Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Risa Dan Ayden


__ADS_3

Pesta pernikahan meriah itu pun akhirnya selesai. Pasangan pengantin yang tengah berbahagia itu sudah berada di sebuah kamar hotel, di mana mereka akan melewati malam spesial mereka.


"Sayang, kamu sudah selesai?" tanya Ayden sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Wajah lelaki itu tampak pucat dan tubuhnya terus saja mengeluarkan keringat dingin padahal AC di dalam ruangan itu masih dalam kondisi on.


"Iya, Mas. Sebentar lagi!" Terdengar suara Risa dari dalam kamar mandi.


Ayden menghela napas berat kemudian bersandar di dinding dekat pintu dengan wajah cemas. Tidak berselang lama, terdengar suara Risa yang tengah mencoba membuka pintu tersebut. Auden menegakkan badannya kemudian menunggu istrinya itu keluar dari kamar mandi.


Ceklek!


Tampak Risa yang tengah melemparkan senyum manis kepada Ayden. Risa terlihat begitu cantik dengan balutan lingerie seksi berwarna merah menyala. Bahkan bibir dan kuku-kukunya pun diberikan warna senada dengan lingerie yang ia kenakan saat itu.


"Sa-sayang?" Ayden menelan salivanya dengan mata melotot menatap Risa. Jantungnya tiba-tiba berdetak dengan begitu cepat, membuat lutut dan kakinya jadi lemas.


"Bagaimana menurutmu, apa aku terlihat cantik?"


Risa menghampiri Ayden yang mematung lalu membelai lembut pipi lelaki itu dan menciumnya. Bukannya membalas ciuman Risa, lelaki itu malah semakin menegang dengan tubuh kaku di samping Risa.


"Kamu kenapa, Mas?" tanya Risa heran.


"A-aku gugup, Sayang," sahutnya dengan terbata-bata.


Risa tertawa pelan kemudian menuntun suaminya itu menuju ranjang mereka yang dipenuhi oleh kelopak bunga mawar. Risa mendorong pelan tubuh Ayden hingga lelaki itu terduduk di sana, masih dengan mata melotot menatap Risa.


"I-ini malam pertama buatku dan aku tidak tahu apakah aku bisa melakukannya," ucap Ayden lagi.


Risa duduk tepat di hadapan Ayden lalu mendongakkan kepala sambil meletakkan tangannya ke kedua belah paha suaminya itu.

__ADS_1


"Kenapa tidak bisa?" goda Risa sembari mengelus lembut kedua paha lelaki itu.


"Setelah putus denganmu, aku memutuskan untuk fokus pada pekerjaanku hingga aku tidak pernah terpikirkan untuk melakukan hal semacam ini, Ris. Jujur a-aku khawatir. Aku takut tidak bisa memuaskan dirimu," tutur Ayden, masih dengan wajah tegangnya.


Risa terkekeh pelan. "Kalau begitu, biarlah aku menjadi gurumu malam ini, bagaimana?"


Walaupun ragu sekaligus malu, Ayden pun terpaksa menganggukkan kepalanya. Apalagi ia tidak bisa menampik bahwa juniornya sudah mulai terasa berkedut-kedut di bawah sana.


"Ba-baiklah."


Risa membuka jubah transparan yang menutupi lingerie seksinya. Setelah lingerie itu terlepas, Risa pun mulai melorotkan celana kain yang tengah di kenakan oleh Ayden saat itu.


Risa tersenyum sambil melirik Ayden setelah melihat gundukan junior milik lelaki itu sudah menegang. "Sepertinya dia sudah tegang, Mas. Seperti wajah tampan Mas yang menegang saat ini," goda Risa.


Ayden tersenyum kecut dan dengan sekuat tenaga menahan tubuhnya agar tidak gemetar. Tangan lincah Risa mulai membelai gundukan itu dan hanya dalam hitungan detik saja, gundukan itu sudah keluar dari persembunyiannya.


Ayden memejamkan mata. Wajah lelaki itu tampak memerah menahan malu karena ternyata juniornya lebih berani menantang Risa dibandingkan dirinya.


"Baiklah, biar aku servis dulu ya, Mas," bisik Risa sembari meraih benda itu.


Tak terdengar jawaban dari Ayden dan Risa sudah memulai aksi nakalnya. Ia menggerak-gerakkan tangannya turun dan naik sementara bagian ujung benda berurat itu sudah masuk ke dalam mulut Risa.


"Eummmhh!" Risa menikmati saat-saat itu dengan mata terpejam.


Sementara Ayden sudah tidak dapat berkata-kata lagi karena yang dilakukan oleh Risa di bawah sana, berhasil membuatnya bungkam dan kehilangan kata-kata. Lelaki itu hanya bisa mendesis penuh nikmat.


Beberapa saat kemudian.


"Sa-sayang! Se-sepertinya aku, akhhh!"

__ADS_1


Ayden mengerang hebat dengan tubuh yang ikut mengejang. Benda berurat itu akhirnya menyemburkan sebuah cairan kental berwarna putih untuk pertama kalinya. Cairan itu menyembur dan mengenai tubuh Risa.


"Bagaimana, Mas? Enak?" tanya Risa sambil tersenyum puas.


Ayden yang masih terengah-engah, menganggukkan kepalanya. "Enak sekali, Sayang."


Risa bangkit dari posisinya kemudian melepaskan lingerie seksi yang masih membalut tubuhnya. Mata Ayden terbelalak melihat dua bulatan kenyal milik Risa yang kini terlihat tanpa sensor sedikit pun di hadapan matanya.


"Aku akan berikan kenikmatan yang lebih dari itu, Mas."


Tanpa basa-basi, Risa mendorong tubuh Ayden yang masih terpaku hingga jatuh ke atas tempat tidur. Ia menindih lelaki itu dan mulai memasukkan benda berurat tersebut ke dalam area pribadinya.


"Aakhhh!" Ayden memekik nikmat ketika area pribadi Risa berhasil menelan miliknya dengan sempurna. Ini pertama kalinya Ayden merasakan kenikmatan tiada tara, yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


Risa bermain liar di atas tubuh Ayden sambil sesekali meremass kedua bulatannya. Ayden yang penasaran, mulai memberanikan diri menyentuh dan memainkan benda kenyal itu dengan lidahnya.


"Ya ampun, nikmat sekali!" racaunya.


Risa memacu tubuhnya dengan begitu semangat hingga keringat pun terus mengucur meski ruangan itu full AC.


Setelah beberapa menit, Ayden mulai berani mengambil alih. Ia menjatuhkan tubuh Risa dan sekarang posisi mereka saling bertukar. Dengan hanya menggunakan instingnya sebagai seorang lelaki, Ayden mulai menguasai tubuh istrinya itu.


Hingga beberapa menit kemudian, mereka pun mengerang bersama-sama. "Aaarghhh!"


Ayden jatuh di samping tubuh Risa. Ia tersenyum menatap wanita itu sambil mencoba menetralkan napasnya yang masih memburu.


"Apa aku sudah berhasil memuaskanmu?" tanya Ayden di sela deru napasnya.


Risa menganggukkan kepalanya pelan. "Sudah, Mas. Selamat, kamu sudah bukan perjaka lagi," sahut Risa sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ya, karena keperjakaanku sudah berhasil kamu rebut." Ayden ikut terkekeh lalu membenamkan wajahnya di tubuh polos Risa.


...***...


__ADS_2