Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Keputusan Ayden


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Kamu pulang sama siapa, Ren? Kalau mau, aku bisa minta sopir Oma buat anterin kamu," ucap Rachel.


"Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri," jawab Renatta sambil membereskan barang-barangnya.


Rachel kembali memutarkan bola matanya. Ia tampak kesal dan segera pergi meninggalkan Renatta yang masih sibuk bersiap-siap.


"Bang Ay!" panggil Rachel dengan setengah berteriak kepada Ayden yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Ayden menoleh kemudian menatap Rachel yang kini berlari kecil ke arahnya. "Ada apa, Chel?"


"Bang, itu si Renatta ngambek. Katanya dia mau pulang hari ini. Aku sudah bilang sama dia kalau pak sopir Oma bisa nganterin, tapi dia nya tidak mau. Katanya bisa pulang sendiri. Nyusahin emang ya, kekasih Abang itu," celetuk Rachel.


"Heh!" Ayden kesal. Ia menutup mulut Rachel yang sudah menyebut Renatta sebagai kekasihnya.


"Ya, sudah. Biar nanti aku bicara sama dia."


Beberapa menit kemudian.


"Loh, Ren, kamu mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Oma Hana yang tak sengaja berpapasan dengan Renatta yang sudah siap keluar dari rumah itu.


Sebelum menjawab pertanyaan Oma Hana, Renatta sempat melirik Risa yang berdiri di samping Oma. Wajahnya menekuk sempurna dan Risa tahu bahwa gadis itu tidak menyukai dirinya.


"Aku ingin pulang, Oma." Renatta meraih tangan Oma Hana kemudian menciumnya.


"Loh, kok pulang?" Oma Hana tampak kebingungan.


"Tidak apa, Oma. Hanya saja aku merasa tidak betah berada di sini. Selain itu, Ayah dan Ibuku pasti sangat merindukan aku," jawabnya dengan mata yang terus tertuju pada Risa.

__ADS_1


"Ayden sudah tahu?" tanya Oma Hana lagi.


"Tidak perlu. Karena aku bisa pulang sendiri. Sopir pribadi Ayah yang akan menjemputku," jawabnya dengan nada sedikit kesal.


"Ya, sudah, Oma. Aku pergi dulu," lanjut gadis cantik itu.


Setelah mengucapkan hal itu, Renatta pun segera pergi meninggalkan Oma dan Risa yang masih kebingungan. Setibanya di depan halaman rumah Oma, Renatta meraih ponsel miliknya dan kembali menghubungi sang sopir yang kini tengah di perjalanan menuju kediaman Oma Hana.


"Cepat ya, Pak! Aku tidak ingin kelamaan menunggu di sini," ucap Renatta sambil menekuk wajahnya.


Tepat di saat itu Ayden berdiri di sampingnya. Ia meraih tangan Renatta sambil menatapnya tajam.


"Biar aku yang antar kamu pulang. Kamu datang ke sini bersamaku dan pulang pun harus bersamaku," tegas Ayden sembari menarik tangan Renatta agar mengikutinya menuju mobilnya.


"Lepaskan tanganku, Mas! Aku bisa pulang sendiri," jawab Renatta sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Ayden dari pergelangan tangannya.


"Masuk!" Ayden melepaskan tangan Renatta dan memerintahkan gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya yang sudah terbuka lebar.


Ayden memasang wajah malas. "Masuk!"


Walaupun kesal, Renatta tidak bisa menolak titah Ayden. Ia segera masuk ke dalam mobil walaupun dengan raut wajah terpaksa. Setelah gadis itu duduk manis di dalam mobilnya, Ayden pun segera menyusul kemudian duduk di depan kemudi.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Ayden melajukan mobilnya kembali ke kota mereka. Di sepanjang perjalanan, baik Renatta maupun Ayden hanya diam seribu bahasa. Renatta masih kesal karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa Ayden mencintai Risa dan berniat menikahi janda beranak satu itu.


***


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, mobil yang dikemudikan oleh Ayden pun tiba di kediaman kedua orang tua Renatta.


Masih dengan bibir yang terkunci rapat, Renatta keluar dari dalam mobil Ayden dan langsung masuk ke dalam rumah milik orang tuanya itu. Sementara Ayden menyusul dari belakang dan mengikuti langkah gadis itu dari jarak yang cukup jauh.

__ADS_1


"Renatta?"


"Ayah!" pekik Renatta sembari menghambur ke pelukan sang ayah.


Pak Guntur segera menyambut kedatangan putri kesayangannya itu kemudian memeluknya dengan erat.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Pak Guntur heran setelah melihat raut wajah sedih Renatta.


"Ayah, aku—" Renatta menghentikan ucapannya karena Ayden sudah tiba di ruangan itu dan kini berdiri di hadapan Pak Guntur.


"Ayden, apa yang terjadi pada putriku?" tanya lelaki paruh baya tersebut.


Ayden menghembuskan napas berat. "Bolehkah saya meminta waktunya sebentar, Om? Hari ini saya ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting bersama Om Guntur." Alih-alih menjawab pertanyaan dari lelaki itu, Ayden malah mengajaknya untuk berbicara dengan serius.


Pak Guntur mengangguk pelan. "Baiklah, Ayden. Mari, silakan duduk," sahut Pak Guntur sembari melerai pelukannya bersama Renatta.


Renatta tampak cemas karena ia sangat yakin bahwa Ayden ingin mengutarakan maksudnya kepada Pak Guntur untuk menolak perjodohan yang terjalin di antara mereka.


Dengan jantung yang berdebar-debar, Renatta duduk di samping Pak Guntur. Ia bahkan tidak ingin melerai pelukannya di lengan lelaki paruh baya itu.


"Bicaralah, Ayden," titah Pak Guntur.


"Ehm, sebenarnya begini, Om. Hari ini saya ingin menyampaikan keputusan saya soal perjodohan kami," ucap Ayden.


Pak Guntur tersenyum lebar. Ia begitu bahagia karena sebentar lagi keinginannya bersama mendiang Daddy-nya Ayden akan segera terlaksana. Namun, sayang apa yang ada di dalam pikiran lelaki paruh baya itu berbeda dengan yang dipikirkan oleh Ayden.


"Baiklah, Om mendengarkan."


"Maafkan jika keputusan saya saat ini membuat Om Guntur dan tante Ara kecewa. Tetapi saya rasa inilah yang terbaik buat kami, terutama buat Renatta. Saya menolak perjodohan ini, karena saya sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun terhadap Renatta. Selain itu, saya sudah punya calon sendiri dan saya akan segera menikahinya," jawab Ayden dengan tegas.

__ADS_1


"A-apa kamu bilang?!" pekik Om Guntur dengan mata membulat sempurna.


...***...


__ADS_2