
"Ris, kamu ngapain di sini? Dan di mana suami kamu?" tanya Ayden sambil sesekali melirik Risa yang duduk di sampingnya dengan wajah bingung.
"Ehm, aku ...." Risa tersenyum kecut. Bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan Ayden.
"Eh, Mas. Turunkan aku di sini saja. Lagi pula bapak-bapak itu sudah tidak bisa melihat kita di sini," potong Risa. Sengaja mengalihkan topik pembicaraan Ayden.
Ayden menghembuskan napas berat sembari mengurangi kecepatan mobilnya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku, Risa. Dan aku tidak akan menurunkan kamu di sini, sebelum kita menemukan klinik terdekat."
"Tapi, Mas!" Risa tampak protes. "Mas tidak perlu mendengarkan kata bapak-bapak itu. Lagi pula aku baik-baik saja dan tidak kenapa-napa," lanjut Risa dengan mantap.
Ayden tersenyum tipis kemudian meraih tangan Risa. "Lalu ini apa?"
Lelaki itu menunjuk ke arah sikut Risa yang terluka dengan sudut matanya. Tampak luka gores yang cukup besar dan mengeluarkan sedikit darah segar. Risa terkejut melihat luka yang ada di sikutnya sebab ia sama sekali tidak merasakan apa pun di sana.
"Astaga, kenapa aku sampai tidak menyadarinya?" gumam Risa.
"Sebaiknya kita mencari klinik di sekitar sini untuk mengobati lukamu dan setelah itu baru aku antar kamu pulang."
"Eh, jangan, Mas! Tidak perlu," tolak Risa sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ini bukan apa-apa. Aku akan mengobatinya sendiri dan Mas bisa melanjutkan perjalanannya. Biar aku pulang sendiri saja. Lagi pula rumah bibiku tidak jauh dari sini, kok!"
Ayden mengerutkan alisnya heran. "Bibimu?"
Risa tersenyum getir setelah teringat bahwa Ayden sudah tahu siapa saja keluarga Risa. Baik itu dari pihak Pak Abdi maupun pihak Bu Lidia.
"Ehm, ya, Bibiku. Oh, bukan! Maksudnya bibi dari Mas Arga," jelas Risa dengan tergagap-gagap.
"Oh, begitu." Ayden mengangguk pelan.
Hanya dengan melihat ekspresinya saja, Ayden sudah tahu bahwa saat itu Risa tengah berkata bohong. Namun, ia tidak ingin memaksa agar Risa berkata yang sebenarnya.
"Baiklah, Risa. Jika kamu tidak ingin berkata jujur kepadaku. Maka aku sendiri yang akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu dan juga Lily," ucap Ayden dalam hati.
"Sudah, Mas. Turunkan aku di sini saja, ya!" lirih Risa sambil memelas.
__ADS_1
Lelaki itu hanya tersenyum tanpa berkeinginan menghentikan laju mobilnya. Risa tidak menyerah begitu saja. Ia terus merengek dan meminta Ayden untuk menurunkannya di jalan tersebut. Namun, Ayden masih tampak acuh tak acuh dan akhirnya Risa pun menyerah.
Di perjalanan, secara tidak sengaja mereka melewati sebuah pesta pernikahan salah seorang warga di tempat itu. Risa menatap sedih ke arah pelaminan sang pengantin. Tiba-tiba terlintas lagi bayangan Arga dan Mona yang hari ini bersanding di pelaminan, sama seperti pasangan pengantin tersebut.
Air matanya terjatuh tanpa bisa ia tahan dan ternyata Ayden melihat itu, walaupun Risa dengan cepat menyekanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Risa? Aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan Mas Arga " gumam Ayden dalam hati.
Tidak berselang lama.
Ayden menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik yang berada tidak jauh dari tempat mereka bertemu. Setelah memarkirkan mobilnya, Ayden segera menuntun Risa memasuki tempat itu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
Seorang perawat tersenyum hangat menyambut kedatangan Risa dan Ayden di klinik tersebut.
