Derit Ranjang Adikku

Derit Ranjang Adikku
Rachel dan Risa


__ADS_3

Selesai makan malam, Rachel diam-diam menemui Risa di dalam kamarnya. Ia masih penasaran soal kehidupan Risa dan selama ia belum tahu cerita yang sebenarnya, Rachel tidak akan pernah berhenti untuk mencari tahu.


Tok ... tok ... tok!


"Sebentar!" Terdengar suara lembut Risa dari dalam kamar. Wanita itu berjalan menghampiri pintu dan segera membukanya.


"Non Rachel?" Risa tersentak kaget setelah melihat sosok Rachel berdiri di depan kamarnya.


"Aku boleh masuk 'kan?" tanya Rachel dengan wajah serius menatap Risa.


Risa mengangguk pelan. "Bo ... leh."


Belum selesai Risa menjawab pertanyaannya, Rachel sudah menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut. Rachel juga meminta Risa untuk menutup pintunya kembali agar ia bisa berbicara dengan bebas bersama Risa tanpa kedengaran oleh orang lain, termasuk Oma Hana.


"Ada apa, Non?" tanya Risa dengan wajah bingung menatap Rachel.


"Aku ingin bicara padamu dan ini sangat penting," sahut Rachel.


Risa terdiam sejenak sambil berpikir. "Apa yang ingin dibicarakan oleh Non Rachel? Apa ini ada hubungannya dengan Mas Ayden?" gumam Risa dalam hati.


"Ish, kenapa kamu malah bengong begitu, Ris. Sini!" Rachel meraih tangan Risa dan membawanya duduk di tepian tempat tidur milik Risa.


"Memangnya Non Rachel ingin bicara soal apa?"


"Aku dengar dari Oma, katanya kamu sudah bercerai sama suami kamu. Benar kah itu, Ris?" tanya Rachel dengan begitu serius menatap Risa.


Kepala Risa tertunduk lesu dan ia sempat menghembuskan napas beratnya. "Ya, seperti itu lah, Non. Mas Arga sudah menceraikan saya sebelum ia menikahi kekasihnya," lirih Risa.


"Menikah lagi?" pekik Rachel.


Tiba-tiba Rachel teringat akan foto-foto mesra Arga dan kekasihnya yang ia ambil di kafe waktu lalu. Rachel meraih ponselnya kemudian membuka galeri foto, di mana foto-foto tersebut tersimpan.


"Apakah benar ini istri baru mantan suamimu itu?" Rachel memperlihatkan salah satu foto mesra Arga kepada Risa.


Risa memperhatikan foto tersebut sambil menautkan kedua alisnya heran. "Siapa wanita ini? Bukan, Non. Ini bukan istri barunya. Oh ya, kalau boleh saya tahu, kapan Non Rachel mengambil foto ini?" tanya Risa penasaran.

__ADS_1


"Loh, jadi ini bukan istri barunya?" Mata Rachel membulat sempurna. "Ya, Tuhan! Jika ini bukanlah istri barunya, trus ini siapa, donk? Foto ini aku ambil beberapa waktu yang lalu, Ris. Tidak lama, kok!" lanjut Rachel.


Risa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak ingin Rachel tahu bahwa saat itu buliran beningnya kembali mengucur. Namun, Rachel tahu bagaimana perasaan Risa saat itu. Ia merengkuh pundak Risa kemudian mengelusnya dengan lembut.


"Maafkan aku, Risa. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Aku hanya ingin kamu tahu bagaimana sikap lelaki itu di belakangmu," tutur Rachel.


Risa mengangkat kepalanya seraya menyeka buliran bening itu. "Ya Tuhan, mas Arga!"


"Maafkan aku, Risa."


"Non Rachel tidak perlu meminta maaf kepada saya. Malah sebaliknya, seharusnya saya berterima kasih kepada Non Rachel karena sudah mengatakan yang sebenarnya. Seandainya Non Rachel tidak memberitahu soal ini, mungkin saya tidak akan pernah tahu bagaimana sifat mas Arga yang sebenarnya," tutur Risa.


"Yang sabar ya, Ris." Rachel segera mendekap tubuh Risa untuk memberikan semangat kepada wanita itu.


"Terima kasih, Non."


"Sudah, jangan panggil aku Non Rachel lagi. Cukup panggil aku Rachel saja. Dan satu lagi, berhentilah bicara secara formal kepadaku karena aku bukan atasanmu. Sekarang aku adalah temanmu. Kamu mau 'kan menjadi teman aku?"


