Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Kabar Baik Dari Oma


__ADS_3

"Tapi, Mas. Aku rasa ini terlalu cepat. Aku bahkan belum bercerai secara resmi dengan Mas Arga," ucap Risa dengan wajah bingung.


"Sekarang aku bertanya padamu, Ris, apakah kamu serius ingin bercerai dengan Mas Arga? Jawab dengan jujur, dari hatimu yang paling dalam," tanya Ayden sembari menyentuh pundak Risa.


Risa terdiam sejenak dengan tatapan yang masih tertuju pada Ayden. "Ya. Aku memang sudah tidak memiliki keinginan untuk kembali kepada Mas Arga. Selain perbuatannya yang tidak bisa dimaafkan, dia pun sudah memberi talak tiga padaku dan itu artinya aku dan mas Arga sudah tidak bisa bersama lagi, kecuali ...."


"Ya, aku mengerti. Dan jika kamu bersedia, aku bisa membantumu mengurus surat-surat perceraianmu," sambung Ayden.


"Tapi, Mas ...."


"Kamu tenang saja, Ris. Aku tulus ingin membantumu. Terlepas kamu mau menerima lamaranku atau tidak. Aku akan selalu berada di sisimu dan mendukung semua keputusanmu," jawab Ayden sambil tersenyum.


Tanpa disadari oleh keduanya, Oma tiba di ruangan itu kemudian menghampiri mereka. "Ayden, biar Oma bicara sama Risa," ucap Oma Hana seraya menyentuh pundak Ayden.


Ayden tersentak kaget kemudian mundur beberapa langkah ke belakang setelah tahu siapa yang sedang mengajaknya bicara. Ia juga menarik kembali cincin lamarannya lalu menyimpan benda mungil itu ke dalam saku celana.


"Baik, Oma."


Ayden menghampiri Risa kemudian meraih bayi Lily dari pelukan Risa. "Biar Lily bersamaku. Kalian bicaralah," ucap Ayden.


"Terima kasih, Mas."


Sementara Oma mengajak Risa bicara empat mata, Ayden membawa bayi Lily ke depan.


"Kemarilah, Risa."


Risa pun menurut saja. Ia mengikuti langkah Oma yang kini menuntunnya ke sebuah sofa lalu duduk di sana.


"Ada apa, Oma?"


"Ris, Oma sudah tahu semuanya, tentang kamu dan Ayden." Oma Hana meraih tangan Risa sembari menatap wanita muda itu dengan begitu serius. "Sekarang Oma tanya sama kamu. Apa kamu masih memiliki perasaan sama Ayden?"

__ADS_1


"Aku akui, Oma. Mas Ayden adalah cinta pertamaku. Namun, setelah aku memutuskan untuk menerima lamaran Mas Arga, aku sempat mengubur perasaan itu dalam-dalam. Bahkan hingga saat ini pun aku masih menghindari rasa itu. Aku tidak ingin terlalu berharap, Oma. Secara aku dan Mas Ayden itu sudah berbeda." Risa menundukkan kepalanya.


"Selain itu, aku juga merasa malu, Oma. Aku rela meninggalkan Mas Ayden demi menuruti keinginan kedua orang tuaku, menikah dengan Mas Arga."


"Oma mengerti bagaimana posisimu, tapi kamu belum menjawab pertanyaan Oma, Risa. Apa kamu masih memiliki perasaan sama Ayden?" tanya Oma Hana sekali lagi.


Risa terdiam sejenak dengan kepala tertunduk.


"Ris?"


Risa mengangkat kepalanya kemudian membalas tatapan Oma Hana. "Sebenarnya aku ...."


Oma Hana tersenyum lebar setelah melihat wajah Risa yang tampak memerah. Tanpa dijawab pun, wanita paruh baya itu sudah tahu bagaimana perasaan Risa yang sebenarnya.


"Baiklah, tidak usah dijawab. Oma sudah tahu apa jawabanmu."


"Memang jawaban aku apa, Oma?" tanya Risa balik.


"Maafkan aku, Oma." Risa tertunduk malu.


