
"Pantas saja Mas Arga selalu mengeluh tentangmu. Ternyata kamu memang tidak becus menjadi seorang istri. Lihat saja, tak satu pun makanan yang tersedia di sini!" sambung Nella sembari menutup kembali kulkas tersebut.
"Diam kamu, Ja**ng! Kalau kamu tidak tahu cerita yang sebenarnya, kamu tidak perlu bicara kasar seperti itu!" geram Mona sembari bangkit dari posisi duduknya.
Mona berjalan menghampiri Nella kemudian berdiri di hadapannya. Ia memperhatikan penampilan Nella dari ujung kepala hingga ke ujung rambut dan ada sesuatu yang membuat Mona begitu murka.
Mona menyentuh lingerie yang tengah dikenakan oleh Nella saat itu. "Apa ini? Siapa yang menyuruhmu memakai lingerie ini? Lepaskan atau—"
"Atau apa, ha?" sela Nella sembari menepis tangan Mona dengan kasar. "Lagi pula apa bagusnya lingerie-mu ini? Lingerie-mu ini lingerie murahan! Sudah jelek, bahannya kasar pula. Aku bahkan punya yang jauh lebih bagus dari ini," lanjut Nella sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Kalau begitu lepaskan!" Mona menarik kasar lingerie tersebut dari tubuh Nella. Namun, segera ditepis oleh wanita itu.
"Enak saja! Aku tidak mengenakan apa pun sekarang ini. Lagi pula mas Arga sendiri lah yang memintaku untuk mengganti pakaianku dengan lingerie ini. Ya aku sih menurut aja apa maunya dia," jawab Nella.
"Dasar wanita murahan! Tidak tahu malu—" Belum habis Mona berkata-kata, sebuah tamparan dari Nella mendarat ke pipinya.
Plakk!
"Diam kamu! Apa kamu sudah lupa, kamu pun sama murahannya denganku. So, jangan jadi maling teriak maling!" tegas Nella.
Setelah mengucapkan hal itu, Nella segera beranjak dari ruangan tersebut dan meninggalkan Mona yang masih kesal. Mona tidak bisa menerima perkataan dari wanita simpanan suaminya itu. Ia refleks meraih sebuah gelas kaca yang terletak di atas meja kemudian membawanya sambil mengejar Nella.
"Heh, ja**ng! Tunggu!" ucap Mona dengan setengah berteriak.
Nella refleks menoleh dan ....
Bugkhhh!
"Aww!" pekik Nella sembari memegang jidatnya yang baru saja terkena pukulan dari Mona.
Kepala Nella tiba-tiba pusing dan ia merasakan rasa sakit yang amat sangat di keningnya akibat pukulan Mona. Pandangan wanita itu bahkan sampai berputar-putar dan akhirnya menggelap.
__ADS_1
Brugkhh!
Tubuh Nella ambruk ke lantai dengan kondisi yang masih sadar. Darah segar mengucur deras dari keningnya dan terdengar jelas suara rintihan wanita itu.
"Mas Argaaa ... tolong aku," lirih Nella.
Mona terdiam dengan tubuh gemetar hebat. Ia ketakutan setelah melihat bagaimana kondisi Nella saat itu.
"Ya, Tuhan! A-apa yang harus aku lakukan?" gumam Mona.
Sementara itu di dalam kamar utama.
"Di mana Nella? Kenapa dia lama sekali?" gumam Arga sembari memijat pelipisnya.
"Ah, sepertinya aku harus menyusul Nella." Arga meraih celana boxer miliknya yang tergeletak di lantai kemudian mengenakannya.
"Aku takut Mona nekat dan melakukan sesuatu yang tidak diinginkan kepada Nella," gumam Arga lagi, seraya melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut lalu berjalan menuju dapur. Di mana Nella dan Mona masih berada di ruangan itu.
"Nella! Apa yang terjadi padamu, Sayang?" Arga meraih tubuh Nella dan membantunya untuk duduk bersandar di dinding ruangan itu.
"Wanita itu, Mas! Wanita itu memukul kepalaku dengan gelas kaca," adu Nella, masih memegangi kepalanya yang sakit dan berdarah.
Mendengar hal itu, emosi Arga pun kembali meluap. Ia bergegas bangkit dan berdiri di hadapan Mona yang masih terpaku di tempatnya. Wajah Arga memerah dan terlihat begitu menakutkan. Seolah siap menghabisi Mona dalam sekali serangan.
"Apakah yang dikatakan oleh Nella itu benar, Mona?" tanya Arga dengan rahang yang menegas.
Karena ketakutan, Mona pun tidak berani mengakui kesalahannya. Ia menggelengkan kepala dengan cepat sembari berkata bohong.
"Ti-tidak, Mas! Itu tidak benar," jawab Mona dengan terbata-bata.
"Serius, Mas! Aku tidak berbohong. Gelas itu bahkan masih berada di tangannya," sela Nella yang kini sudah bisa membuka matanya.
__ADS_1
Arga memperhatikan kedua tangan Mona dan ada yang membuat lelaki itu penasaran. Mona menyembunyikan sebelah tangannya di balik punggung dan membuat Arga semakin curiga.
"Apa yang kamu sembunyikan di balik punggungmu, Mona?" Arga berjalan mendekat, sementara Mona berjalan mundur, mencoba menghindari Arga.
"Tidak ada, Mas! I-ini bukan apa-apa," elak Mona sambil terus berjalan mundur.
Hingga akhirnya tubuh Mona tertahan di dinding ruangan. Sementara Arga sudah mengunci pergerakannya hingga tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi.
Arga menarik tangan Mona yang masih tersembunyi di balik punggung wanita itu dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh Nella. Gelas kaca yang digunakan oleh Mona untuk memukul kepala Nella masih menempel di dalam genggamannya.
"Ini apa, Mona?" Arga meraih gelas yang sudah retak tersebut kemudian memperlihatkannya ke depan wajah Mona.
"I-itu—"
Plakkk!!!
Belum habis Mona berkata-kata, sebuah pukulan keras mendarat di pipi kanan Mona hingga sudut bibir wanita itu membiru. Mona meringis sambil mengusap pipinya yang sakit. Sementara Nella tersenyum penuh kemenangan.
"Sekarang ambilkan kotak obat yang ada di dalam kamar!" titah Arga.
Mona mengangkat kepalanya kemudian menatap Arga dengan penuh kebencian. "Aku tidak mau!"
Arga tersenyum sinis lalu mencengkram erat rambut Mona. "Ambil atau aku akan memukulmu lebih keras lagi," ancam Arga dengan wajah serius menatap istrinya itu.
Nyali Mona pun menciut setelah mendengar ancaman dari lelaki itu. Arga menarik kasar tangan Mona kemudian mendorongnya agar melangkah keluar dari ruangan tersebut.
"Ambil sekarang atau kamu akan tahu akibatnya!" ucap Arga sembari mendekati Nella yang masih bersandar di dinding dapur.
"Mas ... sakit sekali!" ucap Nella sambil meringis manja.
"Sabar ya, Sayang. Tahan sebentar lagi, ya." Arga mencoba menenangkan Nella.
__ADS_1
...***...