Risa tersenyum kecut. "Ta-tapi, Non."


Risa kembali tersenyum. "Kata Oma Hana, sebentar lagi kamu akan menikah. Selamat ya, Chel."


Rachel ikut tersenyum. "Ya, sebentar lagi aku akan segera menikah. Setelah calon ibu mertuaku pulang dari Rumah Sakit," jawab Rachel.


"Kalau boleh aku tahu, sebenarnya ibunya mas Ayden sakit apa?" tanya Risa.


Rachel menautkan kedua alisnya heran sambil menatap wajah polos Risa. "Mommy-nya Bang Ay?"


Risa mengangguk pelan. "Ya."


"Siapa yang bilang sama kamu kalau mommy-nya Bang Ay sakit?" Rachel semakin bingung.


"Loh, bukannya tadi kamu bilang bahwa calon ibu mertuamu sedang dirawat di Rumah Sakit. Memangnya beliau sakit apa?" jelas Risa.


Tiba-tiba ekspresi wajah Rachel berubah. Ia tergelak setelah mendengar penuturan Risa barusan. "Ya ampun, Ris. Ya, memang benar kalau calon ibu mertuaku sedang di rawat di Rumah Sakit, sebab itu pula lah pernikahanku dengan Mas Ryan diundur. Nah, jadi apa hubungannya sama tante Tiya? Mommy-nya Bang Ay itu tanteku, Ris. Aku dan Bang Ay itu sepupuan," jelas Rachel.

__ADS_1


"Be-benarkah itu?" tanya Risa dengan tergagap-gagap. Ia malu karena sudah salah sangka terhadap Rachel. Ia pikir selama ini Rachel adalah calon istrinya Ayden.


"Ya, iyalah. Oh, aku mengerti sekarang," ucap Rachel sambil tersenyum lebar menatap Risa. "Jadi selama kamu pikir aku dan Bang Ay itu pasangan kekasih, ya?"


Rachel tergelak tanpa peduli dengan wajah Risa yang memerah menahan malu.


"I-iya, aku sempat berpikir bahwa kamu dan mas Ay adalah pasangan kekasih," lirih Risa.


"Bukan, Ris. Bang Ay itu abangku. Aku sudah menganggapnya seperti kakakku sendiri. Begitu pula oma, bagi oma bang Ay itu adalah cucu laki-lakinya."


"Maafkan aku," lirih Risa sambil menundukkan kepalanya.


"Heh, kamu tahu tidak, Ris. Bang Ay itu masih single, loh."


"Masa, sih?" Risa tampak tidak percaya. Secara Ayden itu lelaki yang memiliki tampang rupawan serta kehidupan yang mapan.


"Serius! Bang Ay sih tidak cerita sepenuhnya kepadaku, dia hanya bilang padaku bahwa dia susah move on sama mantan kekasihnya dulu," jelas Rachel sambil me memperhatikan ekspresi wajah Risa.


Risa terdiam sejenak. Namun, ia tidak pernah berpikir bahwa wanita yang membuat Ayden susah 'move on' itu adalah dirinya sendiri.


"Kasihan Mas Ayden. Semoga saja ia mendapatkan jodoh yang baik," ucap Risa.


Rachel membuang napas berat. Ia bingung kenapa Risa masih saja tidak peka dengan ucapannya.


Risa meraih tangan Rachel kemudian menggenggamnya dengan erat. "Oh ya, Chel. Aku harap kisahku ini hanya akan menjadi rahasia kita saja. Tolong jangan kasih tahu siapa pun, termasuk Mas Ayden."


"Baiklah," jawab Rachel dengan raut wajah bingung. Padahal ia sangat ingin menceritakan hal itu kepada Ayden.


Sementara itu di kediaman Ayden.


Beberapa kali Ayden mencoba menghubungi nomor ponsel Rachel, tetapi gadis itu tidak juga menerima panggilannya. Ia tampak kesal, karena Rachel berhasil membuat dirinya penasaran dan mungkin malam ini ia akan mengalami kesulitan tidur.


"Rachel! Selamat ya, kamu sudah berhasil membuatku penasaran setengah mati!" umpat Ayden sambil menatap layar ponselnya.


Ayden memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya sambil berpikir. "Apa aku harus menyusul Rachel, ya? Oh ya, ampun!"

__ADS_1


...***...


__ADS_2