
"Risa?" Tiba-tiba terdengar suara bariton seorang laki-laki dari belakang Risa. Risa segera menoleh kemudian menatap lelaki itu lekat.
"Mas Ayden?"
Risa tersenyum kecut, mengingat lelaki yang tengah berdiri di sampingnya itu pernah menjadi sosok masa lalu sebelum ia memutuskan menikah dengan Arga. Lelaki yang memiliki darah campuran antara Indo-Eropa. Ibu dari Indonesia dan ayah yang berasal dari negara eropa. Walaupun begitu, bentuk wajahnya terlihat lebih condong ke Indonesia.
Dengan cepat Risa membersihkan sisa-sisa buliran air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Ia tidak ingin lelaki itu tahu bahwa saat ini ia tengah bersedih.
"Oh, syukurlah. Aku pikir sudah salah orang," ucap lelaki itu sambil tersenyum hangat.
"Ngomong-ngomong di mana suamimu?" Ayden melihat sekeliling taman, mencoba mencari keberadaan Arga. Namun, ia tetap tidak menemukan keberadaan lelaki itu.
"Dia tidak ada di sini. Aku hanya berdua bersama anakku," jawab Risa dengan kepala tertunduk.
Entah mengapa ia malu bertemu dengan Ayden. Mengingat penampilannya yang semakin acak-acakan dan tidak terawat. Tubuhnya pun terlihat semakin kurus saja.
"Oh, aku pikir kamu sama Mas Arga. Ehm, boleh aku duduk di sini?" tanya Ayden tampak berbasa-basi.
Risa mengangguk pelan sembari menggeser bokongnya. Memberikan ruang kosong untuk Ayden duduk di sana. "Silakan, Mas."
"Terima kasih."
Ayden duduk di samping Risa tanpa merasa sungkan sedikit pun. Ia kembali memperhatikan wanita itu dengan seksama dan entah mengapa ia merasa banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri Risa.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ayden, tampak penasaran.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja, Mas. Bagaimana kabarmu? Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu." Risa memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk beberapa saat dan menatap Ayden, sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Aku baik dan kamu benar, sudah lama sekali kita tidak bertemu."
Ayden tersenyum lagi dan kini tatapan lelaki itu berpindah kepada bayi Lily yang sejak tadi terus menatapnya sambil tersenyum. Memperlihatkan gusinya yang masih licin, tanpa ditumbuhi gigi.
"Ini anakmu? Cantik sekali. Siapa namanya?" tanya Ayden seraya meraih tangan bayi mungil tersebut.
"Ya, dia anakku. Namanya Lily," jawab Risa.
"Boleh aku menggendongnya? Lihat, dia mengulurkan kedua tangannya kepadaku," seru lelaki itu.
Risa memperhatikan bayi Lily dan ternyata apa yang dikatakan oleh Ayden benar. Entah kenapa bayi mungil itu mengulurkan kedua tangannya kepada Ayden, seolah-olah meminta untuk digendong. Bukan hanya itu, raut wajah Lily pun terlihat lebih ceria dari biasanya. Padahal Lily paling anti dengan orang yang baru dilihatnya, tetapi hal itu sepertinya tidak berlaku bagi Ayden.
Perlahan Risa menyerahkan bayi mungilnya itu kepada Ayden dan disambut dengan antusias oleh lelaki tersebut. Tanpa disadari, Risa tersenyum haru ketika melihat bayi mungilnya tampak begitu bahagia berada di pelukan Ayden. Selain itu, Ayden pun tampak nyaman saat bersama Lily.
Risa terdiam sejenak. Raut wajahnya berubah menjadi sendu. Jangankan merasa bahagia, Arga bahkan menganggap kehadiran Lily sebagai beban di kehidupan lelaki itu. Namun, Risa tidak ingin Ayden tahu bagaimana kisah hidupnya bersama Arga.
"Ya. Seperti itu lah," jawab Risa singkat.
Arga kembali memperhatikan raut wajah Risa. "Ris, maafkan aku jika terlalu lancang. Sejak tadi aku perhatikan wajahmu tampak sedih. Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Apa kamu sedang dalam masalah?"
Risa refleks menoleh ke arah Ayden kemudian tersenyum kecut. "A-aku baik-baik saja, Mas."
"Oh, ayolah, Ris. Jangan bohong! Aku sudah lama mengenalmu dan aku tahu saat ini kamu sedang ada masalah. Katakan padaku, apa kamu sedang sakit?"
__ADS_1
Risa menautkan kedua alisnya. "Sakit? Tidak, Mas. Aku tidak sedang sakit. Aku tahu Mas tanya begitu karena tubuhku yang semakin kurus ini, 'kan?" jawab Risa sambil terkekeh pelan.
Ayden menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bukan karena itu. Aku melihatmu menangis sambil berlarian di lorong Rumah Sakit X. Kamu bahkan tidak sadar kalau kamu sudah menabrakku hingga ponselku terjatuh," tutur Ayden sembari memperlihatkan ponsel miliknya yang terjatuh karena bertabrakan dengan Risa beberapa hari yang lalu.
"Oh, astaga! Benarkah? Ja-jadi yang aku tabrak kemarin itu Mas Ayden?" tanya Risa dengan mata membulat sempurna.
Ayden tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Risa memperhatikan ponsel milik lelaki itu dan ternyata benar. Tampak layar ponsel tersebut retak hingga Risa pun merasa bersalah karenanya.
"Maafkan aku, Mas. Sumpah, aku tidak sengaja. Dan soal ponselmu ... nanti kalau aku sudah punya uang, akan kuganti kerusakan itu," lirih Risa.
Ayden terkekeh. "Tidak apa, Ris. Kamu tidak usah khawatir soal benda ini. Tapi, jika kamu memang ingin menggantikan biaya kerusakannya, aku tidak akan menolak. Ya, hitung-hitung biar bisa bertemu lagi denganmu," celetuknya.
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku, Risa. Apa kamu sedang sakit?" lanjut Ayden.
"Tidak, Mas. Aku baik-baik saja. Kemarin itu Mona lah yang sedang sakit, bukan aku," jawab Risa.
"Mona? Adik perempuanmu?"
"Ya, adik perempuanku," lirih Risa.
Mendengar nama Mona disebutkan, dada Risa tiba-tiba kembali sesak. Perbuatan gadis itu sudah membuat kehidupannya benar-benar hancur dan sulit bagi Risa untuk memaafkan kesalahannya.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Trus, bagaimana kondisi Mona saat ini?"
__ADS_1
"Dia sudah sehat," jawab Risa singkat.
...***...