Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Moment Penuh Haru


__ADS_3

Tidak berselang lama Pak Guntur pun tiba di kediamannya. Ia bergegas pulang setelah mendengar bahwa sang istri sudah menemukan anak perempuan pertamanya.


"Ara, di mana dia?" Baru saja tiba di ruang utama, Pak Guntur sudah bertanya-tanya soal anak mereka kepada Bu Ara. Wajah lelaki paruh baya itu tampak semringah dan ia begitu bahagia mendengar kabar tersebut.


Pak Guntur menatap satu persatu wajah-wajah mereka yang sedang berkumpul di ruangan itu secara bergantian. Hingga tatapannya terfokus pada sosok wanita muda yang sedang menggendong seorang bayi mungil.


"Kemarilah, Yah." Bu Ara meraih tangan Pak Guntur yang mematung menatap Risa. Ia menuntun suaminya itu agar duduk di sampingnya.


"Ayah, ini Risa. Anak perempuan kita yang dulu ibu titipkan di panti asuhan," ucap Bu Ara sambil menitikkan air mata.


Pak Guntur begitu bahagia karena akhirnya ia bisa melihat bagaimana rupa anak perempuannya yang selama ini begitu ia rindukan.


"Terima kasih Tuhan, karena sudah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan anak kami," gumamnya sambil tersenyum penuh haru.


Bu Ara dan Pak Guntur mulai menceritakan semuanya kepada Risa. Cerita yang sama seperti yang diceritakan oleh Bu Ara kepada Renatta sebelumnya. Risa dan Ayden mendengarkan cerita pasangan itu dengan seksama. Yang tadinya masih ada keraguan di hati Risa, kini menjadi yakin sepenuhnya bahwa Bu Ara Widya dan Pak Guntur Gunawan adalah orang tua kandungnya.


"Kenapa kalian tidak mencoba mencari keberadaanku, Bu?" tanya Risa dengan wajah sedih.


"Sudah, Nak. Sudah berbagai cara kami lakukan untuk menemukanmu. Namun, semua usaha kami sia-sia," sahut Pak Guntur.


Risa bangkit dari posisinya kemudian menyerahkan bayi Lily kepada Ayden. Setelah Ayden menyambut bayi mungilnya tersebut, ia pun segera menghampiri Bu Ara dan Pak Guntur.


"Jujur, hari ini aku sangat bahagia sekali karena sudah berhasil menemukan keberadaan kalian," ucap Risa sembari meraih tangan Bu Ara dan Pak Guntur lalu menciuminya.


Bu Ara yang sudah lama menyimpan kerinduan mendalam terhadap anak pertamanya itu, segera memeluk serta menciumi wajah Risa tanpa ada yang terlewati sedikit pun.


"Ibu juga, Nak. Ibu begitu bahagia! Sangat-sangat bahagia!" balas Bu Ara.


Sementara Bu Ara, Pak Guntur dan Risa saling melepas rindu di ruangan itu, Renatta yang sejak tadi hanya diam dan hanya menjadi penonton, kini bangkit dari posisi duduknya.


"Aku harus ke kamar kecil!" ucapnya singkat sembari melenggang pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Risa tersentak kaget dan memperhatikan Renatta yang pergi menjauh hingga menghilang dari pandangannya.


"Sudah, tidak apa-apa, Nak. Mungkin Renatta hanya sedikit syok karena semua ini terjadi begitu tiba-tiba. Namun, Ibu yakin sekali dia pasti bisa menerimamu," ucap Bu Ara.


Risa pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Semoga saja, Bu."


"Ayden!" Pak Guntur menghampiri Ayden yang sedang menggendong bayi Lily dengan wajah semringah. "Takdir Tuhan itu tak ada yang tahu. Lihatlah, kamu akan tetap menjadi menantuku walaupun bukan bersama Renatta, melainkan menjadi suami dari anak pertamaku, Risa."


Ayden tertawa pelan. Ia pun baru sadar bahwa ternyata takdirnya memang sudah tertulis untuk menjadi menantu dari Pak Guntur. "Anda benar sekali, Om!"


"Oh, cucuku! Kemarilah, Sayang!" Pak Guntur meraih Lily dari pelukan Ayden kemudian memeluk dan menciuminya dengan penuh kasih sayang.


"Lihatlah, Bu! Siapa sangka bahwa selama ini kita sudah memiliki cucu secantik ini," ucap Pak Guntur kepada Bu Ara. .


