
Satu bulan kemudian.
Pagi hari di kediaman rumah orang tua eva.....
Rumah saat ini sudah sepi, karena hasna dan keluarga kecilnya sudah kembali ke kota dan aris pulangnya selalu malam karena dinas dan akan berangkat pagi sekali.
Eva berhubungan baik dengan sakti, tapi eva lebih dekat dengan raka, karena laki laki pertama yang di kenal eva adalah raka, mungkin eva menjadi berperasaan lebih pada raka, sikap raka yang baik, ramah dan perhatian, membuat eva jatuh hati dan berharap lebih, eva tidak menyadari cinta tulusnya sakti dan keseriusan sakti, eva berfikir kalau eva menjalin hubungan dengan sakti ke jenjang serius, eva harus meninggalkan desa dan mengikuti sakti kemanapun sakti di tugaskan, itu yang gak eva inginkan, eva ingin di desa dan tidak mau meninggalkan desa kembali.
''Rumah kamu udah naik tuh eva, kayanya bakalan cepat tuh jadinya, ayah juga sering datang untuk melihat cara kerjanya dan kerjanya bagus gak asal asalan loh. '' ucap ayah saat eva sedang sarapan.
''Kalau hasilnya bagus dan cepat, eva akan memberikan bonus ke semua pekerja dan gak di wakilkan, pokonya eva ingin selesai semuanya, listrik dan air sumurnya harus udah jalan kan ayah, terus pagar rumahnya, kecuali perabotannya nanti itu urusan eva. '' ucap eva dan ayah mengangguk.
''Gimana hubungan kamu dengan pak sakti eva, dia sepertinya menyukai kamu loh?? '' tanya ayah dan eva langsung kaget.
"Eva dengan abang sakti gak ada hubungan apapun ayah, eva menganggap abang sakti seperti kaka eva sendiri dan gak lebih, lagian eva gak mau kalau harus menjalin hubungan lebih serius dengan abang sakti, dia seorang prajurit abdi negara dan harus siap di tugaskan dimana ajah, kalau eva menikah dengan dia, sudah pasti eva harus ikut kemanapun dia pergi, itu yang eva gak mau ayah, jangan pernah membahas lagi soal laki laki yah, kalau sudah saatnya eva dapat jodoh, pasti eva akan menikah. '' ucap eva dan ayah pun mengerti keinginan eva dan setuju dengan semua yang eva inginkan.
Eva pamit pada ayah nya untuk kembali bertugas, eva menggunakan mobilnya menuju balai kesehatan.
Saat eva keluar dari mobil, sakti langsung menghampirinya dan meminta eva segera melakukan pertolongan pada temannya yang mengalami kecelakaan.
Eva langsung masuk ke UGD dan memeriksa temannya sakti, lukanya serius dan eva langsung mengobatinya dan dalam satu jam, eva sudah selesai menanganinya.
''Teman abang sudah eva tangani, jangan khawatir yah, mungkin harus di rawat dulu, karena hasil medis nya besok akan keluar, tapi sepertinya lukanya gak serius bang jadi santai ajah. '' ucap eva saat keluar ruangan dan sakti menghampirinya.
''Terimakasih eva sudah menolong teman abang, tadi dia kecelakaan dengan abang soalnya. '' ucap sakti dan eva langsung menatap sakti dari atas sampai bawah.
''Abang cuma lecet tangan ajah ko. '' ucap sakti yang mengerti dengan tatapan eva.
''Ayo eva periksa, takutnya malah serius lukanya, buka pakaian dinas abangnya, biar eva lihat lukanya, karena abang gak bisa boong yah, lihat ini robek dan ada darah kering. '' ucap eva dan sakti langsung patuh dan mengikuti eva ke ruang tindakan.
''Ini bukan lecet tapi parah, bisa bisa infeksi loh abang kalau di biarkan. '' ucap eva sambil mengobati lukanya sakti.
''Luka ini gak seberapa eva, luka hati tuuh yang paling sakit menurut abang. '' ucap sakti dan membuat eva langsung menatap sakti.
__ADS_1
''Siapa yang membuat sakit di hati abang, eva gak bisa ngobatinya karena eva bukan spesialis luka dalam. '' jawab eva dan sakti langsung tertawa dan mengacak rambut eva.
''Kamu itu lucu sekali eva. '' ucap sakti dan eva cemberut.
''Kenapa tertawain eva, jahat banget sih abang, nih rasain luka yang ga seberapa. '' ucap eva sambil menekan nekan luka sakti.
''Sakit sakit eva stop, jahat banget sih. '' ucap sakti kesakitan.
''Abang kan bilang gak sakit, kenapa bilang sakit itu barusan. '' ucap eva dan sakti hanya tersenyum.