"Suster, tolong obati luka wanita ini. Tadi saat di jalan, aku tidak sengaja menyerempetnya," ucap Ayden kepada perawat yang bertugas di klinik tersebut.
Perawat itu menghampiri Risa. "Mari, Mbak, silakan masuk."
Dengan terpaksa, Risa pun mengikuti langkah perawat tersebut menuju sebuah ruang praktek milik dokter yang bertugas. Sementara sang ibu mendapatkan perawatan dari dokter, bayi Lily dititipkan kepada Ayden.
Ayden begitu senang. Ia menggendong bayi Lily tanpa merasa canggung sedikit pun. Begitu pula bayi cantik itu, ia miliki sekali tidak merasa takut. Malah sebaliknya, ia terlihat begitu nyaman dan merasa aman saat berada di pelukan lelaki itu.
Setelah beberapa menit kemudian.
Risa keluar dari ruangan praktek dokter dan berjalan menghampiri Ayden yang masih asik bercengkrama bersama Lily. Si mungil itu pun tidak mau kalah. Ia juga ikut mengoceh dengan bahasa bayinya.
Melihat pemandangan itu, tiba-tiba saja mata Risa menjadi berkaca-kaca. Bayi Lily yang sama sekali tidak pernah mendapatkan sentuhan lembut dan kasih sayang dari sang ayah, ternyata bisa tertawa lepas saat bersama Ayden.
"Nah, coba lihat itu, Sayang! Siapa itu?" ucap Ayden kepada Lily ketika Risa datang mendekat ke arahnya.
Bayi Lily pun tampak begitu senang. Terlihat dari kepakan tangan serta kaki mungilnya. Bayi mungil itu bahkan kembali mengembangkan tawa lucunya ketika Risa menjemputnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mas."
"Tidak usah berterima kasih padaku. Ini sudah menjadi kewajibanku untuk bertanggung jawab karena sudah menyerempet dan membuatmu terluka."
Setelah membayar biaya pengobatan Risa, Ayden pun kembali menuntun wanita itu ke mobilnya.
"Mari masuk."
"Tidak usah, Mas. Aku akan pulang sendiri," tolak Risa dengan begitu lembut.
Namun, Ayden tetap bersikeras ingin mengantarkannya pulang. "Tidak bisa. Ikutlah denganku dan aku yang akan mengantarkanmu pulang. Aku ingin memberitahu sekaligus meminta maaf kepada Mas Arga karena sudah menyerempetmu hari ini."
"Tidak usah, Mas. Aku mohon, tidak usah!" tegas Risa sambil menangkupkan kedua tangan di hadapan Ayden dan akhirnya berhasil membuat lelaki itu menyerah.
Ayden menghempaskan napas berat. "Baiklah kalau begitu. Oh ya, nomor ponselmu masih dengan nomor yang sama, 'kan?"
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Risa heran.
"Ya, siapa tahu besok-besok aku ingin menghubungimu dan membicarakan soal hutang-piutang kita," goda Ayden sambil terkekeh pelan.
Mata Risa tiba-tiba membulat sempurna. Kata-kata Ayden barusan mengingatkan dirinya soal hutang-piutangnya kepada lelaki itu.
"Oh iya, maafkan aku, Mas! Aku benar-benar sudah lupa. Baiklah, hubungi saja nomor itu jika Mas ingin bicara soal biaya perbaikan ponselnya Mas," jawab Risa sambil tersenyum getir.
Ayden menganggukkan kepala dan kedua netra indah nan tajam seperti elang itu terus tertuju kepada Risa. Jantung Risa sempat berdetak kencang ketika berbalas tatap bersama lelaki itu, tetapi dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.
Ayden masuk ke dalam mobil dan berpamitan kepada Risa. Sementara Risa terus berdiri di posisinya hingga mobil lelaki itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Huft! Bisa-bisanya aku bertemu sama Mas Ayden di sini," gumam Risa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Semoga saja ini adalah pertemuan terakhir kita, Mas. Aku tidak ingin perasaan yang sudah lama ku kubur dalam-dalam, kembali menyeruak," lirih Risa.
...***...
__ADS_1