"Kenapa harus minta maaf, Ris? Sekarang Oma mewakili Ayden, apakah kamu bersedia menerima lamaran Ayden?"


Risa kembali terdiam untuk beberapa saat. Kini tatapannya tertuju pada Ayden yang sedang menggendong bayi Lily, dari kejauhan. Tampak Ayden begitu cekatan memomong bayi mungil tersebut, Selain itu, Lily pun terlihat begitu senang. Terdengar dari suara tawa kecilnya yang begitu lepas.


"Ris, Oma berani menjamin bahwa Ayden adalah lelaki yang begitu bertanggung jawab. Dia tidak akan mengkhianatimu seperti yang dilakukan oleh mantan suamimu. Sekarang lihatlah Lily ... dia begitu bahagia saat bersama Ayden. Kata orang dulu, perasaan anak kecil itu jauh lebih sensitif dari pada perasaan orang dewasa. Mereka tahu mana yang tulus dan mana yang tidak," tutur Oma.


Benar saja, bayi Lily begitu nyaman dan tidak hentinya berceloteh serta tertawa riang ketika bersama Ayden. Walaupun Ayden belum pernah punya anak. Namun, insting serta nalurinya sebagai seorang ayah, bahkan jauh lebih besar dari sosok Arga yang merupakan ayah kandung Lily.


Risa kembali menoleh ke arah Oma Hana. "Tapi bagaimana dengan mommy-nya, Oma. Aku yakin beliau tidak akan pernah merestui hubungan kami. Secara aku ...." Risa menghembuskan napas berat.


"Ah, kalau soal itu kamu tenang saja, Ris. Aku yang akan mengajaknya bicara dan aku pastikan padamu, sebentar lagi mommy Ayden akan mengundangmu ke rumahnya," jawab Oma dengan mantap.

__ADS_1


Risa masih diam dan wajahnya masih tampak bimbang.


"Bagaimana? Apa kamu bersedia menerima lamaran Ayden?"


"Aku —"


Belum habis Risa berkata-kata, Oma Hana sudah berteriak kegirangan. Ia berteriak memanggil nama Ayden. Ternyata bukan hanya Ayden yang refleks datang ke ruangan itu, Rachel yang tidak ada sangkut pautnya pun ikut menghampiri Oma dan Risa.


"Ada apa, Oma?" tanya Rachel dan Ayden secara bersamaan.


Oma melirik Rachel sambil menautkan kedua alisnya. "Kamu ngapain? Emang Oma tadi manggil kamu?"


Rachel menekuk wajahnya kemudian duduk di samping wanita paruh baya itu.


"Ay, Oma punya kabar baik untukmu. Tadi Oma sudah bicara panjang lebar bersama Risa dan kamu tau apa keputusan Risa?" ucap Oma Hana dengan wajah semringah.


"Apa itu, Oma?" tanya Ayden dengan begitu antusias. Sementara Rachel ikut memasang telinganya dengan baik. Ia pun tidak ingin ketinggalan berita baik yang akan disampaikan oleh Oma-nya tersebut.


"Risa bersedia menerima lamaranmu," jawab Oma Hana.


Rachel berteriak kegirangan kemudian duduk di samping Risa sembari memeluknya dengan erat. "Selamat ya, Ris! Ahh, aku turut bahagia mendengarnya!"


Begitu pula Ayden. Lelaki itu hanya bisa tersenyum lebar tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Matanya membulat dan terus tertuju pada Risa. Sementara Risa masih bingung, ia tidak menyangka bahwa Oma bisa menyimpulkan ucapannya padahal ia belum selesai berbicara.


Namun, setelah melihat ekspresi semua orang di ruangan itu, Risa pun tidak tega untuk mengelaknya. Terlebih melihat ekspresi Ayden yang begitu bahagia. Tidak mungkin ia merusak kebahagiaan lelaki itu untuk kesekian kalinya.


"Benarkah itu, Risa?" tanya Ayden dengan mata berkaca-kaca menatap Risa.


Dengan terpaksa Risa pun menganggukkan kepalanya.


"Cieee!" goda Rachel sembari memeluk Risa untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2