
"Aku harus pergi, Bu. Mas Arga sudah mengucapkan kata talak kepadaku, jadi untuk apa aku berada di sini?" jawab Risa dengan wajah dingin.
"Ya ampun, Ris!" pekik Bu Lidia dengan mata berkaca-kaca.
Arga mendengus kesal sambil bertolak pinggang. Ia tampak frustrasi dan putus asa. Berbagai macam cara ia coba untuk mengubah keputusan Risa, tetapi semuanya hanya sia-sia saja. Bukannya luluh, pendirian Risa malah semakin mantap. Sementara Bu Lidia mencoba membujuk Risa, Pak Abdi memilih menghampiri Arga yang tampak kacau.
"Apa yang sudah terjadi, Arga? Apa benar yang dikatakan oleh Risa bahwa kamu sudah menceraikannya?" tanya Pak Abdi.
"Ya, Ayah. Aku sudah menceraikannya karena dia wanita yang tidak benar. Bayangkan, kekacauan ini saja belum selesai, tetapi dia sudah berani bermain api di belakangku bersama mantannya!" kesal Arga.
"Mantannya?" Pak Abdi menoleh kepada Risa dengan alis yang saling bertaut.
"Ya, mantannya. Keturunan bule kere itu," timpal Arga sembari melirik Risa dengan wajah kesalnya.
"Ayden?" Pak Abdi mencoba menerka-nerka.
"Ya, Ayden. Lelaki keturunan bule yang kere itu!" Arga membuang muka.
"Itu semua bohong! Kemarin itu aku tidak sengaja bertemu Mas Ayden di taman kota. Dia hanya mengantarkan aku pulang dan saat itu Mas Ayden tidak sendiri. Dia bersama calon istrinya," jawab Risa dengan tegas.
"Tapi percuma saja kalian bicara sama Mas Arga. Dia tidak akan pernah mengerti. Dia akan selalu memojokkan aku dan sengaja mencari-cari kesalahanku untuk menutupi semua kesalahannya," lanjut Risa.
"Sebaiknya kita bicarakan hal ini di dalam. Biar semuanya jelas. Lagi pula kalau di sini malu kelihatan tetangga-tetangga sebelah rumah," sela Pak Abdi mencoba membujuk Risa.
"Tidak perlu, Ayah. Semuanya sudah jelas dan Mas Arga juga sudah menceraikan aku," jelas Risa.
Bu Lidia menggelengkan kepalanya pelan. "Kenapa kamu bicara seperti itu, Risa? Tolonglah pikirkan sekali lagi keputusanmu ini. Kasihan Lily. Lily masih membutuhkan kasih sayang dari Ayahnya."
Risa tertawa sinis. "Tidak, Ibu. Lily tidak membutuhkan kasih sayang dari seorang Ayah seperti Mas Arga. Lagi pula selama ini Mas Arga tidak pernah menganggap kehadiran Lily. Ia bahkan tidak mau mengakui bahwa Lily adalah darah dagingnya!"
__ADS_1
"Risa, cukup!" kesal Arga dengan mata terbelalak menatap Risa yang semakin berani melawannya.
Risa mendengus kesal. Ia sudah malas berdebat dengan lelaki itu. Walaupun ia benar, akan tetap salah di mata Arga. Risa membalikkan badan dan berniat melanjutkan perjalanannya bersama si kecil Lily. Namun, baru saja ia ingin melangsungkan kakinya kembali, Bu Lidia kembali menahannya.
"Risa, kamu mau ke mana? Ini sudah hampir gelap. Apa kamu tidak kasihan sama Lily? Ibu mohon, tetaplah di sini. Setidaknya, bertahanlah untuk Lily," ucap Bu Lidia dengan wajah cemas.
"Ibu tidak usah mencemaskan aku. Aku dan Lily akan baik-baik saja," ucap Risa dengan mantap.
Risa melepaskan genggaman tangan Bu Lidia dan kembali berjalan sambil menyeret kopernya.
"Jika kamu tidak ingin tinggal di sini, setidaknya tinggallah bersama Ibu untuk malam ini. Ibu mohon, Risa! Demi Lily," lirih Bu Lidia lagi.
Risa menghentikan langkahnya dan mulai menimbang-nimbang tawaran dari Bu Lidia. Risa memperhatikan sekelilingnya dan apa yang dikatakan oleh ibu angkatnya itu memang benar. Sebentar lagi hari akan gelap. Sementara dirinya tidak tahu ke mana harus pergi membawa Lily.
