
"Akhirnya aku sah juga jadi istrinya Mas Arga." Mona menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk di kamar utama. Kamar yang ditempati oleh Risa dan Arga sebelumnya dan sekarang menjadi kamarnya.
Tidak berselang lama Arga masuk ke dalam ruangan itu sambil melepaskan jas serta kemeja yang sedang ia kenakan. Mona bergegas bangkit kemudian menghampiri Arga yang kini berdiri di depan cermin rias.
"Mas tau? Saat ini aku senang sekali! Akhirnya Mas Arga sudah sah menjadi suamiku," celetuk Mona sambil memeluk tubuh kekar Arga dari belakang.
Arga melemparkan kemejanya secara sembarang ke salah satu sudut ruangan kemudian berbalik menatap Mona sambil tersenyum sinis.
"Sekarang kamu puas 'kan, Mona? Asal kamu tahu! Aku sama sekali tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Aku menikahimu hanya karena desakan dari ayah dan ibumu dan aku tidak bisa mengelak karena bayi yang tak pernah kuinginkan itu masih hidup di dalam perutmu!" sahut Arga dengan wajah geram.
Mona menekuk wajahnya. "Kenapa Mas tega berkata seperti itu? Ini 'kan sudah jadi tanggung jawabnya Mas. Lagi pula bayi ini 'kan bayinya Mas juga!" balas Mona tak mau kalah.
"Siapa yang tahu, Mona? Apakah kamu sudah lupa bahwa kamu sudah tidak perawan saat pertama kali bercinta denganku?"
"Kenapa Mas terus-menerus berkata seperti itu? Ya, aku memang sudah tidak perawan tetapi aku bisa pastikan bahwa bayi ini milikmu Mas Arga!" kesal Mona.
"Benarkah?" Arga kembali tersenyum sinis kemudian pergi meninggalkan Mona yang semakin kesal ke kamar mandi.
"Hhhh!" kesal Mona sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kamar.
Arga sama sekali tidak peduli apa pun yang dilakukan oleh Mona. Ia masuk kemudian melakukan ritual mandinya di ruangan itu.
"Awas saja kamu, Mas Arga! Aku tidak akan pernah membiarkan kamu merusak acara malam pertama kita sebagai suami istri," geramnya.
Selang beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Arga keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Lelaki itu berjalan menghampiri lemari pakaian sambil mengeringkan rambut hitamnya dengan menggunakan handuk.
Tanpa ia sadari, Mona sudah mengganti kebaya pengantinnya dengan lingerie seksi berwarna hitam transparan. Sementara Arga masih sibuk memilih baju tidurnya, Mona datang mendekat kepada Arga sambil tersenyum menggoda.
"Mas, kamu tidak lupa 'kan kalau malam ini adalah malam pertama kita sebagai suami istri? Aku berjanji malam ini akan memuaskanmu," bisik Mona di samping telinga Arga.
Arga hanya diam dengan ekspresi dingin dan membiarkan Mona terus menggodanya.
Kedua tangan wanita itu menyusup ke sela-sela pinggang Arga. Ia melepaskan handuk yang melilit di pinggang Arga kemudian melemparkannya ke sembarang tempat. Kini tubuh Arga terlihat polos dengan junior yang menggantung di bawahnya.
Mona mulai melancarkan aksinya. Ia meraih benda tumpul itu kemudian menggerakkan tangannya naik dan turun dengan ritme yang teratur. Walaupun Arga tampak acuh, tetapi tidak juniornya. Benda tumpul itu mulai bangkit dan berdiri tegak setelah mendapatkan sentuhan dari wanita bertubuh seksi itu.
"Benarkah kamu menginginkan ini, Mona?" Arga mulai bersuara sambil menyeringai.
Mona tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. "Ya, aku tidak ingin melewatkan malam pertama kita, Mas."
Mona merasa bangga karena berhasil menaklukkan hati suaminya lagi. Namun, tidak dengan Arga. Lelaki itu masih kesal dan ia ingin melampiaskan kekesalannya kepada wanita itu. Arga membuka nakas kemudian meraih sebuah botol berisi pil kuat berwarna biru.
"Bukan kamu yang akan memuaskanku, Mona. Tetapi aku yang akan memuaskanmu hingga kamu tidak bisa berkata apa-apa lagi!" ucap Arga seraya memasukkan pil berwarna biru itu ke dalam mulutnya.
"Bukan kah itu pil—"
"Ya, pil kuat! Pil yang dapat membuat aku kuat, sekuat kuda jantan!" sela Arga sambil menyeringai.
Arga bergegas menaiki tubuh Mona dan mengarahkan benda tumpulnya ke wajah wanita itu. "Ayo lakukan, Mona!"
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Mona meraih benda tumpul itu dan memainkannya dengan tangan serta bibirnya. Sesekali ia mengulum benda itu dan menjilatinya dengan begitu liar.
"Eummm, akh! Lakukan lah, pela**r! Lakukan lebih panas lagi!" racau Arga sambil mencengkram erat rambut Mona dan mendorongnya jauh lebih dalam lagi.
Mona tersentak kaget karena Arga menyebutnya dengan sebutan yang tidak pantas diucapkan oleh lelaki itu. Apalagi sekarang status mereka sudah sah sebagai suami-istri. Mona ingin berontak. Namun, dorongan kuat Arga membuat ia tidak bisa bergerak karena benda tumpul itu berhasil memenuhi mulutnya.
"Ayo, ja**ng! Bukankah kamu begitu menginginkan ini? Sekarang lakukanlah dengan baik dan jangan kecewakan aku," sambung Arga dengan mata terpejam, menikmati permainan Mona.
Beberapa menit kemudian.
Arga yang sudah puas melepaskan cengkeramannya. Mona menyeka bibirnya kemudian menatap Arga dengan tatapan kesal.
"Kenapa Mas terus-menerus memanggilku dengan sebutan itu? Aku bukan ja**ng, Mas!" kesal Mona.
Arga tersenyum sinis. "Kalau bukan ja**ng, lalu aku harus menyebutmu dengan sebutan apa? Lon*e atau pela**r?"
"Mas Arga hentikan!" geram Mona.
Mona yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, berniat menjauhi Arga. Namun, dengan secepat kilat Arga meraih tangan Mona dan menariknya dengan sangat kasar.
"Kamu mau ke mana, ha? Pergi? Hohoho, tidak semudah itu, Mona! Kamu sudah membuat hasratku bangkit dan kamu harus bertanggung jawab karenanya!"
Arga kembali menarik tangan Mona hingga wanita itu jatuh ke atas tempat tidur. Lelaki itu segera menindihnya dan melakukan hubungan itu dengan begitu kasar.
"Mas, pelan-pelan! Aku 'kan sedang hamil!" lirih Mona sambil menahan tubuh Arga yang bergerak dengan liar di atasnya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Pokoknya malam ini kamu harus memuaskan aku," jawab Arga.
...***...