
"Kami permisi dulu, Pak Abdi. Terima kasih banyak atas waktunya."
"Sama-sama, Nak Ayden. Ingat, bekerjalah yang keras lagi karena usaha tidak akan mengkhianati hasilnya. Seperti Arga, karena kerja kerasnya, ia berhasil menjadi seorang supervisor," ucap Pak Abdi sambil menepuk pelan pundak Ayden.
"Ayah, sudahlah." Risa tampak tidak nyaman karena Pak Abdi mulai menyebutkan nama Arga lagi di hadapan Ayden.
"Loh, emangnya Ayah salah, ya? Ayah 'kan hanya mencoba memberikan motivasi untuk Ayden agar dia lebih semangat bekerjanya. Siapa tahu keberuntungan Arga bisa menular kepada Ayden," celetuk Pak Abdi.
Risa menatap kedua netra Ayden yang saat itu memang tertuju kepadanya. Ayden tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya pelan. Seolah memberitahu kepada Risa agar tidak usah mempermasalahkan hal itu.
"Ayahmu benar, Risa. Aku harus bekerja lebih giat lagi untuk kamu dan Lily," sela Ayden.
"Nah 'kan, itu maksud Ayah." Pak Abdi menggelengkan kepalanya dengan sedikit kesal.
Risa mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Maafkan aku, Ayah."
"Hmmm," gumam Pak Abdi sembari menuntun Risa hingga memasuki mobil mewah milik Ayden.
Pak Abdi memperhatikan mobil itu dengan seksama kemudian menggeleng pelan. Lelaki paruh baya itu berdecak kagum melihat design dan kemewahan mobil berwarna hitam tersebut.
"Ck ck ck! Benar-benar bagus, ya! Bahkan mobil milik Arga pun tidak ada apa-apanya. Pasti bulanannya mahal 'kan? Hmmmm," ucap Pak Abdi.
"Kalau boleh aku kasih saran, sebaiknya ganti dengan mobil yang biasa-biasa aja. Yang tidak akan menguras kantongmu, Ayden. Apalagi jika nanti kamu sudah resmi menjadi suami Risa. Otomatis kebutuhanmu akan semakin banyak. Dari pada buang-buang duit banyak untuk biaya bulanan mobil ini, lebih baik uangnya digunakan untuk kebutuhan keluarga kecilmu," lanjut Pak Abdi.
Risa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ingin sekali ia mengatakan kepada Pak Abdi siapa Ayden yang sebenarnya dan mobil yang mereka tumpangi saat ini dibeli secara cash oleh lelaki itu.
Sementara Ayden tampak santai-santai saja menanggapi hal itu. Ia malah senang karena Pak Abdi bisa menerima dirinya tanpa memandang siapa dia yang sebenarnya.
"Hati-hati di jalan ya, Nak Ayden. Tolong jaga Risa dan Lily untuk Ibu," ucap Bu Lidia, sebelum Ayden melajukan mobil.
__ADS_1
"Tentu saja, Bu."
Setelah berpamitan, Ayden dan Risa pun segera meninggalkan rumah sederhana milik Pak Abdi.
"Aku berharap Risa tidak akan berubah sikap terhadap kita setelah berhasil menemukan ayah dan ibu kandungnya nanti. Biar bagaimanapun aku tetap menyayangi Risa sebagaimana anakku sendiri, Yah," tutur Bu Lidia dengan wajah sendu menatap kepergian Ayden dan Risa.
"Ya, aku juga berharap seperti itu, Bu. Setidaknya ia bisa mengingat bagaimana perjuangan kita membesarkan dirinya," sahut Pak Abdi.
Dreeet ... dreeettt!
"Eh, sebentar, Bu!"
Pak Abdi sontak meraih ponselnya dari dalam saku celana setelah mendengar suara dering serta getar yang dikeluarkan oleh benda pipih tersebut.
"Siapa, Yah?" tanya Bu Lidia penasaran.
Pak Abdi menatap layar ponselnya. "Mona."
"Ya, Mona sayang. Ada apa, Nak?"
"Ayah ... hiks!" Mona terisak dan suara tangisan wanita itu terdengar sangat memilukan.
"Mona, kamu kenapa, Nak?" Pak Abdi langsung cemas setelah mendengar suara tangisan anak perempuannya itu.
"Mas Arga, Yah. Mas Arga mengalami kecelakaan dan sekarang ia berada di Rumah Sakit dengan kondisi yang sangat memprihatinkan," ucap Mona di sela isak tangisnya.
"Apa? Ba-bagaimana bisa?" pekik Pak Abdi dengan mata membulat sempurna.
"Kemarilah, Ayah! Aku butuh kalian!" sahut Mona kemudian.
__ADS_1
"Baik-baik, kami akan segera ke sana. Kamu tenang saja ya, Nak. Jangan stress, kasihan bayi kamu."
"Baik, Yah. Aku tunggu kedatangan kalian."
"Ada apa sih, Yah? Jangan buat Ibu takut," ucap Bu Lidia, setelah Pak Abdi memutuskan panggilan Mona. Ia memperhatikan ekspresi Pak Abdi yang tampak ketakutan dan cemas, membuat dirinya pun ikut ketakutan.
"Kita harus segera ke Rumah Sakit, Bu!" jawab Pak Abdi yang bergegas masuk ke dalam rumahnya dan di susul oleh Bu Lidia dari belakang.
"Rumah Sakit? Siapa yang sakit? Mona?" Bu Lidia makin panik.
"Bukan, Bu. Bukan Mona, tapi Arga! Arga mengalami kecelakaan dan sekarang dia dirawat di Rumah Sakit. Kata Mona kondisinya saat ini begitu memprihatinkan. Sebaiknya jangan tanya panjang lebar lagi! Segera bersiap, kita temui merek," titah Pak Abdi.
"Ba-baik, Yah!" jawab Bu Lidia dengan terbata-bata.
Beberapa jam kemudian.
"Mona!" panggil Pak Abdi, setibanya di Rumah Sakit.
"Ayah, Ibu!" pekik Mona sembari berlari kecil menghampiri Ayah dan Ibunya. Ia segera memeluk Pak Abdi kemudian menangis di pelukan lelaki itu.
"Sabar ya, Nak." Pak Abdi mengelus puncak kepala Mona dengan lembut.
"Bagaimana kondisinya, Mona?" tanya Bu Lidia.
"Dia masih tidak sadarkan diri, Bu. Dokter terpaksa mengamputasi salah satu kaki Mas Arga akibat terhimpit bodi mobil dan kondisinya yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mas Arga jika ia tahu bagaimana kondisinya nanti," lirih Mona sambil terisak-isak.
"Ya, Tuhan!" pekik Bu Lidia dengan mata membulat sempurna.
"Yang sabar ya, Nak. Cobaan yang kalian alami saat ini memang benar-benar berat," ucap Pak Abdi dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
...***...