
"Mana cincinnya, Bang Ay!" seru Rachel.
"Oh iya, sebentar!"
Ayden merogoh saku celananya dan meraih kotak perhiasan yang tadi sempat ia simpan kembali. Setelah mendapatkan kotak perhiasan itu, ia pun segera menyerahkannya ke hadapan Risa.
"Ayo, Ris! Mana jarimu?" goda Rachel.
Dengan malu-malu Risa pun mengulurkan tangannya ke hadapan Ayden. Perlahan Ayden meraih jari-jemari Risa kemudian memasukkan cincin berhiaskan berlian itu ke jari manisnya.
Risa memperhatikan cincin berlian itu dengan mata berkaca-kaca. Tiba-tiba ia teringat cincin kawinnya bersama Arga yang beberapa waktu lalu diminta kembali oleh lelaki tak bertanggung jawab itu.
"Kamu menyukainya?" bisik Ayden.
Risa mengangguk pelan. "Ya, Mas. Cincin ini sangat cantik dan aku menyukainya. Terima kasih banyak, Mas."
"Sama-sama, Risa. Syukurlah kalau kamu menyukainya." Ayden tersenyum lega.
"Cieee!"
Rachel meraih bayi Lily yang kini tengah berada di pangkuan Oma kemudian memeluk dan menciumi pipi mungil tersebut.
"Selamat ya, Sayang. Sebentar lagi kamu bakal punya Daddy baru!" seru Rachel.
"Aku berjanji padamu, Risa. Bukan hanya padamu, tetapi pada Lily juga. Aku berjanji akan menjadi suami serta ayah yang baik dan bertanggung jawab kepada kamu dan Lily. Aku juga berjanji tidak akan membeda-bedakan antara Lily dan anak kandungku kelak. Karena mulai saat ini, Lily adalah anakku juga," ucap Ayden dengan bersungguh-sungguh kepada Risa.
"Aku pegang janjimu, Mas. Setidaknya untuk Lily," lirih Risa.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Kamu bisa pegang janjiku."
"Besok antar Oma menemui Mommy-mu, Ayden. Oma ingin membicarakan hal ini kepadanya," ucap Oma Hana.
"Baik, Oma. Kebetulan aku juga ingin mengurus surat-surat perceraian Risa secepatnya," sahut Ayden.
Keesokan harinya.
"Ayo, Oma," ajak Ayden yang kini sudah berdiri di depan pintu mobilnya, menunggu Oma yang masih berjalan di hadapannya.
"Sebentar, Ay. Kamu sudah tidak sabaran, ya," celetuk Oma Hana sembari melewati Ayden lalu masuk ke dalam mobil mewah itu. Ayden hanya tersenyum menanggapi celetukan wanita paruh baya itu.
"Ayo, Risa!" ajak Ayden lagi kepada Risa yang masih ragu memasuki mobil tersebut.
"Apakah aku harus ikut bersama kalian?" tanya Risa untuk kesekian kalinya.
"Tentu saja, Ris. Bukankah kamu ingin menyelesaikan masalahmu dengan Mas Arga? Setelah menemani Oma menemui mommy, kita mengurus surat-surat perceraianmu di kantor pengadilan agama," jawab Ayden.
Setelah berpikir keras, akhirnya Risa pun memutuskan untuk ikut bersama Oma untuk kembali ke kota X, walaupun sebenarnya ia masih enggan menginjakkan kakinya di kota tersebut.
Di perjalanan.
"Kenapa kamu duduk di depan, Chel? Seharusnya Risa lah yang duduk di sana menemani Ayden menyetir," ucap Oma kepada Rachel yang duduk di depan, di samping Ayden yang sedang asik mengemudikan mobilnya.
"Ish, Oma! Risa saja tidak keberatan aku duduk di sini," jawab Rachel dengan wajah menekuk.
Risa hanya tersenyum tanpa berkeinginan menimpali pembicaraan oma dan cucunya tersebut.
__ADS_1
Setelah melewati perjalanan yang cukup melelahkan, mereka pun akhirnya tiba di depan kediaman mewah Ayden. Risa membulatkan matanya dengan sempurna. Ia tidak menyangka bahwa Ayden sudah sesukses itu. Padahal sebelumnya ia mengenal Ayden sebagai lelaki sederhana yang memiliki kehidupan tidak jauh berbeda darinya.
Sementara Oma dan Rachel sudah memasuki bangunan megah itu, Risa masih terdiam di samping mobil Ayden dengan wajah bimbang. Melihat hal itu, Ayden pun segera menghampirinya.
"Kenapa kamu masih berdiri di sini, Risa? Sementara Oma dan Rachel sudah masuk ke dalam," ucap Ayden.
"Ini rumahmu, Mas?" tanya Risa, masih menatap bangunan megah itu dengan seksama.
"Ya. Memangnya kenapa? Bangunannya jelek, ya?" goda Ayden sambil terkekeh pelan.
"Bukan begitu." Risa menundukkan kepalanya sembari membuang napas berat.
"Kehidupan Mas sudah sangat mapan, tapi kenapa Mas masih betah menyendiri? Aku yakin dengan penampilan serta kehidupan Mas yang sukses seperti ini, banyak sekali wanita-wanita cantik yang menggandrungi Mas dan bersedia menjadi istrinya Mas," lanjut Risa.
Ayden terkekeh pelan. "Aku tidak memungkiri bahwa memang banyak wanita yang bersedia menjadi pendampingku. Namun, sayangnya aku tidak bisa, Ris. Kamu tahu kenapa?" Ayden menatap lekat Risa sambil tersenyum.
Risa menggelengkan kepalanya perlahan. "Kenapa, Mas?"
"Karena aku masih mencintaimu, Ris. Aku tidak bisa melupakan dirimu. Terserah jika kamu pikir bahwa aku sudah gila, tetapi seperti itulah yang aku rasakan selama ini. Aku bahkan sudah mencoba untuk membencimu tetapi tidak bisa, Ris. Rasa cinta yang aku rasakan kepadamu terlalu besar hingga berhasil membuat aku menjadi lelaki yang begitu bodoh," tutur Ayden dengan begitu serius.
"Maafkan aku, Mas," lirih Risa dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa harus meminta maaf, Ris? Ayo, sebaiknya kita masuk sekarang, nanti Oma malah bingung mencari keberadaanmu," lanjut Ayden sembari menarik tangan Risa pelan agar mengikutinya.
Namun, lagi-lagi Risa menahan tubuhnya. "Aku takut, Mas. Serius! Tidak bisakah aku menunggu di sini saja?" ucap Risa dengan wajah yang tampak memucat.
"Tidak apa-apa, Ris. Percayalah padaku," sahut Ayden yang kembali mencoba menuntun Risa agar masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Walaupun ragu, Risa pun akhirnya menurut saja. Ia mengikuti langkah Ayden yang kini menuntunnya menuju ruang utama, di mana Mommy, Oma dan Rachel sudah berada di sana.
...***...