"Ris, Ibu mohon. Setidaknya untuk malam ini saja. Besok kamu boleh pergi ke manapun kamu mau," bujuk Bu Lidia lagi.
Sebenarnya Risa enggan menerima tawaran Bu Lidia. Sebab Mona juga berada di sana untuk sementara sebelum pernikahan ia dan Arga dilaksanakan.
"Baiklah, Bu. Hanya untuk malam ini saja," jawab Risa.
Bu Lidia melirik Pak Abdi. "Pak, sebaiknya kita kembali."
Pak Abdi mengangguk. "Baiklah."
Bu Lidia meraih tangan Risa kemudian mengajaknya masuk ke dalam mobil tua milik Pak Abdi.
"Kami pulang dulu, Nak Arga. Maaf, jika Risa keras kepala," ucap Pak Abdi sebelum menyusul Risa dan Istrinya yang sudah menunggu di dalam mobil.
Arga tidak menjawab, tetapi matanya masih tertuju pada mobil tua milik Pak Abdi, di mana Risa berada.
__ADS_1
Setelah berpamitan kepada Arga, Pak Abdi pun segera masuk ke dalam mobilnya dan melaju menelusuri jalan.
"Aaargghh!"
Arga berteriak kesal. Ia tidak menyangka bahwa saat ini statusnya dengan Risa sudah bukan suami-istri lagi. Sebenarnya ia ingin sekali memelas kepada Risa dan meminta wanita itu untuk kembali. Namun, ego-nya masih terlalu tinggi untuk melakukan hal itu. Apalagi melakukannya di hadapan kedua orang tua angkat Risa.
"Aku sangat yakin, hanya dalam beberapa hari lagi kamu pasti akan kembali kepadaku. Merengek dan memohon untuk menjadi istriku kembali dan di saat itu terjadi, aku juga akan melakukan hal ini kepadamu!" Arga tersenyum sinis.
Ia sangat yakin bahwa suatu saat Risa akan kembali padanya. Sebab setahu Arga, Risa adalah wanita rumahan yang tidak akan sanggup hidup tanpa dirinya.
***
Mobil yang dikemudikan oleh Pak Abdi tiba di kediaman sederhananya. Setelah memarkirkan mobil tua itu, Pak Abdi, Bu Lidia, Risa dan si kecil Lily pun segera masuk ke dalam rumah tersebut.
Kedatangan Pak Abdi dan Bu Lidia begitu ditunggu-tunggu oleh Mona sejak tadi. Ia ingin tahu bagaimana kelanjutan cerita Arga dan kakaknya, Risa. Setelah deru suara mobil sang ayah terdengar, ia pun segera menyusul ke depan untuk menemui kedua orang tuanya itu.
"Pak, Bu, bagaimana cerita kelanjutan—" Tiba-tiba bibir Mona membeku setelah melihat Risa yang berdiri di samping ibunya.
"Risa, sebaiknya kamu beristirahat. Ajak Lily ke kamarmu. Kamar itu masih bersih dan bisa kamu gunakan untuk malam ini," tutur Bu Lidia.
Risa mengangguk pelan kemudian berjalan melewati tubuh Mona sambil menyeret kopernya menuju kamar. Mona sempat melemparkan senyum kepada Risa, tetapi Risa tidak ingin membalasnya. Rasa sakit yang ditorehkan oleh Mona kepadanya, tidak akan semudah itu membuat Risa membuka hati dan memaafkan kesalahan adik perempuannya itu.
Sepeninggal Risa.
"Bu, jadi benar Mas Arga dan Mbak Risa sudah bercerai?"
Bu Lidia membuang napas berat. "Ya, seperti itu lah. Sepertinya tekad Risa sudah bulat. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana Mbak Risa-mu itu? Dia punya pendirian yang kuat. Jika dia bilang A, maka tidak akan pernah berubah menjadi B."
"Ya, Ibu benar."
__ADS_1
Mona tampak senang mendengar berita itu. Memang berita buruk bagi sebagian orang, tetapi tidak untuknya. Bagi Mona itu adalah berita yang baik. Setidaknya ia dan bayinya akan mendapatkan perhatian penuh dari Arga setelah mereka menikah nanti.
...***...