Arga maupun Mona pasti akan menyesali perbuatannya terhadapmu," ucap Ayden dengan wajah kesal.
Ayden menghentikan mobilnya di depan sebuah parkiran rumah makan yang terkenal di kota mereka.
"Aku sudah lapar dan aku pun tahu kamu juga pasti sudah lapar. Benar 'kan? Sebaiknya kita makan dulu sebelum kita kembali ke rumah," ajak Ayden.
__ADS_1
"Tapi, Mas. Bagaimana dengan Lily? Aku takut dia cerewet karena kelamaan ditinggal kemudian menyusahkan Oma dan Mommy," ucap Risa dengan wajah cemas.
"Tidak akan. Lagi pula Mommy dan Oma tidak akan keberatan yang penting asi untuk Lily cukup," sahut Ayden sembari meraih tangan Risa dan mengajaknya keluar dari dalam mobil.
"Tapi —"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Aku janji setelah selesai makan kita langsung pulang."
Risa pun mengalah dan mengikuti langkah Ayden yang membawanya memasuki rumah makan tersebut. Setelah menemukan meja kosong, mereka pun segera duduk di sana sambil menunggu pelayan menghampiri meja mereka.
Tidak butuh waktu lama, seorang wanita muda menghampiri meja mereka dengan membawa daftar menu. Ia tersenyum manis kemudian menyerahkan daftar menu tersebut ke tangan Risa dan Ayden masing-masing satu.
"Kamu mau pesan apa, Ris? Jangan sungkan, pilih aja apa pun yang kamu mau," ucap Ayden sambil sesekali melirik Risa yang tampak kebingungan melihat deretan daftar menu.
"Aku ikut Mas saja, soalnya aku tidak tahu menu mana yang enak," jawab Risa dengan malu-malu.
"Aku pesan ini dan ini, dua porsi," ucap Ayden.
"Baik, Tuan. Tunggu sebentar, ya."
Setelah mencatat pesanan Ayden dan Risa, pelayan itu pun segera kembali ke belakang untuk menyiapkan pesanan mereka.
Sementara itu, di meja lain, masih di rumah makan tersebut.
Tampak Arga tengah asik menikmati makanan yang sudah ia pesan bersama salah seorang teman wanitanya.
"Bagaimana? Makanannya enak?" tanya Arga sambil menggoda wanita cantik itu.
__ADS_1
"Tentu saja, Mas Arga. Bukankah rumah makan ini terkenal dengan menunya yang enak-enak," jawab wanita itu sambil tersenyum lebar.
"Baguslah kalau begitu. Tapi, jangan lupa jatahku ya, Sayang." Arga mengedipkan matanya kepada wanita itu.
"Ish, Mas Arga masih ingat aja soal itu," sahut wanita cantik tersebut.
"So pasti!"
Arga terkekeh sembari mengedarkan pandangannya. Hingga kedua netranya menangkap seseorang yang benar-benar tak asing baginya.
"Bukankah itu ...." Arga kembali terdiam dengan tatapan yang masih fokus ke meja Risa dan Ayden.
"Siapa, Mas?" Wanita cantik yang menemani Arga pun ikut penasaran. Ia ikut menoleh dan memperhatikan sosok Risa dari kejauhan.
"Siapa lelaki itu? Apa mungkin dia —"
Ucapan Arga terhenti seketika saat lelaki yang duduk membelakanginya, berbalik ke arahnya.
"Ayden! Kurang ajar!" hardik Arga dengan wajah memerah. Ia bahkan refleks memukul meja dengan kepalan tangannya.
Ayden tersenyum ketika pelayan datang dengan membawa beberapa macam menu yang sudah ia pesan sebelumnya. Setelah menata makanan dan minuman tersebut, pelayan itu pun segera kembali ke belakang. Kini Risa dan Ayden bersiap menikmati makanan dan minuman tersebut.
Arga yang sudah tidak tahan melihat pemandangan itu, segera bangkit dan berniat menghampiri meja Risa dan Ayden. Namun, baru beberapa langkah ia meninggalkan meja makan, wanita cantik yang tadi menemaninya segera meraih tangan Arga dan berhasil menghentikan langkahnya.
"Mas Arga mau ke mana?"
"Tunggulah di sini sebentar. Aku ingin menemui mereka!" sahut Arga sembari menunjuk ke arah meja Risa dan Ayden.
__ADS_1
...***...