''Eva....'' panggil seseorang pada eva di pintu dan eva juga sakti langsung mengarahkan pandangan pada asal suara.
''Mas raka.... '' jawab eva sambil menghampiri raka dan meninggalkan sakti sendiri yang melongo karena di tinggal eva.
Eva langsung meminta suster melanjutkan pengobatan sakti, karena eva harus membantu menangani naina yang kecelakaan dan gak mau di tindak oleh siapapun dan hanya ingin oleh eva.
Eva langsung memeriksa keadaan naina dan hasilnya naina hanya terkilir tangannya dan harus di sanggah agar tidak menggantung, suster mengobati luka naina yang lecet lecet sedangkan eva fokus dengan lengan naina.
"Ingat jangan sampai ini bergeser dan terlepas dulu selama tiga hari yah naina, nanti kamu bisa kembali lagi kesini untuk di buka perban dan penyangganya, biarkan infusnya habis dulu, karena infus ini udah di suntikan antibiotik agar kamu gak usan konsumsi obat yang di minum lagi. '' ucap eva dan naina mengangguk.
''Naina gak percaya dengan penangana dokter lain, cuma dokter eva yang bagus penanganannya menurut naina, lihat luka di betis naina, ini sembuh karena tindakan dan pengobatan dokter eva mamah, jadi jangan bicara sembarangan. '' jawab naina kesal.
Mamah nya naina langsung memandang sinis pada eva dan eva hanya tersenyum dan mengangguk membalasnya.
''Raka ayo urus administrasinya dan bawa adik kamu pulang, udah selesai tuh pengobatannya. '' ucap mamahnya naina sambil keluar ruangan eva.
"Kak eva, maafkan mamahnya naina yah, mamah memang begitu kak, sangat sombong sekali. '' ucap naina dan eva hanya tersenyum dan mengerti.
''Tunggu lima menit lagi untuk menghabiskan cairan infusnya. '' ucap eva saat raka menghampirinya.
''Makasih yah eva untuk pertolongannya dan maafkan atas sikap mamah saya. '' ucap raka dan eva hanya mengangguk.
''Nanti suster yang akan membantu melepaskan infusnya dan permisi, saya harus kembali untuk bertugas, semoga naina cepat sembuh. '' ucap eva.
__ADS_1
Eva meninggalkan ruangan dan berjalan menuju ruang pemeriksaan, karena eva akan bertugas hari ini.
''Kak eva baik sekali kak, apa kaka gak ada hati ke kak eva, kak eva sering menanyakan kaka loh. '' ucap naina.
''Jangan ngaco kamu, kamu tahu kan kalau kaka masih menunggu kepulangan riana yang sekolah di paris, kaka juga gak bisa sembarangan memberikan hati. '' ucap raka.
''Kak riana belum jelas loh dia, kenapa kaka begitu baik dan perhatian ke dokter eva kalau kaka gak ada hati ke dia?? '' tanya naina.
''Kamu masih kecil dan gak akan mengerti, ayo pulang sekarang, itu infus nya sudah di lepas, nanti mamah keburu marah lagi. '' jawab raka dan naina langsung cemberut.
Eva langsung membantu persalinan pasien yang akan melahirkan dan sangat kritis, karena eva bisa menindaknya dan tidak usah rujukan atau operasi.
Bidan dan dokter kandungan sudah angkat tangan dan meminta untuk merujuk ke rumah sakit kota.
Eva dengan santai dan sangat tenang memeriksa dan melakukan tindakan, eva menyuntikan obatnya dan hanya menunggu satu jam, ibu yang akan melahirkan langsung melahirkan anaknya dalam keadaan sehat, bayinya di urus oleh suster dan bidan, sedangkan eva mengurus ibunya karena ibunya sempat drop dan tak sadarkan diri karena kelelahan.
Beberapa menit kemudian ibu itu membuka matanya dan eva langsung bernafas lega, eva memasangkan infusan dan menyuntikan obat antibiotik ke infusannya.
''Dokter eva memang hebat, saya padahal udah angkat tangan tapi dia berani bertindak, baru kali ini dokter seberani ini. '' ucap bidan saat eva meninggalkan ruang persalinan dan meminta suster memindahkan ibu dan bayi ke ruangan.
''Kenapa melamun, gak baik loh seorang wanita, cantik, pintar dan belum menikah, melamun sendiri dan tatapannya sangat kosong. '' ucap sakti, saat eva sedang duduk melamun dan eva langsung cemberut.
"Abang ngapain disini, pulang sana ganggu ajah deh, eva lagi pengen sendiri. '' ucap eva dan sakti langsung meminta maaf dan meninggalkan eva.
''Mamahnya mas raka begitu sombong dan dia sangat tidak menghargai seorang dokter. '' ucap eva.
.
.
.
.
__ADS_1
.
............