
Risa membaca deskripsi serta komentar para pembeli pada produk tersebut. Hingga akhirnya mata Risa pun terbelalak setelah tahu apa kegunaan dari obat yang dipesan oleh Arga barusan.
"Ya Tuhan! Untuk apa Mas Arga memesan obat itu? D-dan siapa yang hamil?" Tubuh Risa bergetar hebat. Konsentrasinya buyar seketika. Beruntung si kecil Lily sudah tertidur saat itu.
Perlahan Risa meletakkan kembali tubuh mungil Lily ke dalam keranjang bayinya kemudian kembali fokus pada ponsel Arga yang masih berada di genggamannya.
"Aku harus cari tahu ini. Harus!"
Risa yang sudah terlanjur penasaran, mencoba menjelajahi berbagai aplikasi lainnya di dalam ponsel Arga. Aplikasi chat, sosial media, dan tak ketinggalan galeri serta kumpulan video yang ada di dalam ponsel tersebut.
Saat ia berselancar di media sosial milik Arga, tidak ada yang mencurigakan di sana. Namun, ketika ia mengecek aplikasi chat Arga, ada satu nomor tanpa nama yang isi chat-nya bisa dikatakan cukup mesra. Saling tanya kabar dan saling peduli satu sama lain.
"Ya ampun, Mas Arga. Siapa wanita ini? Selama ini aku begitu mempercayai Mas Arga. Aku percaya dengan seluruh jiwa dan ragaku bahwa Mas tidak akan pernah bermain serong di belakangku. Aku pun tidak pernah curiga walaupun ponsel Mas Arga selalu dalam kondisi terkunci," gumam Risa dengan mata berkaca-kaca.
Tidak cukup sampai di situ. Penasaran Risa yang semakin memuncak, membuatnya nekat membuka koleksi galeri foto serta video milik Arga. Satu persatu koleksi foto Arga mulai terbuka dan di antara puluhan foto lelaki itu terselip sebuah foto tangan yang saling bertumpuk.
Foto tangan Arga yang menindih tangan mulus seorang wanita. Dan Risa begitu yakin foto tersebut di ambil di atas kasur dengan cover bad berwarna putih yang sudah acak-acakan. Jantung Risa semakin tak terkendali melihat foto tersebut. Napasnya semakin cepat dan tubuhnya terasa panas dingin.
"Ini tangan Mas Arga! Ya, aku yakin sekali!" gumam Risa. Risa memperhatikan tangan Arga yang tengah memeluk guling dengan seksama. Kemudian tatapannya beralih lagi ke layar ponsel, terus begitu hingga beberapa kali. Hingga akhirnya Risa yakin bahwa tangan yang sedang menindih tangan wanita itu adalah tangan Arga.
__ADS_1
Hati Risa hancur, sehancur-hancurnya. Foto tersebut membuat Risa semakin yakin bahwa Arga sudah mengkhianatinya dengan bermain serong di belakangnya.
"Pantas saja Mas Arga menolak menyentuhku. Mungkin selama ini ia sudah terpuaskan oleh wanita itu," ucap Risa pelan sambil terisak.
Di tengah kesedihannya, Risa kembali menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan. Yang hampir saja membuat jantungnya berhenti berdetak. Ia berhasil menemukan sebuah video yang sengaja di simpan dengan rapi oleh Arga di sebuah folder tanpa nama.
"A-apa ini?"
Risa memperhatikan sebuah video dengan durasi yang cukup panjang. Di mana ada seorang wanita muda dengan posisi menungging sedang mendesahh hebat. Rambut panjangnya yang hitam pekat tampak terurai. Sebagian rambut wanita itu tengah dicengkeram oleh laki-laki yang sedang memunggunginya sambil mengerang.
"Mas ... terus, Mas! Jangan berhenti!" racau wanita itu di sela dessahan hebatnya.
Risa kembali terisak karena ia sangat yakin bahwa pemeran lelaki yang sedang memunggungi wanita itu adalah Arga, suaminya. Ia begitu kenal suara dessahan yang keluar dari lelaki itu. Sekali pun wajah dan tubuhnya tidak terlihat sama sekali.
Bukan hanya itu, Risa pun seakan mengenali suara wanita yang tengah bercinta bersama Arga di dalam video. Namun, Risa tidak ingin menebak-nebak. Ia ingin melihat sendiri siapa wanita itu sebenarnya.
Hingga saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Di mana Arga meminta wanita itu untuk membalikkan badannya yang molek. Lagi-lagi Risa dibuat syok oleh video tersebut. Wanita yang tengah bercinta dengan hebat bersama suaminya itu adalah Monalisa, adik perempuannya.
"Mo-Mona! Ya, Tuhan!" pekik Risa.
__ADS_1
Mona tampak begitu menikmati percintaan panasnya bersama Arga, begitu pula lelaki itu. Ia tampak bersemangat meremass serta memelintir puncak bulatan kenyal milik Mona yang berwarna kemerahan.
"Mas, lebih cepat lagi!" titah Mona dengan mata terpejam.
"Baiklah, Sayang!" sahut Arga yang kemudian.
Terdengar suara kulit Arga dan Mona yang saling beradu dengan begitu cepat di dalam video tersebut. Bahkan kedua buah bulatan kenyal milik Mona yang padat berisi itu terus bergoyang seiring hentakkan dari Arga.
Risa tidak bisa menahan emosinya ketika harus menyaksikan bagaimana suaminya bercinta bersama adik perempuannya. Walaupun hanya melihatnya melalui video, tetapi rasa sakitnya tetap sama.
Risa segera bangkit dari tempat tidur kemudian berlari ke dalam kamar mandi. Risa menangis sejadi-jadinya di dalam ruangan itu. Mengeluarkan rasa kesal, kecewa, marah serta rasa sedihnya.
***
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05.00. Risa masih berada di dalam kamar mandi dengan tubuh yang lunglai. Perselingkuhan yang dilakukan oleh suami dan adik perempuannya, membuat jiwa Risa begitu terguncang.
Namun, ia tidak akan menyerah pada takdir. Ia ingin membuktikan kepada pasangan itu bahwa dirinya masih mampu berdiri walaupun mereka sudah menusuknya dari belakang.
"Hidup harus terus berjalan, Risa. Kamu harus kuat demi Lily. Ya, hanya demi Lily!" gumam Risa, mencoba menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Risa yang tadinya bersandar di dinding kamar mandi, kini bangkit kemudian mencuci wajahnya hingga terasa lebih segar.
...***...