Bu Ara pun bergegas menghampiri Pak Guntur dan meraih Lily dari pelukan suaminya itu. "Ya Tuhan, Cucuku! Maafkan Nenek," ucapnya sambil terisak.


"Apa kamu tahu, Nak. Pertama kali Ibu melihat matanya, Ibu seperti melihat dirimu saat masih bayi. Biar bagaimanapun, bayanganmu, wajah kecilmu, bibir mungilmu, selalu menghantui pikiran Ibu selama ini," sambung Bu Ara.


Renatta duduk di tepian ranjang dengan tatapan kosong menerawang menatap dinding kamarnya. Wajahnya tampak dingin, tak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria. Setelah beberapa jam terdiam di ruangan itu, Renatta pun akhirnya bangkit dan melangkah menghampiri pintu kamarnya yang sejak tadi terkunci rapat.


Di ruang utama.


"Ya ampun, Nak. Ibu masih kangen sama kamu dan juga cucu Ibu. Tidak bisakah kamu tinggal di sini bersama kami? Setidaknya menginaplah untuk beberapa hari saja," lirih Bu Ara dengan mata berkaca-kaca.


"Pasti, Bu. Tapi tidak sekarang. Soalnya semua barang-barangku masih ada di kediaman Oma dan aku pun harus berpamitan dulu sama beliau. Kalau tidak, Oma pasti akan merajuk," sahut Risa sambil tertawa kecil.


"Ya sudah kalau begitu. Tapi berjanjilah bahwa kamu akan tinggal di sini bersama kami, sebelum Ayden sah menjadi suamimu dan membawa kalian bersamanya," lanjut Bu Ara dengan wajah memelas.


"Iya, Tante. Tante tenang saja," sela Ayden sambil merengkuh pundak Risa.


"Kami pamit dulu ya, Bu."

__ADS_1


"Ya, hati-hati ya, Nak."


Walaupun sebenarnya Bu Ara dan Pak Guntur enggan melepaskan kepergian Risa dan Lily saat itu, tetapi mereka tidak dapat menahannya. Biar bagaimanapun Risa harus kembali ke kediaman Oma Hana, setidaknya untuk berpamitan kepada wanita paruh baya yang baik hati itu.


Baru saja Risa dan Ayden melangkahkan kaki mereka meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba Renatta menghadang langkah mereka dengan raut wajah datarnya. Ia menatap Risa lekat, dengan tatapan yang tampak tak bersahabat.


Risa menarik napas dalam kemudian menghembuskannya kembali. Risa mencoba melemparkan senyum kepada Renatta walaupun ia tahu bahwa gadis itu sama sekali tidak menyukai dirinya. Apalagi harus menerima dirinya sebagai seorang kakak.


Bukannya membalas senyuman yang dilemparkan oleh Risa, Renatta malah semakin menekuk wajahnya. Ayden yang sejak tadi berdiri di samping Risa, meraih tangan calon istrinya itu kemudian menuntunnya kembali melewati Renatta yang menghalangi langkah mereka.


"Mbak Risa, tunggu!" panggil Renatta, setelah Risa dan Ayden melewatinya.


Risa menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap gadis itu. Tanpa disangka, Renatta malah berlari kemudian memeluk Risa sambil menitikkan air mata.


"Mbak Risa, maafkan aku!" ucapnya.


"Re-Renatta? Kenapa kamu harus meminta maaf kepadaku?" sahut Risa sembari melerai pelukan mereka.


"Karena selama ini aku selalu bersikap buruk terhadapmu," jawab Renatta, dengan wajah sedih menatap Risa.


"Tidak apa, Renatta."


Renatta menghampiri Ayden yang saat itu masih menggendong bayi Lily. "Mas Ayden, tolong jaga kakak dan keponakanku, sebab mereka pantas untuk bahagia," ucapnya dengan mata berkaca-kaca menatap Ayden.


"Tentu saja, Renatta. Terima kasih atas pengertiannya," sahut Ayden dengan wajah semringah.


Bukan hanya Risa dan Ayden yang begitu bahagia melihat reaksi Renatta, Pak Guntur dan Bu Ara pun tak kalah bahagianya.


"Ibu bangga padamu, Renatta," ucap Bu Ara.


...***...

__ADS_1


__ADS_2